foto2811-2

Atur Uang Saku, Perlu Cara Jitu

Jika Anda ingin mengajarkan tentang nilai uang kepada anak, caranya bisa mulai dari pemberian uang saku. Untuk anak-anak yang mulai beranjak dewasa, misalnya setingkat SMA atau perguruan tinggi, edukasi tentang uang saku mungkin tidak mutlak perlu. Terkecuali, kalau anak masih boros ketika menerima uang saku padahal mulai beranjak dewasa.

Pertanyaan terkait uang saku adalah, bagaimana cara menentukan uang saku? Bagaimana uang saku dapat mengajarkan anak tentang nilai uang?

Kerap kita menganggap besaran uang saku terkait dengan kemampuan finansial orangtua. Padahal, sesungguhnya tidak juga. Justru banyak ditemukan orangtua yang lebih kuat secara finansial memberikan uang saku yang lebih sedikit. Harapannya, anak bisa lebih hemat dengan uang saku yang terbatas.

Besaran uang saku

Penentuan besaran uang saku sebenarnya bisa dilihat dari kebutuhan anak sehari-hari di sekolah. Misalnya, jika uang sekolah sudah dibayarkan, anak diantar-jemput menuju dan dari sekolah, serta bekal disiapkan setiap hari, uang saku anak pun tidak begitu perlu.

Dalam hal ini, uang saku hanya bersifat sebagai pelengkap. Misalnya ketika anak memerlukan uang untuk iuran kelas, sumbangan tidak terduga di sekolah seperti untuk melayat anak penjaga sekolah, atau membeli peralatan tulis mendadak di koperasi sekolah.

Tentunya ini berbeda ketika seorang anak membutuhkan uang saku untuk naik angkutan umum, berangkat-pulang sekolah dan tidak membawa bekal ke sekolah. Dalam kondisi ini, jumlah uang saku akan lebih besar.

Besaran uang saku juga terkait dengan jenjang pendidikan anak. Uang saku untuk anak yang duduk di bangku sekolah dasar akan berbeda jumlahnya dengan uang saku untuk anak yang sudah SMA atau perguruan tinggi. Besaran uang saku biasanya semakin tinggi, sesuai kemampuan pengelolaan keuangan anak dan kebutuhannya.

Untuk mendidik anak tentang keuangan dari uang saku, cobalah memberikan uang saku per hari. Tekankan pada anak untuk menyisihkan uang terlebih dulu sebagai tabungan sebelum membelanjakannya.

Misalnya, uang saku anak adalah Rp 10.000 per hari. Ajarkan untuk menabung sekitar Rp 2.000-3.000 dari total uang sakunya. Selebihnya, sisa uang saku setelah dikurangi tabungan bisa dibelanjakan.

Beritahukan pada anak, dengan tabungan per harinya, anak bisa mengumpulkan uang untuk membeli barang yang diinginkannya. Misalnya, mainan baru, alat musik, atau sepeda barunya. Selain itu, anak perlu memahami, uang tabungan yang disisihkan dari uang jajan bisa disimpan untuk hal-hal yang tidak terduga. Misalnya jika ada sanak keluarga yang mengalami kecelakaan, tabungan bisa digunakan untuk membantu saudara yang membutuhkan.

Tabungan yang terkumpul dari penyisihan uang saku juga bisa digunakan untuk reksadana. Ini adalah langkah paling sederhana untuk mengajarkan tentang investasi pada anak.

Namun, jika anak merasa uang sakunya kurang dan meminta tambahan, sebaiknya jangan langsung dituruti. Bicarakan dulu tentang kebutuhan anak sehari-hari di sekolah. Jika ternyata anak menginginkan suatu barang yang tidak terkait dengan sekolah dan harganya mahal, jangan hanya mengajarkan anak tentang menabung. Doronglah anak berwirausaha secara sederhana. Misalnya, membuat kue-kue dan menjualnya di sekolah atau membuat prakarya yang juga bisa dijual, baik di sekolah maupun secara daring (online). [KUL]

Foto ilustrasi: Etalase Bintaro/Prasto

Follow Instagram @ETALASEBINTARO

Comments

comments