foto1

Belajar Arsitektur dari Alam

Arsitektur bukan hanya soal seni merancang sebuah rumah berdesain megah. Melainkan, wujud nyata dari bagaimana manusia memahami alamnya. Sebuah pameran arsitektur yang digelar di Bintaro memperluas wawasan kita tentang hal tersebut.

Interaksi antara manusia dan alam dalam bentuk bangunan terlihat nyata ketika memasuki ruang 35, sebuah ruang di kafe Kopimanyar, Bintaro. Di situlah, pada Minggu (5/3), berlangsung pembukaan pameran Arsitektur Hijau. Pada pameran ini ditampilkan rekam jejak kegiatan Arsitektur Hijau dalam bentuk maket, foto, deskripsi, dan instalasi. Para pengunjung kafe bisa melihat foto-foto dan maket tersebut hingga 1 April nanti.

Beberapa generasi arsitektur hijau.

“Arsitektur Hijau adalah organisasi wadah minat di Universitas Katolik Parahyangan, Bandung, jurusan arsitektur,” terang Spain Louis Senduk, ketua Arsitektur Hijau periode 2016-2017. Organisasi tersebut didirikan 32 tahun lalu oleh sekelompok mahasiswa yang memiliki ketertarikan yang sama pada obyek arsitektur vernakular Indonesia.

Memaknai alam lewat bangunan

Sejatinya, membangun rumah adalah reaksi manusia dalam bertahan hidup. Bahkan tanpa pendidikan formal atau ilmu arsitektural, mereka dapat membangun rumah dengan belajar dari alamnya. Mereka menggunakan bahan-bahan yang disediakan oleh alam di sekitar mereka untuk membuat bangunan. Karena tidak ada yang bisa dilakukan manusia terhadap alamnya, kecuali mematuhinya. Itulah bangunan yang dikenal dengan sebutan arsitektur vernakular.

Arsitektur vernakular yang banyak terdapat di berbagai daerah di Indonesia inilah yang direkam lalu ditampilkan pada pameran tersebut. Salah satunya adalah maket rumah penduduk Nage, Nusa Tenggara Timur. Ini merupakan bentuk arsitektur vernakular yang ditemukan anggota Arsitektur Hijau pada ekspedisi tahun 2004 dan 2008.

Selain rumah penduduk Nage, juga terdapat maket rumah penduduk Ensaid Panjang Kalimantan Barat serta Kamanasa dan Uarau, Timor, Nusa Tenggara Timur. Ketiga maket tersebut dapat dibuka-buka seperti puzzle, sehingga pengunjung bisa dengan jelas melihat bentuk ruangan-ruangan di dalam bangunan tersebut.

Maket rumah penduduk Nage.

Menurut Amirul Farras, Ketua Balitbang Arsitektur Hijau, bangunan-bangunan masyarakat asli Indonesia rata-rata memiliki beberapa persamaan karena persamaan iklim, seperti proporsi atap yang lebih dominan. “Ini supaya hujan lebih mudah turun,” ujarnya. Atap yang dominan ini membuat badan bangunan menjadi lebih pendek.

Selain itu, menurut Amirul, pembagian ruang tidak kompleks seperti rumah di perkotaan. “Tidak ada ruang makan, tidur, dan lain-lain. Ruangan mereka cenderung terbuka.” Sehingga, semua anggota keluarga bisa dengan mudah berinteraksi.

Lebih dekat dengan masyarakat

Sayang memang, bila kekayaan arsitektur nusantara ini hanya tersimpan begitu saja. Padahal arsitektur asli Indonesia ini bisa menjadi inspirasi dalam merancang bangunan saat ini. “Arsitektur vernakular membuat kita mengenal lebih jauh diri kita. Bagaimana kita bereaksi terhadap alam. Mungkin memang saat ini, di sekitar kita, banyak perubahan pada bahan. Namun pendekatan vernakular membuat kita bisa memanfaatkan material yang ada di sekitar kita,” jelas Indra K. J, pencipta logo Arsitektur Hijau.

Deskripsi dan instalasi daerah ekspedisi Arsitektur Hijau.

Lebih jauh, Devin Khan, ketua pameran menambahkan, tujuan diadakannya pameran ini adalah untuk membangun rasa cinta akan budaya Indonesia melalui ragam arsitektur dari berbagai daerah di Indonesia. Dan menjadikan konteks budaya Indonesia sebagai kesadaran awal dalam berarsitektur.

Konsep arsitektur vernakular mungkin masih terdengar asing di telinga Anda, namun dengan melangkahkan kaki sejenak di ruang pameran dan melihat berbagai foto serta maket rumah tersebut, setidaknya Anda bisa menikmati Indonesia dari sudut yang berbeda.

“Kami ingin masyarakat melihat arsitektur dengan kacamata yang lebih santai. Dengan melihat dan membaca, masyarakat bisa lebih mengerti. Pameran ini membuat arsip-arsip Arsitektur Hijau bisa dilihat lebih banyak masyarakat,” pungkas Andra Matin, pemilik Kopimanyar. [YBI]

 

Foto-foto: Etalase Bintaro/Yudhanti

Follow Instagram @ETALASEBINTARO

Comments

comments