foto2211

Tangani Konflik di Kantor dengan “Bahasa Jerapah”

Konflik bisa terjadi di mana saja, tak terkecuali di tempat kerja. Kejadian ini membuat suasana kerja jadi tak nyaman. Bila dibiarkan berlarut-larut, kondisinya bisa makin runyam. Sayangnya, kecenderungan orang Indonesia adalah mendiamkan masalah dan lebih suka membicarakan sesuatu di belakang. Padahal, ada cara elegan menangani konflik tanpa membuat masalah berkepanjangan.

Sebutannya, “bahasa jerapah” atau giraffe language. Model ini ditemukan oleh Marshall B Rosenberg, seorang pengajar tentang komunikasi tanpa kekerasan (nonviolent communication) yang telah malang melintang di sekitar 20 negara. Tentu saja “bahasa jerapah” tidak bermakna harafiah layaknya bahasa yang digunakan satwa jerapah. Sebutan “bahasa jerapah” sebenarnya merujuk pada bentuk komunikasi tanpa unsur kekerasan.

Seperti yang disarikan dari Yesmagazine.org, tujuan model komunikasi ini adalah memampukan seseorang untuk memberikan tanggapan atau respons yang penuh perhatian untuk diri sendiri dan orang lain. Tujuan lainnya adalah menguatkan kemampuan diri untuk menginspirasi agar orang lain lebih berempati dan bersimpati. Sebutan “jerapah” digunakan untuk menggambarkan satwa jerapah yang mempunyai hati paling besar di antara satwa darat lainnya.

6 langkah sederhana

Dalam benak Anda, mungkin tidak terbayang seperti apa “bahasa jerapah” ini. Situs web Positivesharing.com memaparkan “bahasa jerapah” dalam beberapa langkah sederhana. Pertama, observasi. Dalam proses observasi ini, seseorang perlu mengamati pokok permasalahan yang jadi sumber konflik di tempat kerja secara netral.

Cobalah melemparkan pertanyaan sederhana. Misalnya, bagaimana konflik bisa terjadi, apa pemicunya? Apa yang orang lain lakukan? Apa yang saya lakukan? Namun, “bahasa jerapah” ini tidak mendukung seseorang berasumsi. Justru model ini mendorong seseorang mempertanyakan secara langsung tentang pokok masalah dengan bahasa yang netral.

Kedua, meminta maaf. Janganlah mencari siapa yang salah dan siapa yang benar dalam suatu konflik. Cara ini tidak akan membuat masalah cepat terselesaikan. Justru jika Anda termasuk bagian dalam sebuah konflik, minta maaflah lebih dulu.

Namun, jangan menempatkan posisi diri sebagai kambing hitam. Tegaskan posisi Anda sebagai salah satu bagian dalam konflik dan tunjukkan tanggung jawab atas bagian kesalahan yang dilakukan diri sendiri. Bila ada kesalahan orang lain, jangan mengakuinya sebagai kesalahan Anda.

Ketiga, menghargai orang lain. Hal ini sulit dilakukan dalam sebuah konflik, apalagi jika kita harus menghargai orang lain yang berseberangan pendapat dengan kita. Namun, cobalah mengungkapkan penghargaan atas pendapat atau kritik pedas orang lain. Ungkapkan bahwa Anda menerima masukan mereka, tetapi berikan sudut pandang berbeda dalam sebuah permasalahan.

Keempat, konsekuensi. Setiap konflik biasanya menghasilkan suatu konsekuensi atas tiap keputusan yang diambil. Jika itu kebijakan dari atasan atau hasil mufakat bersama, jalankanlah dengan sebaik-baiknya. Demikian juga jika Anda termasuk dari bagian suatu konflik dan mendapatkan teguran keras, terima saja. Untuk ke depannya, Anda bisa mempelajari dan mengantisipasi agar tidak terjadi konflik serupa.

Kelima, obyektif. Dalam suatu forum, rapat, atau lingkup kerja, perbedaan pendapat pastilah terjadi. Sudut pandang, pengalaman, dan pengetahuan tiap orang akan membentuk opini yang tidak sama. Menyikapi perbedaan pendapat ini, tidak ada cara lain kecuali bersikap netral. Dengarkan lontaran-lontaran pendapat dari tiap orang. Keputusan atau solusi konflik tidak selalu berasal dari satu pendapat yang menang. Bisa jadi, solusi atau keputusan muncul berkat perpaduan dari beberapa pendapat yang terangkum.

Terakhir, permintaan. Anda bisa meminta hal-hal yang spesifik. Misalnya, jika terdapat konflik antarpribadi dalam rapat, mintalah untuk membicarakannya di luar rapat terlebih dulu. Jika sudah selesai, barulah pihak yang berkonflik kembali ke ruang rapat. Demikian juga jika konflik terjadi selama rapat berlangsung, mintalah agar ketika keluar dari ruang rapat, konflik sudah selesai. Perbedaan pendapat, biarlah hanya ada di rapat. [KUL]

Foto ilustrasi: Etalase Bintaro/Prasto

Follow Instagram @ETALASEBINTARO

Comments

comments