foto0911

Anak dengan Disleksia Butuh Pendampingan Orangtua

Seorang anak mengalami kesulitan membaca. Penyebabnya sederhana, ia sering salah mengira huruf “d” dengan “b”, “m” dengan “w”, atau “u” dan “n”. Anak tersebut juga kesusahan membeda-bedakan kata-kata yang mirip penulisannya. Inilah gejala umum disleksia (dyslexia). Namun, ada beberapa indikasi lain yang mengarah pada disleksia.

Disleksia diartiken sebagai ketidakmampuan dalam berbahasa akibat kelainan struktur dan fungsi otak. Biasanya ketidakmampuan ini terkait kesulitan dalam membaca, menulis, mengeja, memproses informasi, ingatan jangka pendek, perencanaan, dan penataan.

Seturut lansiran dari Readingrockets.org, sebanyak 5-20 persen dari populasi mengalmi kesulitan dalam membaca. Disleksia diperkirakan menjadi mayoritas penyebab seseorang mengalami kesulitan dalam membaca, menulis, dan mengeja. Jika tidak segera ditangani sejak dini, anak akan mengalami kesulitan dalam belajar pada tingkat pendidikan yang lebih tinggi.

Cara mengetahui

Biasanya, disleksia bisa diketahui ketika seorang anak menggunakan huruf yang salah ketika menulis kata, terbalik menuliskan huruf, pemakaian kata-kata, dan lambat berbicara. Namun, disleksia bisa dikenali ketika seorang anak masuk playgroup, preschool, atau PAUD.

Cirinya, anak dengan disleksia akan berbicara lebih terlambat dibandingkan yang lain, sulit menambah kata-kata baru, sering menggunakan kata-kata yang tidak pas, bingung dengan kata-kata yang berima, dan kesulitan mengenali huruf dan angka.

Keterlambatan ini bisa membuat anak dijauhi oleh teman-teman dekatnya karena dianggap aneh. Anak dengan disleksia juga akan mengalami kesulitan jika berhadapan dengan rutinitas atau perintah yang runut.

Kemampuan motorik anak dengan disleksia pun berkembang lebih lambat dibandingkan anak-anak sebayanya. Ketika menceritakan sesuatu, anak dengan disleksia mengalami kesulitan untuk memaparkan secara detail dan jelas. Karena minimnya kosakata dan kesulitan menggunakan kata-kata serta ketakutan salah pengambilan kata, anak dengan disleksia biasanya berbicara dengan mengeluarkan bebunyian yang terkait dengan ceritanya. Misalnya, ketika diminta menceritakan tentang kunjungan ke bandara, bisa jadi anak akan menggambarkan pesawat yang lepas landas dengan bebunyian dari mulutnya.

Kesulitan menulis, membedakan kata-kata dan huruf, serta sinonim kata dialami anak dengan disleksia ketika memasuki bangku TK dan SD. Anak dengan disleksia juga kesulitan dalam mengenali hal-hal yang terjadi secara akurat.

Ciri lainnya, anak dengan disleksia yang semakin dewasa biasanya kesulitan dalam mempelajari keahlian baru, bisa menghapal tetapi tidak mengerti, bersikap impulsif, kesulitan dalam merancang sesuatu, dan koordinasi motorik yang rendah.

Perlu bimbingan

 Menurut informasi dari Dyslexiahelp.umich.edu, orangtua perlu melakukan beberapa hal jika memiliki anak dengan disleksia. Alih-alih memarahi, memaksa, atau membentak anak agar menjadi “normal” seperti teman-temannya, sebaiknya pahamilah kondisi anak.

Anak dengan disleksia perlu mendapatkan dukungan dan dorongan motivasi yang lebih banyak dari orangtua. Ketika anak tidak bisa mengikuti perkembangan teman-teman lainnya, anak akan mengalami kekecewaan, merasa tertekan dan bodoh, serta merasa tidak berharga. Di sinilah peran orangtua memberikan dorongan semangat.

Seringkali anak dengan disleksia merasa marah, kesal, sedih, atau kecewa terhadap sesuatu tetapi tidak bisa mengungkapkannya dengan mudah. Orangtua pun perlu peka dan lebih proaktif dalam mengenali emosi anak. Anak dengan disleksia perlu dibimbing agar mampu mengenali emosinya dan mengungkapkannya dengan wajar.

Meskipun telah belajar di sekolah, orangtua perlu memberikan bimbingan tambahan pada anak. Perkembangan anak dalam menulis, membaca, serta mengenali huruf dan angka mungkin saja berbeda dengan anak-anak lainnya. Anda pun perlu mengajari anak pelan-pelan agar mampu membaca dan menulis seperti teman-temannya.

Hargailah setiap progres yang dilakukan anak, tidak perlu membanding-bandingkan dengan anak-anak lainnya. Perkembangan anak dengan disleksia mungkin tidak secepat teman-temannya, tetapi jerih payah mereka untuk mengalahkan kekurangannya perlu dihargai.

Cobalah melihat potensi anak dengan disleksia. Mengalami disleksia bukan berarti seorang anak bodoh atau tertinggal. Bisa jadi, di balik disleksia yang dialami, anak mempunyai talenta luar biasa. Kita bisa melihat tokoh ternama dunia seperti Leonardo Da Vinci, Muhammad Ali, John Lennon, Albert Einstein, Will Smith, dan Keira Knightly. Tidak ada yang menyangka bahwa mereka ini pernah mengalami disleksia. [KUL]

Foto ilustrasi: Etalase Bintaro/Prasto

Follow Instagram @ETALASEBINTARO

Comments

comments