foto0801

Cara Latih Anak Jadi Mandiri

Terlalu memanjakan anak bisa membuat anak tidak bisa mandiri dan selalu bergantung pada orang lain. Latih kemandirian anak dengan cara-cara yang mudah Anda terapkan.

Anak menjadi manja biasanya karena hal-hal sepele. Misalnya, ketika menginginkan sesuatu anak merajuk kemudian orangtua langsung menuruti permintaan anak. Atau anak terlalu dimanjakan dengan kehadiran asisten rumah tangga sehingga tidak terbiasa mengerjakan tugas sehari-hari sendirian. Anak yang terbiasa hidup dalam kenyamanan juga kerap memiliki daya juang yang rendah dan malas bekerja keras sehingga terkesan manja.

Membuat anak-anak menjadi lebih mandiri adalah “PR” orangtua. Jika Anda ingin anak lebih mandiri dalam kehidupan sehari-hari, orangtua pun perlu terjun langsung dalam mendidik anak. Sayangnya, banyak orangtua yang terlalu sibuk dengan pekerjaannya sehingga pada momen bersama keluarga, orangtua cenderung menuruti keinginan anak sebagai bentuk kasih sayang atau “penebus dosa” karena jarang meluangkan waktu bersama anak.

Padahal, melatih agar anak lebih mandiri pun tidak sulit. Kuncinya adalah pada komitmen dan konsistensi sikap orangtua. Jadi, hal pertama yang perlu dilakukan, kedua orangtua atau ayah-ibu perlu kompak dulu. Jangan sampai, ibu telah bersikap tegas, tetapi ayah justru melunak. Ini justru bisa memicu konflik. Anak pun bisa lebih mendekat pada orangtua yang lebih permisif.

Ajari sejak dini

Anak bisa dilatih mandiri sejak masih balita. Misalkan, kedua orangtua akan berangkat kerja dan anak menjadi rewel. Sebaiknya jangan berangkat kerja sembunyi-sembunyi. Langsung saja katakan pada anak bahwa kedua orangtua akan berangkat kerja dan akan kembali. Yakinkan pada anak bahwa orangtua tetap menyayangi anak meskipun harus meninggalkan anak selama beberapa jam untuk bekerja.

Jika anak telah bisa makan sendiri, janganlah membiasakan anak terus disuapi saat makan. Biarkan anak belajar memegang sendok atau garpunya sendiri. Tidak masalah jika kemudian makanannya berceceran ketika mencoba makan sendiri.

Ketika bermain, anak terbiasa memporak-porandakan mainannya. Jika sudah selesai, ajarkan anak untuk selalu merapikan mainannya. Kebanyakan anak akan menolak merapikan mainannya. Di sini, Anda sebagai orangtua perlu bersikap tegas. Misalnya, anak tidak boleh menonton TV atau bermain lagi jika belum membereskan mainannya.

Begitu juga ketika anak malas belajar atau menunda mengerjakan PR. Anda bisa memberikan sedikit konsekuensi seperti melarang anak bermain jika PR belum selesai dikerjakan.

Jika anak telah mampu melakukan pekerjaan sehari-hari, ajarkan anak untuk merapikan kamarnya. Walaupun ada asisten rumah tangga di rumah Anda, tekankan pada anak bahwa mereka perlu bertanggung jawab pada kamarnya sendiri. Lebih baik, berikan pemahaman pada anak bahwa mereka perlu mengerjakan hal-hal yang mereka bisa lakukan tanpa harus bergantung pada orang lain.

Sebaliknya, Anda pun bisa memberikan apresiasi atas perbuatan kecil anak yang menunjukkan kemandirian. Sebagai contoh, memberikan pujian. Apresiasi juga bisa berupa bentuk rasa sayang seperti memberikan kecupan di pipi anak atau memeluk anak. Katakan pada anak bahwa Anda berdua menyayangi mereka dan menghargai hal-hal yang dikerjakan anak. Perkataan tersebut memang terdengar sederhana, tetapi anak bisa merasa lebih berharga.

Terakhir, berikan teladan. Artinya, Anda pun harus memberi contoh, karena anak biasanya belajar dari perilaku orangtua. Anda bisa mulai dari hal-hal yang kecil, misalnya mengambil minum sendiri, tidak menyuruh asisten rumah tangga. Ini juga merupakan tanda kekonsistenan Anda. [KUL]

 

Foto ilustrasi: Etalase Bintaro/Prasto

Follow Instagram @ETALASEBINTARO

Comments

comments