foto1

Pemicu “Impulsive Buying” yang Perlu Anda Tahu

Impulsive buying atau pembelian impulsif (pembelian tidak rasional) bisa dialami siapa saja. Contohnya sederhana, seseorang tergiur membeli baju ketika melihat tulisan sale. Contoh lain, membeli tas seharga puluhan juta agar bisa diakui dan diterima di lingkungan tertentu.

Dalam bukunya, Wealth Wisdom, pengusaha dan motivator Adam Khoo mengungkapkan, impulsive buying tidak masalah jika hanya terjadi 1-2 kali. Namun, Anda perlu hati-hati jika impulsive buying sudah menjadi kebiasaan karena bisa menggangu keuangan dan menjurus pada konsumerisme.

Ada banyak faktor yang bisa memicu impulsive buying. Anda bisa mencermati pemicu-pemicu impulsive buying berikut seperti yang dituturkan Adam Khoo dalam buku tersebut. Bisa jadi Anda pernah mengalami salah satu pemicu impulsive buying.

  1. Menjaga reputasi. Karena merasa tidak mau kalah keren dengan teman, keluarga, atau orang di sekeliling lainnya, seseorang akan membeli barang-barang tertentu yang tidak diperlukan, asalkan bermerek. Bagi sebagian orang, ada reputasi yang bisa terdongkrak ketika menggunakan barang-barang bermerek.
  1. Penolakan. Penolakan bisa terjadi ketika seseorang dijauhi oleh lingkungan pertemanan karena dianggap tidak cocok bergaul. Seseorang yang ditolak akan melakukan berbagai cara agar diterima di lingkungannya, termasuk belanja dan mentraktir teman-temannya.
  1. Belanja tanpa menyusun daftar belanja. Belanja tanpa daftar belanja akan membuat pembelanjaan tidak terkontrol atau membeli sesuatu yang tidak diperlukan hanya karena tampilannya menarik.
  1. Menggunakan kartu kredit. Pemegang kartu kredit punya kecenderungan menghabiskan dana yang lebih dari kebutuhan. Untuk itu, jika Anda mempunyai kartu kredit, bijaklah menggunakan kartu kredit dengan selektif dalam memilih promo.

foto2

  1. Membeli barang ketika sedang sale. Banyak orang biasanya tergiur ketika melihat diskon 20%, 30%, 50%, atau bahkan 70%. Ini yang perlu diwaspadai. Sale perlu dicermati karena tidak semua barang yang berlabel sale menggunakan harga sebenarnya ketika sedang ada potongan harga. Bukan tidak mungkin harga barang telah dinaikkan terlebih dulu baru diturunkan sekian persen.
  1. Gaya hidup. Jika terbiasa gaya hidup konsumtif, tiba-tiba kondisi ekonomi memburuk dan tidak bisa menyesuaikan dengan gaya hidup, ini akan berakibat buruk pada keuangan. Untuk itu, sesuaikan gaya hidup dengan kondisi finansial, hindari membeli barang yang harganya di luar jangkauan Anda.
  1. Menggunakan uang membuat seseorang bisa mendapatkan kontrol. Contoh sederhananya, Anda bisa mendapatkan banyak hal yang diinginkan dengan uang yang berlebih. Perasaan yang muncul, seseorang merasa lebih kuat ketika bisa berbuat lebih dengan menggunakan kekuatan finansialnya.
  1. Membeli barang-barang mahal membuat seseorang lebih berharga. Nyatanya, hal ini hanya membuat kesenangan sesaat. Selebihnya, kepuasan dan kesenangan akan hilang beberapa waktu setelahnya.
  1. Tidak bisa bilang “tidak”. Ini terjadi ketika seseorang mendapatkan permintaan dari pasangan atau anak untuk membeli sesuatu. Seringkali terjadi, seseorang menuruti permintaan pembelian dari orang-orang terdekatnya hanya untuk menunjukkan rasa sayang. Padahal, ungkapan sayang semacam ini kurang tepat.

Sekali lagi, kewaspadaan mulai diperlukan manakala Anda sering mengalami salah satu dari ciri di atas. Bijaksanalah dalam mengatur pengeluaran Anda. [KUL]

Foto-foto: Etalase Bintaro/Prasto

Follow Instagram @ETALASEBINTARO

Comments

comments