ilisutrasi0712

Cerdas Menyaring Informasi di Media Sosial

Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) yang baru telah berlaku sejak 28 November lalu. Ini berarti Anda harus ekstra hati-hati dalam menyikapi dan menyebarkan informasi yang meluber di jagat maya. Satu “klik” bisa mengantarkan Anda ke penjara. Duh, jangan sampai ya.

Oleh sebab itu, jadilah pelaku media sosial yang cerdas. Kenali mana berita yang hoax atau berita palsu, mana yang memang bisa dipertanggungjawabkan atau memiliki kredibilitas tinggi. Bukan hanya informasi di media sosial seperti Facebook atau Twitter, yang harus Anda cermati. Pesan berantai di grup atau kelompok percakapan digital (seperti grup WhatsApp) pun harus Anda saring dengan benar. Berikut cara mengenali berita palsu dan yang kredibel.

Opini vs fakta

Kita kerap menemukan artikel opini yang dimuat di media massa. Namun, bila dicermati, artikel opini tersebut ditulis oleh orang-orang tertentu yang mempunyai nama dan latar belakang yang jelas, serta menggunakan referensi dalam penulisannya. Referensi atau rujukan dalam opini resmi biasanya berasal dari sumber yang kredibel seperti berita hangat media massa atau teori pakar tertentu.

Ini berbeda dengan berita hoax yang hanya memaparkan opini tanpa dasar, tidak disertai dengan fakta-fakta yang bisa dipertanggungjawabkan. Hoax biasanya juga memuat berita yang fantastis atau bombastis hanya untuk menarik perhatian pembaca. Hoax lainnya biasanya bersifat memanas-manasi atau membuat orang terpengaruh dan mengikuti paham, keyakinan, atau gerakan tertentu yang tidak jelas tujuannya.

Asumsi vs data

Hoax biasanya ditulis berdasar asumsi, praduga, atau perkiraan yang tidak mempunyai dasar yang jelas. Bahkan, bila dibaca, logika dalam hoax terkesan tidak masuk akal. Meskipun bersifat asumsi, isi hoax juga bisa berusaha mempengaruhi pembacanya.

Oleh karena itu Anda perlu cermat dalam membacanya. Agar terhindar dari hoax, sebaiknya pilih artikel yang mencantumkan data atau hasil riset yang bisa dipertanggungjawabkan. Artinya, data tersebut berasal dari sumber terpercaya seperti organisasi, lembaga riset, situs web berita, atau institusi pemerintah resmi. Misalnya, data dari Riset Kesehatan Dasar Nasional yang berasal dari Departemen Kesehatan Indonesia atau dari badan organisasi internasional, seperti WHO atau UNESCO.

Referensi vs anonim

Hoax umumnya tidak menampilkan penulis resmi. Atau mencantumkan nama penulis, tetapi ketika diperiksa, nama penulis yang dicantumkan adalah nama fiktif. Bisa juga menggunakan nama penulis terkenal tetapi penulis asli tidak mengakuinya, alias menyalahgunakan nama besar seseorang.

Jika Anda membaca suatu artikel di internet tetapi terasa mencurigakan, periksa dulu sebelum menyebarkan informasi tersebut. Di website resmi yang menampilkan informasi kredibel, nama penulis biasanya dapat di-klik dan merujuk pada laman tertentu yang menampilkan identitas jelas penulis. Konfirmasi kebenaran berita juga bisa diperoleh dengan cara berkomunikasi dengan penulis secara langsung. Misalnya, menghubungi penulis melalui akun Twitter resmi penulis atau melalui media sosial lainnya.

Arus informasi di internet memang tak terbendung. Kita sendiri yang perlu bijak dalam memilih dan menggunakannya. Dampingilah putera-puteri Anda dalam mendapatkan informasi terbaik, bermanfaat, dan terpercaya. [KUL]

Ilustrasi: YonK

Follow Instagram @ETALASEBINTARO

Comments

comments