fotominggu

Anak Rewel, Begini Solusinya

Anak menginginkan sesuatu. Anda sebagai orangtua, tidak mengizinkan. Anak merengek dan menangis. Karena keinginan tidak dituruti, anak menjerit, menangis keras-keras, lalu berguling-guling di lantai. Menghadapi kondisi anak yang tantrum semacam ini, pasti Anda resah. Apalagi jika anak tantrum di depan umum. Rasa malu, kesal, dan marah, mungkin menyergap. Apa yang harus dilakukan?

Memarahi, membentak, apalagi memukul bukan tindakan bijak. Justru cara ini membuat anak melihat orangtua sebagai sosok yang jahat. Bahkan, cara ini bisa menimbulkan trauma bagi anak.

Perlu tegas

Menghadapi anak yang menangis karena keinginannya tidak dituruti memang terkadang membuat orangtua tidak tega dan akhirnya luluh. Keinginan anak pun dituruti. Namun, efeknya, anak bisa merasa bossy dan bisa menjadi semakin manja.

Tidak ada cara lain kecuali bersikap tegas. Tegas artinya, apa yang sudah Anda putuskan berarti harus dijalankan. Istilahnya sekali tidak, tetap tidak. Akan tetapi, jangan hanya bilang tidak.

Jelaskan pada anak mengapa keinginannya tidak dituruti. Berikan penjelasan pada anak dengan sabar dan lemah lembut. Bila perlu, posisikan diri sejajar pada anak. Berbicaralah dengan menatap mata anak.

Terkadang anak yang cerdas atau ekstrovert langsung menanyakan alasan ia tidak diperbolehkan meminta sesuatu atau melakukan hal negatif. Di sinilah Anda sebagai orangtua perlu menjelaskan dan memberikan contoh positif pada anak. Konsistensi Anda ketika melakukan hal yang positif akan ditiru oleh anak.

Jika Anda belum bisa menuruti keinginan anak karena faktor finansial atauhal lainnya, mintalah anak bersabar. Atau bisa juga dengan menjanjikan keinginan anak dituruti jika anak menunjukkan hal positif seperti berprestasi di sekolah. Namun, jangan lakukan cara ini terlalu sering agar anak tidak menjadi sosok yang penuntut.

Cara lainnya, jika anak menginginkan sesuatu dan Anda tidak memberikannya, ajarkan anak menabung. Beritahukan pada anak untuk menyisihkan uang jajannya sedikit demi sedikit sampai terkumpul jumlah yang cukup untuk membeli barang yang diinginkan.  Langkah ini juga mengajarkan kesabaran dan pentingnya menabung untuk anak.

Anda pun bisa mengajarkan pada anak untuk memperoleh sesuatu dengan usahanya sendiri. Misalnya, ketika akhir pekan, ajalah anak membuat kue. Ketika masuk sekolah,  anak bisa menjual kue buatannya ke teman-temannya atau guru di sekolah. Beritahukan pada anak untuk menabung atau menyimpan uang dari hasil jualannya agar nantinya bisa digunakan untuk membeli barang yang diinginkan.

Penanganan berbeda ketika anak ingin sesuatu karena melihat iklan di TV, ingin menambah jumlah barang serupa yang dimiliki, atau karena pengaruh teman-temannya. Berikan pemahaman pada anak tentang barang-barang yang telah dimilikinya dan ajaklah anak untuk bersyukur. Jelaskan pada anak tentang perbedaan barang-barang yang diinginkan dan barang-barang yang dibutuhkan dengan penjelasan sederhana.

Berikan gambaran jika anak terus meminta sesuatu, akan ada banyak barang menumpuk yang tidak terpakai. Bahkan, barang-barang seperti mainan atau benda koleksi akan rusak jika tidak dirawat. Sebaliknya, ajarlah anak untuk berbagi. Misalnya, memberikan mainan yang sudah tidak disukai ke panti asuhan atau temen lain yang lebih membutuhkan. [KUL]

Foto ilustrasi: Etalase Bintaro/Ariani

Follow Instagram @ETALASEBINTARO

Comments

comments