keuangan

Jurus Ampuh Kendalikan Hasrat Belanja

Tabungan nyaris habis, limit kartu kredit jebol, sepatu-tas-baju menumpuk di lemari tetapi jarang dipakai. Bisa jadi, ini adalah tanda-tanda yang menjurus ke arah shopaholic. Jadi, mari sekarang meneliti diri sendiri. Pernahkah Anda merasa gaji cepat habis padahal baru awal bulan?

Ketika mendapat gaji pertama kali, biasanya ada rasa kepuasan. Kepuasan ini muncul ketika melihat jumlah uang nominal lebih pada satu waktu. Dorongan ingin berbelanja pun berkembang. Jika tidak dikendalikan, hasrat belanja bisa berlebihan. Akibatnya, stabilitas keuangan jadi timpang. Pengeluaran lebih besar daripada pendapatan. Tanda lainnya, tagihan kartu kredit membengkak, pembayarannya pun jadi kewalahan.

Menurut Psychguide.com, ada beberapa kategori shopaholic. Pertama, compulsive shopaholic. Tipe ini berbelanja ketika mengalami masalah terkait emosional, stres adalah salah satunya. Kedua, trophy shopaholic. Tipe shopaholic ini agak unik karena sosok ini hanya mencari barang-barang atau produk yang sempurna.

Ketiga, shopaholic yang menginginkan kesan sebagai orang yang banyak mengeluarkan uang dan memilih barang-barang yang berkelas. Keempat, bargain seekers. Seperti arti istilahnyanya yang membeli barang tidak penting karena sale, demikian pula dengan bargain seekers.

Kelima, bulimic shoppers. Tipe shopaholic ini juga agak unik. Mereka akan membeli suatu barang yang bisa ditukar kembali jika tidak cocok. Oleh karena alasan apa pun, mereka mengembalikan barang yang sudah dibeli untuk mendapatkan uang kembali atau barang pengganti. Terakhir adalah collector. Tipe ini merasa ada yang kurang jika membeli barang tidak sekaligus satu seri dalam berbagai warna.

Inilah pentingnya mengendalikan hasrat belanja. Agar kondisi keuangan tetap aman, ada beberapa cara untuk mengerem keinginan berbelanja melebihi batas.

Kenali penyebab       

Jangan dikira keinginan berbelanja hanya dipicu oleh hobi belanja. Faktor penyebab lainnya antara lain stres, tergoda oleh diskon, dan keinginan untuk selalu mengikuti tren. Sejumlah riset menunjukkan tingkat kepuasan berbelanja hampir setara dengan tingkat kepuasaan dalam hubungan suami-istri. Inilah yang membuat setelah berbelanja, ada kegembiraan yang didapat.

Definisikan keinginan dan kebutuhan

Ketika melihat suatu barang dan tertarik, sebaiknya tanyakan pada diri sendiri, apakah barang ini dibutuhkan atau hanya sekadar tertarik? Jika barang atau produk itu adalah kebutuhan (misalnya peralatan kamar mandi), produk atau barang itu pasti akan selalu dipakai. Jika produk atau barang tersebut mungkin hanya dipakai 1-2 kali, bisa jadi itu adalah keinginan.

Mengatur anggaran

Ketika mendapatkan gaji pertama kali, janganlah memikirkan pembelanjaannya. Sebaiknya, segera bagi dalam pos-pos tersendiri. Misalnya, 20% pemasukan digunakan untuk tabungan. Sebesar 30% untuk membayar cicilan rumah atau kendaraan dan kartu kredit. Jumlah 20% untuk membiayai pengeluaran rumah tangga mulai dari listrik dan air hingga sabun cuci piring. Sebesar 10% untuk dana cadangan dan 20% sisanya untuk bersenang-senang, termasuk belanja.

Kelola kartu kredit

Kartu kredit bukanlah metode untuk berbelanja gratis, tetapi berbelanja dengan utang. Jadi, pertimbangkan matang sebelum Anda “berutang”. Lebih baik, gunakan kartu kredit untuk pembelanjaan kebutuhan. Misalnya, saat Anda butuh pembelian tiket pesawat terbang atau cicilan pembelian furnitur karena yang lama rusak dan tidak bisa dipakai lagi. Pertimbangkan pula sisi keuangan Anda agar bisa melunasi tagihan kartu kredit tepat waktu. [KUL]

Foto ilustrasi: Etalase Bintaro/Prasto 

Lokasi: Bintaro Jaya Xchange

Comments

comments