apologize2

Mengapa Perlu Minta Maaf pada Anak?

Sudah menjadi tugas orangtua untuk mendidik anak agar buah hati menjadi sosok yang berkepribadian positif di masa depan. Permasalahannya, tidak jarang anak membandel sehingga sebagai orangtua, kita kerap memarahi anak. Namun, pernahkah Anda sebagai orangtua meminta maaf pada anak, misalnya karena Anda bersikap terlalu keras, atau tidak menepati janji tertentu?

Posisi yang “lebih tinggi” dengan kewenangan lebih kerap membuat orangtua merasa di atas angin. Seringkali orangtua membuat kesalahan pada anak dan merasa tidak bersalah. Contohnya cukup banyak. Misalnya, orangtua menjanjikan jalan-jalan ke taman bermain pada hari Minggu dengan anak. Namun, karena suatu hal, entah pekerjaan atau arisan, janji ini dilanggar. Aktivitas jalan-jalan bersama anak tidak jadi dilakukan.

Contoh lain, anak dijanjikan akan mendapat mainan yang diidam-idamkan ketika nilainya bagus di sekolah. Akan tetapi karena lupa atau ada kebutuhan keuangan lainnya, anak tidak jadi mendapatkan mainan impiannya. Dalam situasi ini, orangtua merasa tidak masalah karena anak bisa dibelikan mainan pada kemudian hari.

Padahal, perasaan anak-anak jauh lebih sensitif. Dibandingkan orang dewasa yang telah mampu menangani kekecewaan dengan baik, anak-anak justru merasa sangat sedih dan kecewa jika orangtua tidak menepati janjinya.

Bisa jadi, sebagai orangtua, Anda menganggap hal ini sepele. Tak dinyana, efek melanggar janji atau kesalahan orangtua yang tidak diakui lainnya mempengaruhi kepribadian anak. Sejumlah pakar psikologi menyebutkan, anak dapat menjadi kehilangan kepercayaan pada orangtuanya.

Orangtua adalah pihak yang paling dekat dengan anak. Jika anak kehilangan kepercayaan pada orang terdekatnya, anak pun akan semakin mudah kehilangan kepercayaan pada orang lain. Dalam jangka panjang, anak cenderung menjadi sosok yang tidak percaya diri. Emosi anak pun menjadi tidak stabil. Secara psikologis, anak pun merasa tidak diperhatikan dan tidak dihargai. Alasannya, orangtua melakukan kesalahan dan tidak mau mengakuinya serta minta maaf.

Cara minta maaf

Sebagai orangtua, seberapa sering Anda merasa Andalah teladan bagi anak-anak? Anak akan meniru perilaku dan perbuatan orangtuanya. Ini tidak terkecuali dalam hal minta maaf. Jika anak merebut mainan temannya dan Anda memarahi serta menyuruh anak untuk minta maaf pada temannya, apakah Anda sebagai orangtua pernah meminta maaf jika melakukan kesalahan?

Apabila Anda berani meminta maaf pada anak dan mau memperbaiki kesalahan, anak pun akan belajar tentang meminta maaf. Anak juga akan merasa lebih dihargai jika orangtua berani meminta maaf dengan tulus.

Namun, tantangan terbesar ketika meminta maaf pada anak adalah rasa gengsi. Biasanya, anak-anaklah yang kerap melakukan kesalahan. Bisa jadi karena ini orangtua menjadi gengsi karena merasa hampir tidak melakukan kesalahan pada anak. Padahal, berbohong kecil-kecilan pun bisa dikatakan kesalahan pada anak.

Untuk meminta maaf, satu-satunya cara adalah membuang rasa gengsi. Cara meminta maaf orangtua pada anak pun berbeda. Sebelum meminta maaf pada anak, sebaiknya tenangkan diri terlebih dulu. Jika anak masih dalam kondisi marah, biarkan kemarahan anak mereda. Begitu waktunya tepat, yaitu saat Anda tenang dan kemarahan anak surut, ajaklah anak berbicara di tempat yang tenang.

Ungkapkan kata-kata maaf dengan baik dan tulus. Hindari kata-kata yang balik menyalahkan anak. Sebaliknya, ajaklah anak berbincang mengenai peristiwa yang terjadi. Berikan pemahaman dari sudut pandang orang dewasa dan katakanlah dalam bahasa sederhana agar anak menjadi paham.

Mungkin Anda merasa tidak terbiasa meminta maaf pada anak. Namun, tidak ada manusia yang luput dari kesalahan, termasuk ketika kita berperan sebagai orangtua. Jadi, marilah belajar meminta maaf bermula dari meminta maaf pada anggota keluarga kita sendiri. [KUL]

Foto: Shutterstock

Comments

comments