foto2401

Ciri Karyawan yang Jadi Duri Perusahaan

Karyawan yang berperangai buruk bak duri dalam daging. Menyakiti sedikit demi sedikit. Kenali cirinya agar Anda bisa mengambil langkah terbaik.

Kehadiran karyawan dengan perilaku buruk tidak hanya kurang profesional, tetapi juga mengganggu kinerja. Cepat atau lambat, perusahaan biasanya akan mengeluarkan atau memindahkan karyawan jenis ini bila tidak mau berubah.

Jika Anda tidak ingin masuk ke dalam kategori karyawan yang menjadi duri perusahaan, sebaiknya hindari perilaku berikut ini.

Pertama, tidak disiplin. Keterlambatan masuk kerja mungkin telah menjadi jamak di sejumlah kantor di Indonesia. Namun bila seseorang telat masuk kantor hampir setiap hari, ini yang membuat predikat buruk melekat.

Tiap perusahaan atau kantor biasanya mempunyai toleransi keterlambatan tersendiri. Misalnya, toleransi keterlambatan 5 atau 10 menit. Meskipun demikian, bukan berarti Anda bisa memanfaatkan toleransi keterlambatan ini setiap hari. Lebih-lebih bila kerap terlambat masuk kerja di atas jam toleransi keterlambatan, teguran dari atasan sangat mungkin didapat. Selain menurunkan produktivitas, keterlambatan juga melambangkan kurangnya profesionalitas dalam bekerja.

Kedua, membolos. Ini lebih parah dibanding sekadar terlambat. Jika Anda mengalami halangan di jalan, misalnya ban mobil bocor atau tiba-tiba harus mengantar anggota keluarga yang mengalami sakit parah, sebaiknya kabarkan pada atasan. Mohon izinlah untuk cuti dadakan tetapi bukan membolos. Jika ketahuan sampai membolos, penilaian kinerja juga akan buruk.

Hal ini menjadi pengecualian jika Anda bekerja dengan jam kerja yang fleksibel dan tidak menuntut kehadiran di kantor. Anda bisa bekerja dari mana saja asalkan tidak melewati tenggat, ini bisa dilakukan. Namun, pembolosan juga bisa terjadi jika seseorang mangkir dari rapat atau pertemuan dengan klien tanpa kabar.

Ketiga, melakukan kesalahan yang berulang. Tiap bagian atau divisi biasanya memiliki alur kerja tersendiri. Kesalahan banyak dilakukan oleh karyawan baru. Namun, jika karyawan bukan tergolong baru tetapi masih melakukan kesalahan yang serupa dan berulang-ulang, bisa jadi, ia tidak cocok di bagian tersebut. Solusinya tidak selalu dengan pemecatan. Karyawan bisa dipindahkan ke divisi lain yang sesuai dengan kemampuannya.

Keempat, berlaku tidak jujur. Perusahaan paling anti dengan sikap yang tidak jujur. Tidak hanya sekadar dalam pengerjaan tugas, ketidakjujuran dalam pengelolaan keuangan akan membuat perusahaan memecat karyawan. Termasuk dalam sikap tidak jujur adalah menyabotase pihak lain

Kelima, penjilat atau penusuk dari belakang. Menghalalkan segala cara demi meraih posisi yang lebih tinggi tidak hanya dibenci karyawan lain tetapi juga merugikan perusahaan. Efeknya adalah karyawan yang kurang kompeten menempati posisi dengan wewenang lebih. Hal ini akan merugikan perusahaan karena pengambilan kebijakan bisa tidak tepat. Karakter karyawan ini biasanya juga ditandai dengan sikap suka melempar tanggung jawab dan mengambinghitamkan pihak lain.

Penanganan karyawan yang dianggap bermasalah tidak selalu melalui pemecatan. Bisa juga dengan teguran dari atasan atau pihak SDM. Tetapi jika kesalahan karyawan terlampau parah dan tidak bisa ditoleransi, pemutusan hubungan kerja baru menjadi jalan terakhir. [KUL]

 

Foto ilustrasi: Etalase Bintaro/Dok EBIN

Follow Instagram @ETALASEBINTARO

Comments

comments