ilustrasi2903

4 Tantangan Sekolah di Luar Negeri dan Cara Menaklukkannya

Menetap di negara asing untuk menuntut ilmu, apalagi sendirian, adalah hal yang berat. Bisa lebih berat lagi bila Anda tak dapat beradaptasi. Ketahui apa saja tantangan terbesar untuk beradaptasi agar masa belajar dapat lebih menyenangkan.

Saat kuliah di luar negeri, tantangan yang dihadapi bukanlah sekadar urusan studi. Kadang justru tantangan terbesarnya adalah menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar tempat tinggal dan kampus.

Perbedaan budaya, bahasa, dan kebiasaan dapat menyebabkan seseorang gegar budaya. Merasa disorientasi, kebingungan, serta mengalami perubahan emosi. Keadaan tersebut tentu akan memengaruhi mulusnya jalan Anda untuk meraih gelar di sana.

Supaya proses adaptasi Anda lebih mudah, kenali empat tantangan terbesar yang umumnya dialami seseorang ketika berada di negara asing. Dengan mengenali tantangan-tantangan tersebut, Anda bisa mempersiapkan diri dengan lebih baik. Sehingga bisa menaklukkan segala tantangan.

Bahasa lokal

Ketika berniat sekolah di luar negeri, salah satu bekal yang perlu dicukupi adalah kemampuan berbahasa asing. Dengan menguasai bahasa setempat, Anda tidak akan kesulitan ketika dihadapkan pada dunia perkuliahan atau kehidupan sehari-hari ketika berinteraksi dengan masyarakat lokal. Misalnya, ketika membeli bahan makanan di toko atau pasar.

Selain bahasa umum di negara tujuan, bahasa “gaul” atau bahasa plesetan serta ungkapan-ungkapan juga perlu dipelajari. Ini semua bisa Anda dapatkan dengan lebih banyak bergaul dengan masyarakat setempat dan di lingkungan pergaulan. Bahasa pergaulan sehari-hari, dan jika ada bahasa sopan untuk orangtua, akan memudahkan penyesuaian diri.

Iklim

Jika Anda kuliah di negara-negara Asia Tenggara dengan iklim tropis, masalah perbedaan suhu dan cuaca bukanlah masalah. Namun, ketika tinggal di negara empat musim, cobalah menyesuaikan diri dengan kondisi sekitar. Tidak hanya suhu yang mencapai di bawah 0 derajat celsius saat musim dingin, tetapi juga suhu panas yang ekstrem hingga 40 derajat celsius pada musim panas.

Iklim juga terkait dengan kelembapan. Jika Anda terbiasa tinggal di negara tropis dengan kelembapan tinggi, tinggal di negara empat musim dengan kondisi iklim kering hampir sepanjang tahun jadi tantangan. Masalah seperti bibir pecah-pecah, kulit kering, dan gatal-gatal serta terasa perih bisa saja dialami.

Ika (33), warganegara Indonesia yang sempat menempuh studi pascasarjana di Australia, mengaku tidak tahan ketika musim panas. Ia kesulitan belajar karena suhu udara sangat panas, lebih panas dibandingkan dengan di Indonesia. Masalah kulit kering, pecah-pecah, dan gatal juga kerap dia alami. Ika bahkan mencoba berbagai produk pelembap kulit tubuh dan wajah hingga berlapis-lapis agar masalah kulit tidak timbul lagi.

Kebiasaan dan etika setempat

Kebiasaan masyarakat setempat tak kalah penting dari peraturan yang ditetapkan pemerintah negara tersebut. Meskipun tidak ada peraturan tertulis, kebiasaan atau etika setempat bisa menimbulkan masalah jika tidak diketahui pelajar dari Indonesia. Apalagi, kebiasaan masyarakat setempat di satu negara berbeda dengan negara lainnya.

Soal kebiasaan masyarakat setempat memang tidak boleh dipandang sebelah mata. Irma (33), yang sempat kuliah di Rusia, mengaku sempat dimarahi dan diusir penjual buah-buahan karena sibuk memilih apel dan jeruk. Ternyata, sebagai pembeli, Irma tidak boleh menyentuh barang dagangan milik penjual. Ia hanya boleh menunjuk barang-barang yang diinginkan dan penjual akan mengambilkannya untuk Irma. Untuk itu, sebaiknya rajin-rajinlah memperhatikan kebiasaan masyarakat sehari-hari.

Makanan

Terkadang perbedaan jenis makanan juga bisa menimbulkan masalah. Lidah Indonesia yang telah terbiasa mencicipi makanan berbumbu mungkin akan merasa tidak nyaman jika menghadapi menu-menu yang minim bumbu. Belum lagi jika di negara terkait banyak masakan yang tidak halal bagi muslim.
Sebenarnya, hal ini bisa diatasi. Anda bisa memasak makanan sendiri. Atau membawa bumbu dari Indonesia serta membeli bumbu di pasaran yang mirip dengan bumbu-bumbu khas Indonesia. Soal bahan makanan yang berbeda, Anda memang perlu membiasakannya. [KUL]

 

Ilustrasi: Etalase Bintaro/YonK

Follow Instagram @ETALASEBINTARO

Comments

comments