parenting

7 Prinsip Mengoreksi Perilaku Buah Hati

“Kamu enggak boleh begini! Sudah dibilangin berkali-kali, masih bandel juga!”

Pernahkah Anda melontarkan kata-kata tersebut pada buah hati Anda, atau keponakan Anda? Tanpa disadari, kita sebagai orangtua kerap melontarkan kata-kata keras untuk mendisiplinkan dan mendidik anak. Namun, kita seringkali kurang menyadari bahwa kata-kata yang terlalu keras atau bernada tinggi ternyata dapat melukai hati anak.

Kepada Etalase Bintaro (EBIN), Psikolog Anak Klinik Psikologi Pelangi Reneta Kristiani, M.Psi mengungkapkan, banyak orangtua yang bingung ketika menerapkan disiplin pada anak. Ada yang menggunakan cara-cara kekerasan fisik atau psikis karena tidak tahu cara yang tepat dalam mendidik anak. Sebaliknya, ada orangtua yang selalu menuruti keinginan anak karena tidak ingin anak merasa tersakiti. Namun, justru selalu menuruti keinginan anak bisa menjadikan mereka menjadi sosok layaknya “raja kecil” yang susah diatur.

Lebih lanjut, Reneta yang biasa dipanggil Neta menuturkan, cara mendidik anak agar menjadi sosok yang tertib bisa melalui cara disiplin yang positif. Artinya, anak bisa diminta berperilaku sesuai aturan dan nilai keluarga ataupun berhenti perperilaku yang tidak sesuai dengan kondisi tertentu. Dengan arahan disiplin yang positif dan koreksi yang negatif, perilaku anak pun bisa dibentuk menjadi lebih baik.

Cara mengoreksi

Jika perilaku anak ada yang salah, janganlah buru-buru membentak. Koreksi perilaku anak pun perlu dilakukan dengan cara yang tepat. Orangtua yang asal dalam mengoreksi bisa membuat anak menjadi berkepribadian negatif.

“Koreksi yang diberikan dengan cara kasar justru dapat membuat anak merasa tidak nyaman dan berdampak pada menurunnya kepercayaan diri anak. Koreksi pada anak yang disertai kemarahan orangtua akan membuat anak merasa kehilangan kasih sayang orangtua. Anak menjadi ragu apakah orangtua masih mengasihinya,” jelas Neta.

Tujuan koreksi perilaku anak adalah agar anak dapat mengubah perilaku menjadi lebih positif dengan minim efek perilaku negatif. Neta menuturkan, ada 7 prinsip dalam menerapkan koreksi pada anak.

Pertama, tolak perilaku negatif anak, tetapi jangan menolak anak secara pribadi. Katakan pada anak bahwa perilakunya tidak bisa diterima, tetapi berikan pemahaman pada anak bahwa orangtua tetap mengasihinya.

Kedua, jangan memberikan koreksi tanpa arahan. Larangan keras dari orangtua seringkali membuat anak bingung karena pola pikirnya yang masih sederhana. Untuk itu, ketika mengoreksi perilaku anak, berikan alternatif pilihan perilaku yang bisa dilakukan anak.

Ketiga, berikan koreksi yang non-evaluatif. Koreksi pada perilaku anak sudah bersifat kritik. Hindari melakukan hal negatif yang dapat menyakiti hati anak. Misalnya, mengungkit-ungkit kesalahan anak beberapa waktu sebelumnya. Sebaliknya, ajarkan pada anak untuk bertanggung jawab atas kesalahan yang dilakukannya.

Keempat, fokuslah pada perilaku yang positif. Berikan penjelasan pada anak atas hal yang dilakukannya disebut salah. Beritahukan pada anak tentang letak kesalahannya. Selain itu, berikan penjelasan tentang hal yang baik yang seharusnya dilakukan. Dengan penjelasan semacam ini, anak akan semakin memahami perilaku yang positif dan negatif.

Kelima, berikan koreksi yang bersifat mendidik. Neta mengatakan, penting bagi setiap orangtua untuk berdiskusi dengan anak tentang perilaku anak. Misalnya, mulai dari mencari tahu alasan anak berperilaku negatif, dampak perilaku negatif, dan jalan keluar agar kesalahan yang sama tidak terulang.

Keenam, berikan apresiasi karena anak mau mendengarkan orangtua. Anak memang terkadang membangkang atau kita anggap bandel. Namun, ketika anak mau mendengarkan pemahaman dari orangtuanya, berikan respon positif. Misalnya mulai dari apresiasi yang paling sederhana seperti pelukan.

Terakhir, Neta menekankan pentingnya berpikir positif dan memberikan kepercayaan pada anak. Katakan pada anak bahwa kita sebagai orangtua meyakini anak akan menjadi sosok yang lebih baik. Cara-cara ini tampaknya sederhana, tetapi belum tentu mudah dilakukan. Perlu kesabaran yang tinggi untuk mendidik dan mengajar anak tentang perilaku positif dan menjauhi perilaku negatif. [KUL]

Foto ilustrasi: Etalase Bintaro/Prasto

Comments

comments