alergi anak

Mengenal Lebih Dekat Alergi Pada Anak

Reaksi alergi pada anak bisa timbul dalam berbagai bentuk. Cermati tanda-tandanya dan kenali penyebabnya agar buah hati Anda dapat segera mendapat pertolongan dan terhindar dari reaksi alergi berulang.

Salah satu bentuk kasih sayang orang tua adalah memberikan makanan yang terbaik bagi anaknya. Jadi wajar saja, kalau Anda selalu ingin menyuapi si kecil dengan makanan yang Anda anggap bernutrisi. Sayangnya, tak semua makanan yang bernutrisi aman bagi anak. Beberapa makanan yang bernutrisi tinggi malah bisa menimbulkan reaksi alergi pada buah hati Anda.

Menurut Jurnal Sari Pediatri tahun 2015, angka kejadian alergi pada anak akibat makanan adalah sebesar 6%. Beberapa makanan bergizi yang bisa menyebabkan alergi antara lain susu sapi, kedelai, telur, ikan, dan kacang-kacangan. Susu sapi mendapat peringkat teratas sebagai penyebab alergi, 2-3% bayi dan balita mengalami alergi pada susu sapi. Peringkat selanjutnya ditempati oleh telur, yaitu 1,5%. Sementara itu, sebanyak 0,6% anak-anak mengalami alergi pada kacang.

Umumnya, alergi pada makanan tersebut akan hilang pada usia 5-6 tahun, kecuali alergi pada kacang dan ikan laut atau kerang-kerangan. Selain makanan, pemicu alergi bisa berupa suhu udara (dingin atau panas), debu, ataupun bulu binatang.

Alergi dan faktor genetik

Dokter spesialis anak, Caessar Pronocitro, MSc, SpA menuturkan, faktor yang paling berpengaruh dalam alergi adalah genetik atau keturunan. Akan tetapi, pola “pewarisan” alergi ini belum jelas, tidak seperti faktor genetik pada “pewarisan” buta warna yang telah terbukti dengan adanya kelainan pada kromosom.

Menurut penelitian yang dipublikasikan di Journal of Allergy and Clinical Immunology tahun 1990, bila salah satu orangtua mengalami alergi, probabilitas anak mengalami alergi adalah sekitar 30-50%. Namun, apabila kedua orangtua mengalami alergi, probabilitas anak memiliki alergi bisa mencapai 60-80%.

“Yang diturunkan adalah tendensi alergi, bukan persamaan alergi. Misalnya, orangtua alergi pada kacang, bukan berarti nantinya anak akan alergi pada kacang. Kita tidak bisa memprediksi alergi. Pencetus alergi yang diderita anak tidak selalu sama dengan pencetus alergi pada orangtua,” papar Caessar.

Caessar menjelaskan, alergi paling sering teridentifikasi pada usia anak-anak. Karena pada usia dini, anak-anak diperkenalkan pada jenis makanan baru. Misalnya, pada usia 6 bulan, anak diperkenalkan pada makanan pendamping ASI, sehingga pencetus alergi baru ketahuan pada saat anak diberi berbagai macam makanan.

Perhatikan reaksi alergi

Gejala alergi terbagi menjadi dua kategori, yaitu ringan dan berat. Gejala alergi ringan bisa berupa gatal, ruam-ruam pada kulit atau kemerahan, hidung berair, bibir bengkak dan terasa tebal dan kebas. “Gejala alergi berat bisa berupa kehilangan kesadaran, sesak napas, saluran napas bengkak, dan ujung kaki dingin,” jelas Caessar.

Reaksi alergi bisa muncul cepat atau lambat. Reaksi cepat adalah gejala alergi yang muncul dengan rentang waktu 30 menit sampai satu jam setelah terpapar pemicu atau mengonsumsi makanan pemicu alergi. Reaksi lambat muncul sekitar 1-3 jam setelah terpapar pemicu atau mengonsumsi makanan pemicu alergi. Gejala alergi ringan bisa timbul dalam waktu singkat, atau bisa juga lambat. Namun, gejala alergi berat biasanya terjadi dengan cepat. Jika salah satu reaksi alergi terlihat, jangan panik. Segera bawa anak ke dokter atau rumah sakit terdekat. Umumnya reaksi alergi akan berangsur hilang setelah anak diberi obat anti-alergi.

Untuk menjaga agar reaksi alergi tidak terulang, dokter yang berpraktik di Bintaro ini menyarankan agar orangtua memperhatikan gejala alergi pada anak. Caranya, pertama, bila anak menunjukkan reaksi alergi, ingat-ingat jenis makanan yang diberikan pada anak sebelumnya. Kedua, memberikan jeda pada anak setiap kali anak mencicipi atau mengonsumsi makanan baru. Berikan dulu satu jenis makanan selama beberapa hari, sebelum memberi makanan baru. Ketiga, amati apakah ada reaksi alergi pada anak setelah mengonsumsi makanan baru.

Caessar juga mengingatkan agar para orangtua tidak mudah mempercayai mitos memberikan air kelapa muda ketika anak mengalami alergi. “Jika anak menunjukkan tanda-tanda reaksi alergi, sebaiknya tangani lebih lanjut, hubungi dokter atau bawalah anak ke rumah sakit untuk mendapat penanganan yang tepat,” kata Caessar. [KUL]

 

Foto ilustrasi: Etalase Bintaro/Prasto

Follow Instagram @ETALASEBINTARO

Comments

comments