jenuh kerja

Strategi Jitu Mengatasi Jenuh pada Karyawan

Rasa jenuh pada karyawan bisa mendatangkan kerugian materi dan non-materi. Atasi segera kejenuhan pada karyawan agar produktivitas dan etos kerja terus meningkat.

Seringkali kita mendengar tentang karyawan yang jenuh bekerja di suatu perusahaan. Alasannya banyak. Mulai dari karier yang stagnan hingga bidang tugas yang “itu-itu” saja. Jenuh dalam bekerja terdengar remeh dan wajar dialami banyak orang. Namun, kejenuhan dalam bekerja bisa membuat orang berpaling ke perusahaan lain. Sayang, ‘kan, apalagi bila karyawan tersebut merupakan karyawan unggulan.

Kenali penyebab jenuh

Mencari karyawan pengganti seperti sosok karyawan lama yang pindah kerja tidak semudah membalikkan telapak tangan. Anda perlu mengeluarkan biaya, tenaga, waktu, dan pikiran ekstra untuk membuka lowongan, menyeleksi, merekrut, dan mengadakan training dan pelatihan untuk karyawan baru. Itu pun tidak menjamin Anda bisa mendapatkan karyawan yang performa kinerjanya menyamai karyawan sebelumnya.

Permasalahannya, banyak wirausahawan atau entrepeneur yang hanya berfokus pada pengembangan usaha dan mengesampingkan pemberdayaan karyawan atau sumber daya manusia (SDM) di perusahaannya. Inilah salah satu pemicu munculnya kejenuhan.

Lalu, bagaimana cara mengenali dan mengatasi kejenuhan bekerja para karyawan? Anda sebenarnya bisa mencermati kejenuhan karyawan dari motivasi dan kinerja mereka. Berikan tugas baru untuk sejumlah karyawan dan amati reaksinya. Jika karyawan tampak antusias, bersemangat, serta mengerjakan tugas dengan cekatan dan cepat, ini adalah pertanda bagus. Namun, jika karyawan tampak tidak bersemangat, mengeluh, atau justru melemparkan pekerjaannya ke rekan kerja lain, bukan berarti ia malas. Bisa jadi karyawan jenuh mengerjakan tugas-tugas serupa. Ini adalah contoh mengenali tingkat kejenuhan karyawan.

Atasi kejenuhan

Ada beberapa cara agar karyawan tidak terperangkap dalam kejenuhan. Intinya, adalah memberikan tantangan baru seperti memberikan tugas-tugas baru yang berbeda, melemparkan permasalahan dalam rapat dan memilih salah satu karyawan sebagai penanggung jawab, atau mengadakan rotasi karyawan.

Rotasi jarang dipilih karena karyawan biasanya mempunyai kemampuan tersendiri dalam bidang tugasnya. Akan tetapi, Anda bisa melakukan rotasi untuk jenis posisi yang tidak berbeda jauh atau masih terkait. Misalnya, antara bagian sales dan marketing communication.

Agar lebih termotivasi, tentukan target pada satu proyek. Berikan apresiasi pada karyawan yang memberikan hasil melebihi target. Bagaimana dengan karyawan yang gagal mencapai target? Jangan langsung menganggap kinerja karyawan buruk. Kenali dulu pokok permasalahannya. Jika kegagalan disebabkan karena faktor yang di luar kendali, misalnya nilai rupiah yang jatuh, hal ini bisa diterima.

Sesekali, cobalah mengadakan aktivitas ringan di luar kantor. Misalnya, outbound atau arung jeram di luar kota. Outbound adalah kegiatan yang menarik, tidak hanya untuk mengasah kekompakan karyawan sekaligus bersenang-senang. Akan tetapi, dari aktivitas ini, Anda bisa mengenali karakter asli karyawan sekaligus potensinya. Tidak perlu sering-sering. Outbound setahun sekali sudah cukup.

Cara lain, berikan cuti pada karyawan  yang mulai menurun etos kerjanya. Siapa tahu mereka hanya membutuhkan penyegaran pikiran. Dan dengan relaks beberapa hari, mereka bisa kembali bekerja dengan penuh semangat. Kejenuhan memang hal biasa. Namun, jika Anda memandang karyawan sebagai modal utama, jangan segan untuk membuat mereka selalu bersemangat dan kompak dalam bekerja. [KUL]

 

Ilustrasi: Etalase Bintaro/YonK

Follow Instagram @ETALASEBINTARO

Comments

comments