babyoncar

Tips Aman Naik Mobil bersama Si Kecil

Mengajak anak-anak bepergian dengan mobil sendiri sepertinya mudah. Tinggal siapkan camilan dan mainan yang cukup agar anak tidak bosan. Namun, jika Anda mengajak anak usia balita, atau bahkan bayi, tentu penanganannya beda.

Sebagai orangtua, terkadang kita malas melakukan hal-hal sederhana yang mendukung keselamatan. Misalnya, menempatkan bayi atau balita di baby car seat atau tempat duduk tambahan khusus bayi dan balita.

Sebagian dari kita mungkin lebih nyaman dengan menggendong atau memangku buah hati di jok depan di samping pengendara mobil. Padahal, risiko cidera jika terjadi kecelakaan akan lebih fatal. Jika Anda menginginkan jaminan keselamatan yang prima, sebaiknya tempatkan bayi atau balita pada jok khusus, lengkap dengan sabuk pengaman, di jok belakang.

Infromasi dari Raisingchildren.net.au menyebutkan, anak-anak di bawah usia 4 tahun memang lebih baik tidak duduk di jok depan jika mobil mempunyai area jok depan dan jok belakang. Namun, jika semua tempat duduk penuh dan hanya tertinggal di kursi depan, sebaiknya berikan bahan tambahan agar anak duduk dengan nyaman dan menggunakan sabuk pengaman yang rapat dan sesuai.

Kelalaian

Keselamatan berkendara dalam mobil untuk buah hati memang yang utama selain keselamatan Anda sendiri. Namun, tak bisa dimungkiri, seringkali kelalaian atau kecerobohan bisa memicu kecelakaan.

Laman Parents.com menyebutkan sejumlah kelalaian orangtua yang kerap terjadi dan menyebabkan risiko kecelakaan. Pertama adalah fokus mudah teralihkan. Biasanya ini terjadi ketika seseorang melakukan beberapa hal sekaligus alias multitasking.

Misalnya, Anda mempunyai 3 anak yang masih di bawah usia 10 tahun dan mengajak mereka bepergian dengan mobil. Sangat mungkin anak-anak bermain, saling menggoda, hingga salah satu dari mereka menjerit atau menangis, sedangkan fokus Anda tersita oleh kemacetan atau kesulitan mencari tempat parkir.

Jika Anda bersama pasangan, mintalah bantuan suami atau istri untuk membantu menenangkan anak-anak. Cara lainnya adalah meminta si sulung untuk menjaga dan melerai adik-adiknya. Ini tidak berlaku jika semua anak ribut atau ada makanan yang tumpah. Anda perlu menepikan kendaraan sejenak, beranjak ke jok belakang, dan membereskan masalah. Hindari memaksakan diri tetap berkendara sementara situasi tidak mendukung.

Kedua, menelepon sambil berkendara. Bahaya menelepon sambil berkendara telah diketahui banyak orang. Namun, masih saja banyak orang yang melakukannya. Berkendara sambil menelepon bisa membuat fokus terpecah dan kesigapan berkurang. Apalagi jika Anda menelepon, menyetir, sambil mengurusi anak-anak, risiko kecelakaan akan semakin besar.

Masukan untuk tidak menelepon ketika berkendara perlu dijalankan. Jika terpaksa harus mengangkat telepon, sebaiknya tepikan kendaraan dan berhenti sejenak. Selain Anda bisa menelepon dengan nyaman, keselamatan berkendara akan lebih terjaga.

Ketiga, meninggalkan bayi atau balita sendirian di dalam mobil. Kelalaian ini bisa saja dilakukan sejumlah orang. Meninggalkan bayi atau balita yang tengah tertidur dalam mobil sepertinya aman jika jarak dekat dan mobil terpantau. Akan tetapi,  benarkah begitu?

Risiko penculikan tetap ada meskipun Anda hanya meninggalkan mobil sejenak dengan anak-anak di dalamnya. Selain itu, jika Anda meninggalkan anak-anak dalam mobil dalam kondisi mesin mobil mati dan suhu di luar terik, anak-anak bisa mengalami dehidrasi karena suhu dalam mobil bisa jauh lebih tinggi dibandingkan suhu di luar mobil.

Anak-anak belum bisa menjaga keselamatan sendiri ketika naik mobil. Anda sebagai orangtua perlu memperhatikan keselamatan mereka. Ajarkan anak dan berikan pengertian pada mereka tentang pentingnya keselamatan berkendara. [KUL]

Ilustrasi: Etalase Bintaro/YonK

Follow Instagram @ETALASEBINTARO

Comments

comments