foto4-1

Langkah Tepat Menghadapi “Baby Blues”

Takut, cemas, marah, dan perasaan bersalah kerap menghantui. Sebagai ibu, apakah di antara Anda pernah menghadapi hal-hal semacam ini setelah melahirkan? Bisa jadi Anda mengalami baby blues.

“Saya mengalami baby blues waktu sekitar satu bulan setelah melahirkan anak pertama. Saat itu, saya masih bingung karena baru punya anak pertama kali dan banyak perubahan yang terjadi,” kata Neta (32), seorang ibu yang sempat mengalami baby blues pada awal kelahiran.

Neta mengaku melahirkan pada usia 28 tahun dan mengalami kondisi fisik yang kelelahan ketika mengalami baby blues. Kurang tidur dan tubuh lemas akibat banyak darah keluar setelah melahirkan membuat kondisinya tidak fit.

Psikolog Amanda Margia Wiranata Msi menuturkan, biasanya ibu yang mengalami baby blues menunjukkan gejala seperti emosi yang labil atau naik-turun seperti roller coaster. Pemicunya beragam. Salah satunya akibat faktor hormonal.

“Penyebabnya karena tingkat hormon yang menjaga kesehatan saat kehamilan turun secara tiba-tiba, setelah kelahiran. Hormon dan emosi berkaitan erat. Jadi perubahan hormonal yang drastis menyebabkan perubahan mood dengan segera, merasa ingin menangis, dan overwhelming,” terang Amanda.

Lebih lanjut, Amanda mengungkapkan, pemicu baby blues juga bertambah akibat kurangnya istirahat dan transisi hidup ketika menjadi orangtua. Ibu juga sering merasa khawatir berlebihan terhadap kondisi kesehatan bayi, khawatir akan menjadi orangtua yang buruk, khawatir akan masa depan si bayi, serta merasa bersalah ketika sesuatu terjadi pada buah hati.

“Lama proses baby blues tergantung daya lenting (resilience) atau ketangguhan individu terhadap tekanan. Tapi biasanya akan berlalu setelah tubuh belajar menyesuaikan diri dengan peran yang baru, atau perkiraannya sekitar 2-3 minggu setelah melahirkan. Kalau lebih dari itu, maka dapat dikatakan ibu mengalami postpartum depression,” kata Amanda.

Pria bisa mengalami

Uniknya, tidak hanya ibu yang mengalami baby blues. Ayah pun bisa mengalami baby blues. Bedanya, baby blues yang dialami ayah pemicunya bukan faktor hormonal, melainkan karena kehadiran bayi dalam keluarga. Riset dari The National Institute of Child Health and Human Development di Amerika Serikat mengatakan bahwa 62 persen ayah membutuhkan waktu sekitar empat bulan untuk menerima kehadiran bayi dalam keluarganya.

Baby blues sebaiknya ditangani dengan tepat. Psikolog yang berdomisili di Bintaro Sektor 9 ini menuturkan, efek terburuk dari baby blues pada orangtua antara lain, orangtua menjadi cemas berlebihan pada kesehatan dan masa depan bayi, merasa bersalah, kehilangan kepercayaan diri, over protective terhadap bayi, atau justru merasa benci pada anak. Jika tidak segera ditangani, baby blues bisa menjurus pada pospartum depression atau depresi pascamelahirkan. Postpartum depression yang dibiarkan berlanjut bisa masuk ke dalam level gangguan depresi kronis.

Dukungan orang terdekat

Lantas, bagaimana cara menghadapi baby blues? Amanda menuturkan, dukungan dari orang terdekat sangat penting. Misalnya, dari suami atau orangtua dari ibu dan ayah untuk membantu mengurus anak. Ini terutama pada saat ibu mengalami emosi negatif atau kelelahan.

“Ibu yang baru melahirkan perlu meluangkan waktu untuk beristirahat. Lakukanlah relaksasi atau kegiatan lain yang menyenangkan seperti membaca buku atau mendengarkan musik,” kata Amanda.

Amanda juga menganjurkan agar ibu dan ayah banyak mencari informasi seputar perkembangan dan pola asuh anak usia 0-5 tahun. Semakin bertambahnya pengetahuan tentang perawatan dan pengasuhan bayi, kekhawatiran pemicu baby blues akan mereda. Sementara itu, Neta merasa bersyukur, berkat dukungan dari suami dan keluarganya, ia bisa melalui masa-masa baby blues.

“Saya mengatasi baby blues dengan dukungan dari suami dan keluarga. Saya berkomunikasi dengan suami, berbagi tugas, berbagi waktu bergadang, suami juga mau bantu gantiin popok, mandiin bayi, gendong bayi, dan lain-lain. Mama atau ibu mertua juga kadang datang untuk bantu momong bayi. Saya juga curhat ke mama,” kata Neta.

Masa baby blues biasanya akan mereda dengan sendirinya. Terkecuali jika dibutuhkan, Amanda menuturkan, ada terapi yang sifatnya menenangkan kondisi emosional ayah dan ibu. Misalnya melalui art therapy, music therapy, play therapy, dan hipnotherapy. [KUL]

Foto Ilustrasi: Etalase Bintaro/Dok. Abe Murtedjo

Comments

comments