foto5-2

Sajian Ikonik Saat Sin Cia

Perayaan Tahun Baru Imlek (sering disebut Sin Cia atau dalam bahasa Mandarin disebut “xin nian”) mendatangkan suka cita. Kemeriahannya identik dengan lampion merah menyala, pohon jeruk dengan buah bergelantungan, lengkap dengan acara kumpul keluarga. Tentu yang juga menarik adalah acara makan-makannya. Hhmm, mari kita simak beberapa sajian khas saat Imlek.

Acara makan bersama keluarga besar Daniel Prajitno di Serpong.

Acara makan bersama keluarga besar Daniel Prajitno di Serpong.

Ada sajian yang biasanya selalu hadir dalam perayaan Tahun Baru Imlek. Salah satu yang paling ikonik yakni kue keranjang atau nian gao. Kue ini sangat populer dalam perayaan Tahun Baru Imlek. Bahkan, masyarakat Indonesia yang bukan keturunan Tionghoa pun mengenal atau setidaknya banyak yang pernah mencicipi kue ini.

Dikenal dengan bentuknya yang khas, bundar, kue ini konon diproses dalam waktu lebih dari 10 jam. Mengapa disebut kue keranjang? Pertanyaan ini banyak terdengar. Asal mulanya adalah proses pencetakan kue yang menggunakan wadah yang serupa keranjang.

Keluarga Petrus Prajatno.

Keluarga Petrus Prajatno.

Namun, jika dilihat dari bahan-bahannya, kue keranjang mirip dengan dodol di daerah Jawa. Kue ini terbuat dari tepung beras ketan, gula, air, dan sedikit garam yang dimasak di atas api yang menyala terus-menerus hingga gula menjadi cair dan menyatu dengan adonan. Tidak mengherankan bila kue keranjang disebut juga dodol China. Rasanya yang manis dan teksturnya yang lengket memang mengingatkan pada dodol.

Makna simbolik

Ada makna tersendiri di balik bentuk, nama, dan cita rasa kue keranjang. Sebutan “nian gao” diyakini melambangkan kesejahteraan. Penataan kue keranjang yang meninggi melambangkan peningkatan untuk tahun selanjutnya. Bentuk kue keranjang yang bulat dan lumayan keras adalah simbol persatuan, solidaritas, dan keutuhan. Teksturnya yang lengket diibaratkan lekatnya hubungan kekeluargaan atau persaudaraan. Sementara itu, rasanya yang manis menjadi perlambang manisnya hidup.

Ayam kodok.

Ayam kodok.

Kue keranjang biasanya dipotong-potong dan disantap langsung. Jika kurang suka pada rasanya yang keras, sebagian orang lebih suka menggorengnya dan menikmatinya selagi hangat. Sebelum digoreng, ada yang mencelupkan potongan kue keranjang ke dalam telur kocok terlebih dulu. Cara ini membuat cita rasanya lebih gurih.

Di pasaran, menjelang perayaan Imlek, kue keranjang mudah ditemukan. Harganya bervariasi, tergantung dari bahan, kualitas, rasa, dan proses pembuatannya.

Sup hipiauw (sup perut ikan).

Sup hipiauw (sup perut ikan).

Sajian khas lainnya

Sebenarnya tidak hanya kue keranjang. Ada sajian lain seperti masakan ikan bandeng, “Masakan ikan bandeng ini melambangkan umur panjang,” tutur Rachel (49), warga Serpong saat berkumpul bersama keluarga besar merayakan Tahun Baru Imlek.

Rebung.

Rebung.

Selain itu, ada pula daging ayam, telur yang direbus dalam air teh, dan teripang atau haisom. Citra (54), seorang warga Jakarta keturunan Tionghoa menuturkan, harga haisom biasanya melangit menjelang perayaan Imlek, hingga mencapai jutaan rupiah. Hal ini mungkin yang membuat haisom masih kalah populer dengan makanan khas perayaan Imlek lainnya.

Menu-menu khas Imlek lain adalah mie goreng, sohun goreng, cap cay goreng, ayam kodok (daging ayam utuh diisi daging cincang dan dipanggang), ayam chasiu, daging gulung galantin, sup hipiauw (sup perut ikan), sate, rebung, dan masih ada lagi yang lainnya.

Sate.

Sate.

Buah jeruk yang berwarna kuning cerah atau bahkan hampir oranye kerap pula ditemukan saat Imlek. Di Tiongkok sendiri, buah ini juga melimpah. Tidak hanya berperan sebagai buah pendamping sajian utama, buah jeruk juga melambangkan rezeki yang melimpah atau kemakmuran.

Gong xi… gong xi. [KUL/PRS]

 

Foto-foto: Etalase Bintaro/Prasto

Follow Instagram @ETALASEBINTARO

Comments

comments