bujet liburan

Cara Hindari Overbudget Saat liburan

Liburan akhir tahun telah dirancang, begitu pula bujetnya. Tapi, oh…kok biayanya jadi membengkak? Apa yang salah?

Liburan dengan pengeluaran biaya lebih dari perkiraan atau overbudget bisa jadi dianggap biasa.  Akan tetapi, coba pertimbangkan lagi. Jika dalam setahun Anda dan keluarga liburan sebanyak 4 kali dan semuanya overbudget, apa yang bakal terjadi dengan tabungan Anda?

Penyebab membengkaknya biaya liburan bisa sangat sederhana dan bisa Anda hindari. Sayangnya ini justru yang sering Anda lewatkan. Tidak percaya? Mari kita coba cermati satu per satu.

Salah pilih waktu. Penyebab paling sering anggaran liburan jadi membengkak adalah berlibur di high season. Momen high season di Indonesia biasanya pada saat musim liburan anak sekolah atau sekitar tengah tahun (Juli-Agustus), atau sekitar penghujung tahun (Desember). Fenomena high season di sejumlah negara berbeda-beda, tetapi kurang lebih sekitar musim panas atau bulan Juli-Agustus.

Efek high season ini mudah ditebak. Harga tiket alat transportasi, seperti pesawat atau kereta api lebih mahal. Harga kamar hotel tidak jarang dinaikkan. Demikian juga dengan sewa mobil yang bisa lebih tinggi dibandingkan bulan-bulan biasa. Namun pilihan liburan saat high season memang kadang tak bisa dihindari karena Anda baru bisa liburan sekeluarga ketika anak-anak libur sekolah.

Untuk menyiasatinya, Anda bisa memesan tiket pesawat beberapa bulan atau bahkan setahun sebelumnya, ketika sedang ada promo. Begitu pula dengan kamar hotel. Rajin-rajinlah mendatangi pameran wisata atau travel yang digelar. Biasanya harga yang ditawarkan untuk paket wisata jadi lebih miring.

Jajan tak terkendali. Ini terdengar sepele memang. Mungkin Anda juga berpikir wisata kuliner di tempat baru sah-sah saja. Wisata kuliner memang wajar, tapi jika Anda asal membeli berbagai macam makanan tetapi hanya sedikit atau justru tidak dikonsumsi karena kurang suka rasanya, sebaiknya pertimbangkan lagi.

Jika ingin wisata kuliner atau ingin menjajal jajanan, cobalah cari informasi tentang kuliner yang diminati, berikut bahan-bahan pembuatnya. Bila ternyata ada bahan baku kuliner yang memicu alergi atau ada bahan yang tidak Anda sukai, sebaiknya tidak usah Anda beli. Bila memungkinkan, minta ijin untuk mencicipi sedikit makanan tersebut kepada penjualnya.

Borong oleh-oleh. “Jangan lupa oleh-olehnya ya.” Itulah kata “sakti” yang kerap diucapkan teman, keluarga, atau rekan kerja ketika mengucapkan selamat jalan kepada Anda yang akan berangkat berlibur. Memang ada yang hanya basa-basi. Tetapi ada juga yang serius, bahkan menitip ini itu. Nah, ini yang repot. Kalau mereka menitip sambil menyelipkan uang pengganti mungkin tidak masalah, persoalannya tinggal apakah barang tersebut muat di koper atau tidak. Lain soal kalau mereka tidak memberi uang pengganti, Anda harus mengeluarkan uang lebih untuk membeli “oleh-oleh” tersebut.

Kalau memang Anda tidak memiliki bujet lebih dalam membeli titipan tersebut, bicaralah terus terang, bahwa Anda akan mencoba membeli barang titipan tersebut bila uang Anda cukup. Semoga si penitip bisa mengerti.

Lain hal-nya bila Anda yang tidak tahan melihat pernak-pernik yang tampak imut dan lucu, sehingga tanpa sadar memborong banyak. Sepintas pernak-pernik bisa jadi terlihat murah, namun kalau dibeli dalam jumlah sangat banyak, ya jadi banyak juga uang yang harus Anda keluarkan. Untuk menghindari pembelian membabi buta, buat daftar siapa saja orang terdekat yang ingin Anda berikan oleh-oleh. Lalu buat bujet maksimal untuk oleh-oleh tersebut. Dengan demikian biaya yang dikeluarkan tetap terkendali. [KUL]

 

Foto ilustrasi: Etalase Bintaro/Prasto

Follow Instagram @ETALASEBINTARO

Comments

comments