person-1821412_1280

Pemicu Anak Jadi Pem-Bully

Tak hanya korban bullying yang akan bermasalah, anak yang mem-bully pun sebenarnya bermasalah. Sebelum terjadi, kenali apa saja penyebab anak menjadi pem-bully.

Bullying atau perundungan menjadi perhatian serius karena akibatnya bisa jangka panjang. Bahkan memengaruhi masa depan anak. Sesungguhnya, selain korban bullying, anak yang melakukan perundungan juga memiliki masalah psikologis. Oleh sebab itu memerlukan perhatian serius juga.

Di rumah, anak yang menjadi pelaku bullying mungkin terlihat sebagai anak yang baik, sopan, penurut, dan tidak neko-neko. Bahkan mungkin tak berdaya. Namun, ketika bergaul dengan teman-teman bermain di rumah atau teman di sekolah, bisa menjadi pribadi yang berbeda.

Terdapat sejumlah aspek atau pemicu yang membuat seorang anak melakukan kekerasan pada anak lainnya. Coba Anda cermati. Sejumlah aspek ini bermula dari keluarga.

Pertama adalah kurangnya perhatian dari orang-orang terdekat seperti keluarga. Anak yang kerap diabaikan orangtua atau kurang diperhatikan cenderung akan mencari perhatian di luar lingkungan rumah, seperti dalam pertemanan dan di sekolah. Anak akan mencari perhatian mulai dari menjahili anak lainnya, mengganggu, dan melakukan kekerasan pada anak lainnya agar mendapat perhatian dan ditakuti. Dalam kondisi ini, anak tidak menyadari jika dirinya salah, karena dalam benaknya, anak telah mendapatkan perhatian, meskipun dengan jalan kekerasan.

Kedua, kekerasan di dalam rumah. Kekerasan fisik dan kekerasan verbal yang diterima anak di dalam rumah membuat anak merasa dendam karena tidak bisa melawan atau membalas. Akibatnya, anak mencari pelampiasan di tempat lain, yaitu lingkungan pergaulan dengan teman-temannya. Di dalam keluarga yang memiliki riwayat kekerasan, posisi anak sangat lemah atau inferior. Namun, begitu memasuki lingkungan pergaulan, anak merasa harus menjadi lebih kuat dan berkuasa atau superior.

Ketiga, lagi-lagi pemicu bullying berasal dari rumah akibat suasana permusuhan. Jika hubungan antara ayah-ibu tidak rukun atau hubungan anak dengan saudaranya diwarnai sikap saling iri, dendam, dan saling memusuhi, anak dapat terpengaruh dan membawanya dalam lingkungan pergaulan. Dalam memandang orang lain, anak bisa bersikap memusuhi tanpa tahu sebab pastinya. Anak menjadi mudah berpikiran negatif dan lebih mudah melakukan kekerasan pada teman-temannya karena menganggap mereka sebagai ancaman.

Segera benahi

Jika Anda menyadari lingkungan keluarga secara psikologis berpengaruh negatif pada anak, sebaiknya segera benahi. Perbaikilah hubungan antar-anggota keluarga dengan cara memulainya dari sikap saling memaafkan dan melupakan kesalahan untuk saling memperbaiki diri.

Sebagai orangtua, Anda perlu menciptakan lingkungan yang aman, nyaman, terbuka, dan penuh kasih demi perkembangan psikologis anak. Ajarkan dan berikan contoh pada anak tentang beragam sikap positif yang dapat membangun karakter.

Langkah-langkah ini memang tidak mudah. Namun, cobalah memikirkan tentang masa depan anak. Janganlah membiarkan anak menjadi pelaku perundungan terhadap anak lain, baik untuk saat ini ataupun untuk masa yang akan datang.

Apakah media massa seperti televisi dan media sosial seperti Youtube berpengaruh? Jawabnya, ya. Namun, hal ini seharusnya bisa ditangkal sejak awal dengan membatasi akses anak pada siaran TV atau saluran video yang mengarah pada kekerasan. [KUL]

 

Foto ilustrasi: Istimewa

Follow Instagram @ETALASEBINTARO

Comments

comments