04-April

Cara Damai Meredam Konflik dengan Rekan Kerja

Bergaul setiap hari dan bekerja bersama sangat mungkin menimbulkan gesekan antar rekan kerja. Bila dibiarkan, konflik di kantor bisa memengaruhi pekerjaan. Atasi dengan bijak agar hubungan kerja lebih nyaman dan pekerjaan lancar.

Pemicu pertengkaran di tempat kerja umumnya akibat perbedaan sudut pandang dan sama-sama tidak mau mengalah. Namun tidak menutup kemungkinan ada penyebab lain, seperti permasalahan dengan pelanggan, persaingan, pembagian kerja dalam tim, atau salah paham.

Terkadang, penyelesaian konflik dengan rekan kerja jauh lebih susah dibandingkan penyelesaian konflik dengan klien. Ini karena konflik dengan rekan kerja bisa lebih dominan melibatkan emosi. Ditambah lagi seorang karyawan harus bertemu dengan rekan kerja yang berkonflik setiap hari. Jika permasalahan belum berakhir, pertemuan ini bisa membuat konflik bertambah runyam.

Agar konflik tak berujung dengan “perceraian” kerja, redamkan dengan cara-cara damai berikut ini.

Profesional

Sebenarnya, risiko konflik bisa diminimalkan asal tiap karyawan bersikap profesional dalam bekerja. Jika karyawan bersikap profesional, dalam menghadapi masalah, ia akan mencari pokok permasalahan atau pemicunya tanpa menyalahkan orang lain. Seseorang yang bersikap profesional juga akan cenderung lebih memikirkan solusi atau jalan keluar, bukan mencari kambing hitam.

Sikap profesional juga membuat seorang karyawan mengedepankan logika dibandingkan emosi. Karyawan juga cenderung memisahkan urusan pribadi dan urusan pekerjaan sehingga lebih objektif. Begitu pula ketika karyawan berkonflik dengan rekan kerja, ia akan mencari jalan keluar terbaik dan bukan memilih berbantah-bantahan atau debat kusir tanpa ujung. Sikap profesional juga akan mendorong seseorang untuk memikirkan perkembangan pada pekerjaan dan tidak ingin berlarut-larut dalam masalah. Inilah yang membuat sikap profesional bisa mengurangi risiko konflik dan mendukung penyelesaian konflik.

Komunikasi efektif

Jika seorang karyawan berkonflik dengan rekan kerja, cara penyelesaiannya tentu bukan dengan membicarakannya di belakang. Ini justru memperkeruh relasi kerja. Sebaliknya, ajaklah rekan kerja yang berkonflik untuk berbicara baik-baik dengan mencari waktu yang tepat.

Ketika meluangkan waktu untuk berbicara, sangat mungkin rekan kerja melontarkan emosi negatif. Misalnya, marah-marah, berteriak, membentak, menyalahkan atau menuduh, mengejek, menghina, atau merendahkan. Mendengar perlakuan kasar semacam ini, seorang karyawan tentu mudah terpancing emosi dan ingin membalas. Namun, membalas perlakuan kasar dengan perlakuan kasar justru membuat konflik semakin parah dan permasalahan semakin besar.

Untuk menghadapi orang yang berkata-kata kasar, Anda perlu menyingkirkan ego sendiri agar mampu menahan emosi. Tetaplah mendengarkan dan tangkap poin yang disampaikan rekan kerja yang berkonflik meskipun kata-katanya terdengar kejam. Kuasailah diri sendiri dan ciptakan kondisi tenang dalam pikiran dan hati. Rekan kerja yang berkata-kata kasar pun biasanya akan lelah setelah melontarkan emosi dan akan merasakan aura ketenangan yang Anda pancarkan.

Setelah rekan kerja melontarkan emosi negatifnya dan kondisi menjadi tenang, berbicaralah dengan nada netral dan biasa, seolah tidak terjadi apa-apa. Intinya, janganlah mudah terpengaruh sikap orang lain terhadap Anda. Citra diri akan positif bila Anda mampu mengendalikan diri dalam berbagai kondisi dan situasi.

Cari penengah

Ada tipe karyawan yang bersikap semaunya sendiri, tidak mau mendengarkan orang lain, merasa dirinya paling benar, atau dipenuhi iri hati dan kebencian. Tipe karyawan semacam ini akan sulit berdamai jika sedang berkonflik. Tipe karyawan semacam ini juga akan sulit melupakan masalah dan cenderung pendendam.

Siasatnya, Anda memerlukan pihak lain yang berlaku sebagai penengah. Contohnya, atasan di kantor, senior yang mampu bersikap netral, ataupun pihak lain yang mampu bersikap objektif.

Berkonflik dengan rekan kerja yang berperilaku negatif pun bisa berlangsung lama. Penyelesaiannya juga bisa melelahkan. Diskusi dengan pihak penengah yang netral agar konflik terselesaikan bisa memerlukan waktu lebih dari sekali.

Namun, jalanilah proses ini. Janganlah terpengaruh oleh sikap orang lain yang buruk terhadap Anda. Daripada memikirkan sikap orang lain yang menyakitkan, lebih baik, berfokuslah pada pekerjaan yang Anda tangani. [KUL]

 

Foto ilustrasi: Istimewa

Follow Instagram @ETALASEBINTARO

Comments

comments