ilustrasi1001

Memandang PHK dari Berbagai Sisi

Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) merupakan tindakan yang memberatkan semua pihak. Sebelum mengutuk pihak tertentu, mari kita lihat PHK dari berbagai sudut pandang.

Bagi sebagian besar karyawan, kalimat “You’re fired!” atau “kamu dipecat” ibarat skak mat dalam dunia karier. Ketika mengalami PHK, karyawan otomatis akan kehilangan pekerjaan. Aliran penghasilan bulanan pun terputus. Belum lagi stigma orang-orang di sekitar yang menganggap orang yang mengalami PHK kinerjanya kurang baik. Itu sebabnya, banyak pihak menganggap PHK hanya akan memberatkan salah satu pihak, yaitu karyawan yang mengalami PHK.

Benarkah demikian? Apakah perusahaan merasa senang dengan memecat karyawannya? Tentu saja perusahaan umumnya memiliki alasan tersendiri ketika melakukan PHK. Bila PHK terjadi secara massal, ini tandanya gerak perusahaan mengalami tren penurunan. Pengeluaran lebih besar dibandingkan pemasukan, jumlah karyawan terlalu banyak tetapi sedikit penugasan, persaingan, dan kondisi perusahaan yang mendekati kebangkrutan adalah alasan-alasan umum PHK.

Ada pula istilah pemecatan. Sebenarnya pemecatan dan PHK serupa, namun pemecatan memiliki tekanan negatif. Pemecatan biasanya disebabkan oleh kesalahan fatal yang dilakukan karyawan. Contohnya, karyawan membocorkan rahasia perusahaan ke perusahaan kompetitor, karyawan menyalahgunakan fasilitas kantor yang menyebabkan kerugian perusahaan, karyawan mencuri peralatan atau perlengkapan kantor, serta karyawan menyelewengkan dana perusahaan. Karyawan yang dianggap “duri” bagi perusahaan, pastilah akan dipecat.

Perusahaan pun tidak bisa semena-mena memecat karyawannya. Biasanya, karyawan yang melakukan kesalahan akan diberikan surat peringatan hingga tiga kali. Namun, ini tidak berlaku jika kesalahan karyawan terbilang fatal bagi perusahaan. Endah (40), karyawan swasta di Jakarta mengaku, perusahaan tempatnya bekerja akhirnya memecat salah satu karyawan yang kedapatan menyalahgunakan uang perusahaan dalam jumlah besar.

Bagi perusahaan, memecat karyawannya juga merupakan hal yang cukup berat. Karyawan adalah salah satu aset perusahaan. Hilangnya satu karyawan atau lebih akibat PHK atau pemecatan, berarti perusahaan kehilangan sebagian asetnya. Untuk mendapatkan karyawan pengganti, prosesnya pun panjang dan tidak mudah. Perlu beberapa tahapan, mulai dari pemasangan iklan lowongan hingga perekrutan dan training.

Pemecatan atau PHK juga tidak selalu mudah bagi karyawan yang berada di bagian Sumber Daya Manusia (SDM) atau HRD. Karena merekalah “algojo”  dari perusahaan. Wati (33), manajer SDM di sebuah media nasional di Jakarta mengaku, hal yang paling sulit dilakukan adalah memberikan surat pemecatan pada karyawan. Wati mengatakan, ia membutuhkan waktu khusus untuk menguatkan diri sehari sebelum pemberian surat pemecatan atau PHK.

Memang, keputusan pemecatan atau PHK tidak hanya berada di tangan SDM, tetapi para petinggi perusahaan. Namun, pihak SDM adalah “garda depan” dalam proses pemecatan atau PHK. Semua reaksi dan emosi seseorang yang mengalami PHK atau pemecatan, umumnya ditumpahkan dahulu kepada pihak SDM.

PHK memang tidak mudah bagi semua pihak, baik karyawan yang di-PHK, rekan kerja karyawan tersebut, perusahaan, maupun karyawan bagian SDM. Namun tak sedikit mantan karyawan yang jadi lebih sukses setelah mengalami PHK. Jadi, meskipun memiliki sisi negatif, PHK bisa dijadikan sebuah jendela untuk melihat peluang yang lebih besar. Tinggal bagaimana pihak-pihak yang terkait menyikapinya. [KUL]

 

Ilustrasi: Etalase Bintaro/YonK

Follow Instagram @ETALASEBINTARO

Comments

comments