foto5

Mari Berjaya dengan Pangan Lokal

Kita terbiasa mengonsumsi kue dan roti yang terbuat dari tepung terigu. Namun, bagaimana jika tepung terigu ini digantikan dengan tepung pisang atau tepung mokaf (modified cassava flour)? Semuanya sangat mungkin. Terbukti, inovasi kue dan roti dari tepung selain tepung terigu dikembangkan di Griya Pelatihan Arum Ayu, Ciputat, Tangerang Selatan.

Salah satu penggerak bahan pangan lokal dari Ciputat, Tuti Suparti menunjukkan ragam varian tepung dari umbi-umbian dan sumber bahan pangan lokal Indonesia lainnya yang bisa diolah menjadi beragam kue dan roti. Sosialisasi bahan pangan lokal ini awalnya dipelopori oleh almarhum Ambarwati, yang kemudian dilanjutkan oleh Tuti. Perempuan ini menyadari betapa kayanya bahan pangan lokal di berbagai daerah di Indonesia.

Suasana workshop di Arum Ayu.

Suasana workshop di Arum Ayu.

Melalui Griya Pelatihan Arum Ayu, Tuti aktif memberikan pelatihan atau workshop tentang pengenalan olahan bahan pangan lokal serta pembuatan kue dan roti yang terbuat dari tepung umbi-umbian dan pangan lokal. Selain di Ciputat, Tuti juga aktif menyosialisasikan pangan lokal ke berbagai kota dan daerah lainnya.

“Tepung terigu itu, kita harus impor karena gandum yang menjadi bahan baku terigu hanya bisa tumbuh di negara dengan empat musim. Padahal, kebutuhan dalam negeri kita sangat besar pada terigu. Dengan adanya tepung dari umbi-umbian dan bahan lokal ini, kita bisa mendapatkan alternatif selain tepung terigu,” ungkap Tuti.

Contoh tepung dari singkong.

Contoh tepung dari singkong.

Tak kalah lezat

Jenis tepung alternatif pengganti terigu ini cukup banyak. Di antaranya adalah tepung sagu, tepung pisang, tepung ganyong, tepung garut, tepung sukun, tepung singkong atau tapioka, tepung mokaf, dan tepung jagung.

Tuti mengungkapkan, tepung-tepung ini tidak mengandung gluten. Manfaatnya, tepung ini bisa menjadi pilihan sumber bahan makanan untuk anak dengan autisme. Anak dengan autisme memang tidak disarankan mengonsumsi makanan yang mengandung gluten.

Selain itu, tepung-tepung ini juga bisa diolah menjadi beragam jenis kue dan roti. Ada jenis kue yang diolah dengan hanya menggunakan tepung umbi-umbian atau bahan pangan lokal lain. Akan tetapi, ada juga jenis kue yang bahan bakunya merupakan tepung umbi-umbian yang perlu dipadukan dengan tepung terigu dengan perbandingan 1:1.

“Soal rasa, tidak perlu ragu. Kue dan roti yang terbuat dari tepung-tepung ini tidak kalah enak dengan kue-kue dari tepung terigu,” kata Tuti.

Varian camilan dari tepung umbi-umbian.

Varian camilan dari tepung umbi-umbian.

Ketika Etalase Bintaro (EBIN) menjajal kue dari tepung mokaf (penampakan kue di foto utama artikel ini), rasanya ternyata lezat. Aroma khas singkong memang masih tertinggal, tetapi samar. Justru aroma kue merekah yang masih hangat ini menyuguhkan kelezatan tersendiri. Tekstur kue yang terbuat dari tepung mokaf pun empuk dan nikmat.

“Kami selalu menggunakan bahan pewarna alami. Misalnya, warna merah dari buah bit, hijau dari daun suji, dan kuning dari labu kuning. Asal proses pemasakannya pas, warna alami ini tidak akan berubah,” jelas Tuti.

Tuti dengan Griya Pelatihan Arum Ayu juga kerap menerima pesanan kue-kue yang terbuat dari tepung bahan pangan lokal. Sebutlah di antaranya, rainbow cake, brownies, cupcake, kue sus, dan roll cake. Untuk melayani pesanan, Tuti memberdayakan kaum ibu di sekitar tempat tinggalnya.

Tampilan depan Arum Ayu.

Tampilan depan Arum Ayu.

Varian tepung umbi-umbian dan tepung dari bahan pangan lokal lainnya juga tersedia di Griya Pelatihan Arum Ayu serta sejumlah mal seperti Living World Alam Sutera dan Lippo Mall Karawaci. Sementara itu, kue dan roti Arum Ayu juga bisa dipesan di sejumlah lokasi seperti Jalan Bintaro Tengah Blok O2 no. 8, Tangsel. [KUL]

Foto-foto: Etalase Bintaro/Nikikula

Follow Instagram @ETALASEBINTARO

Comments

comments