dana kesehatan

Pentingnya Menyisihkan Anggaran untuk Kesehatan

Asuransi kesehatan atau BPJS saja bisa jadi tak dapat mencukupi biaya perawatan ketika Anda sakit. Oleh karena itu, siapkan strategi untuk mengelola dana kesehatan.

Selama ini, Anda tidak mengalokasikan dana khusus untuk kesehatan karena berpikir, toh, Anda sudah memiliki asuransi kesehatan dan BPJS. Ya, memang benar, strategi pembiayaan untuk masa sakit bisa dengan asuransi kesehatan atau BPJS.

Namun biaya kesehatan bukan hanya sekadar pembiayaan rawat jalan, rawat inap, obat-obatan, atau pemeriksaan laboratorium. Ada hal-hal tertentu yang tidak bisa atau sulit diklaim dengan BPJS atau asuransi. Misalnya biaya transportasi, biaya makan, pembelian barang-barang kebutuhan selama di rumah sakit, vaksinasi untuk orang dewasa, atau biaya rutin check-up kesehatan.

Biaya-biaya tersebut bila dijumlahkan tidaklah sedikit, bisa menguras keuangan Anda. Oleh sebab itu, sebaiknya Anda juga tetap menyisihkan penghasilan bulanan Anda untuk biaya kesehatan. Berikan pos sendiri untuk biaya kesehatan ini, jangan dimasukkan ke dalam dana darurat.

Dana yang bisa Anda sisihkan untuk anggaran kesehatan adalah minimal 1% dari penghasilan bulanan Anda. Bila Anda punya penghasilan lebih, Anda bisa menambah dana tersebut hingga 5% dari penghasilan Anda. Sebaiknya jangan menggunakan dana tersebut kecuali untuk urusan kesehatan.

Penggunaan anggaran kesehatan

Dana kesehatan yang telah Anda kumpulkan tersebut bisa Anda gunakan untuk hal-hal berikut ini.

Pertama, pemeriksaan kesehatan untuk surat keterangan sehat. Saat pengajuan permohonan surat izin mengemudi (SIM), misalnya, biasanya seseorang memerlukan surat keterangan sehat dari dokter. Meskipun tampak sederhana, untuk mendapatkan surat keterangan sehat dari dokter ini, seseorang perlu memeriksakan kondisi kesehatannya.

Kedua, cek medis saat melamar pekerjaan. Biasanya, perusahaan penyedia lowongan kerja mensyaratkan tes kesehatan untuk para pelamar kerja. Perusahaan besar umumnya akan mengganti biaya pemeriksaan medis atau medical check-up. Namun, ada juga perusahaan yang tidak menanggung biaya medical check-up para calon pegawainya.

Ketiga, premarital medical check-up. Istilah lainnya adalah pemeriksaan kesehatan sebelum pernikahan. Ini yang kerap dilupakan para calon pengantin. Jangan salah, pemeriksaan medis pranikah tidak hanya untuk mengetahui tingkat kesuburan kedua calon mempelai. Premarital medical check-up merupakan salah satu cara untuk mengetahui riwayat penyakit yang pernah diderita para calon pengantin, berikut ada-tidaknya penyakit turunan. Sebagai contoh penyakit yang dapat diturunkan adalah buta warna, talasemia, dan diabetes. Dengan begitu, pasangan dapat mengantisipasinya.

Keempat, biaya vaksinasi orang dewasa. Vaksinasi juga tidak ditanggung oleh BPJS ataupun asuransi. Ketika Anda bepergian ke luar negeri yang rawan epidemi penyakit tertentu, biasanya Anda disarankan untuk melakukan vaksinasi, misalnya vaksinasi flu atau radang otak. Ada juga vaksinasi yang memang dianjurkan untuk dilakukan saat usia dewasa. Misalnya, vaksin untuk mencegah penyakit kanker rahim atau HPV, atau vaksin hepatitis B.

Kelima, general check-up. Di atas usia 40 tahun, atau sekarang dianjurkan mulai usia 35 tahun, seseorang perlu rutin memeriksakan kondisi kesehatannya secara menyeluruh. Apalagi beberapa penyakit degeneratif, seperti diabetes, stroke, penyakit jantung, kini kerap menyerang pada usia yang lebih muda. [KUL]

 

Foto ilustrasi: Etalase Bintaro/Prasto

Follow Instagram @ETALASEBINTARO

Comments

comments