2016-11-12-photo-00000499

Belajar Sosialisasi dari Keluarga Sendiri

Anak pendiam, pemalu, menutup diri, dan enggan bermain bersama teman-temannya. Padahal, Anda sebagai orangtua sudah mendorong-dorong anak agar mau bersosialisasi, tetapi anak masih tidak tertarik berteman. Melihat kondisi ini, apa yang harus dilakukan?

Tipe kepribadian bisa dibedakan menjadi introver, ekstrover, dan ambiver (di antara ekstrover dan introver). Tetap saja, anak memerlukan sosialisasi dengan teman-teman sebaya untuk proses tumbuh kembangnya.

Jika Anda ingin anak mudah bersosialisasi dengan teman-temannya, mulailah dari diri Anda sendiri.  Mengapa? Orangtua adalah role model bagi anak, termasuk dalam hal bersosialisasi. Jadi, jika Anda ingin anak mudah bersosialisasi atau berteman, tunjukkan pada mereka tentang kenyamanan berinteraksi dengan orang lain.

Cara sederhana

Berikan lingkungan yang nyaman agar anak mudah bersosialisasi, mulai dari rumah sendiri. Caranya sebenarnya sederhana. Buatlah agar suasana dalam keluarga terbuka dan hangat. Sering-seringlah mengajak anak berbincang ringan dalam suasana akrab. Dengarkan anak saat berbicara. Misalnya, tentang hal-hal yang mereka alami di sekolah, keseruan saat bermain di taman, dan tentang makanan baru yang mereka coba pertama kali. Berikan respons positif pada hal-hal yang diceritakan anak. Anak pun akan merasa nyaman.

Jika dalam keluarga anak merasakan kenyamanan, anak pun akan merasa nyaman bergaul dengan orang lain. Anak bisa melakukan hal yang mirip dengan hal yang ia temukan dalam keluarganya.

Tunjukkan pada anak bahwa Anda menyayangi mereka. Ungkapkan rasa kasih Anda pada anak dengan kata-kata. Tunjukkan contoh kepribadian positif pada anak.  Misalnya, berbagi pada orang yang berkekurangan, menolong orang lain yang kesusahan, serta mengucapkan maaf dan terima kasih. Dalam pergaulannya nanti,  anak pun akan belajar untuk melakukan hal-hal ini. Citra positif ini akan membuat anak lebih mudah diterima di lingkungan pergaulannya.

Agar anak lebih terbuka, Anda pun perlu bersikap terbuka pada orang lain terlebih dulu. Misalnya, ketika bertemu tetangga ketika jalan-jalan di mal, sapalah dan berikan senyuman lebih dulu. Ajaklah tetangga Anda untuk berbincang dan biarkan anak mengamatinya.

Selanjutnya, jika anak merasa nyaman dan bisa bersikap terbuka pada orang lain, biarkanlah anak mencoba bergaul dengan teman-temannya. Bagi anak pemalu,  mungkin ia akan mencari teman yang lebih pemalu dan pendiam. Namun, Anda juga bisa mendorong teman lainnya yang lebih berani dan percaya diri untuk mengajak anak bergaul.

Intinya, lingkungan pergaulan anak pertama kali, tidak perlu dibatasi. Akan tetapi, sebagai orangtua, Anda pun perlu mengetahui lingkungan pergaulannya. Jika lingkungan pergaulan anak memberikan efek negatif, ada baiknya Anda memberikan batasan dan memberi tahu anak tentang alasannya.

Hindarilah terlalu banyak mengkritik dan mengatur anak. Biarkan anak memilih lingkungan pergaulan yang membuatnya nyaman. Jika anak menemukan kenyamanan, ia akan bergaul dengan lebih mudah. [KUL]

Foto ilustrasi: Etalase Bintaro/Prasto

Follow Instagram @ETALASEBINTARO

Comments

comments