01_web

Warung Modern Bergaya Industrial di Serpong

Apa yang terbayangkan di benak Anda ketika mendengar tentang warung? Sebuah area bersantap yang riuh. Tempat duduk berdesakan. Asap dari masakan dan aroma lezat bercampur bau keringat karena gerah. Membayangkan warung terasa kurang menarik. Menuju kantin bisa jadi keterpaksaan untuk kebutuhan makan. Namun, pandangan tentang warung akan berubah ketika Anda menginjakkan kaki di salah satu sudut kawasan Serpong, Tangerang.

Bangunan dengan bagian depan kaca berpanel merah itu cukup menarik perhatian di kawasan ruko Neo Arcade Gading Serpong. Kekini nama warungnya. Tidak seberapa besar. Akan tetapi, langkahan kaki ke dalamnya membawa Anda pada suasana yang berbeda.

Rumahan

Meskipun menggunakan embel-embel kata “warung”, tampilannya jauh lebih dari sekadar warung. Lebih mirip kantin, tetapi lebih bersih dan tertata. Kesan industrial yang modern juga lekat terasa. Dinding kelabu menyiratkan kesan bersahaja, tetapi hangat dengan sentuhan merahnya susunan bata. Deretan meja kayu tertata rapi, siap menyambut siapa saja yang masuk ke dalamnya.

Anda bisa memilih duduk salah satu di antara meja-kursi kayu yang kokoh bertopang logam. Sejumlah lampu yang dipasang pada panel logam yang melintang siap memberikan semburat sinar hangat di waktu malam. Di ujungnya, rekahan sinar kuning pucat menyinari salah satu sisi yang ditata serupa rak. Di sanalah Anda bisa memilih beragam jenis masakan ala rumahan.

Sebutlah sayur asem, sayur lodeh, tumis pare, semur ayam kentang, ayam goreng, cumi asin cabe ijo, sambel goreng ati kentang, dan beragam menu lainnya. Melihat menu-menu di sini sejenak mengingatkan pada masakan ibu di rumah.

“Saya lihat banyak teman-teman yang bekerja di sekitar daerah ini itu kebanyakan merantau atau sudah tidak punya ibu. Jadi, kami buatkan masakan yang bisa membuat orang kangen dengan ibunya. Misalnya, tempe goreng, masakan-masakan yang lebih simpel, seperti masakan rumah,” ungkap Indra, pendiri sekaligus pemilik Kekini.

Indra mengungkapkan, sudah sejak lama ia terdorong untuk mendirikan warung tegal atau warteg. Dorongan ini muncul ketika melihat rekan-rekan kerjanya yang sering kesusahan mencari makan siang. Indra mengaku, ia ingin menyajikan warung dengan makanan yang lebih enak daripada sekadar warteg. Meskipun sebutan “warung” sempat diprotes karena tampilan Kekini yang sepintas mirip kafe, Indra tetap ingin menggunakan nama warung.

Kekini buka sejak pukul 08.00 WIB. Tujuannya adalah memberikan pilihan sarapan yang sehat dan enak untuk para karyawan, mahasiswa, atau akademisi yang bekerja atau kuliah di sekitar kawasan Gading Serpong.

Salah satu sudut interior Kekini di lantai dasar.

Salah satu sudut interior Kekini di lantai dasar.

Sedap dan sehat

Semua menu di Kekini disajikan dalam bentuk prasmanan. Setiap pengunjung bebas mengambil nasi sendiri dan menambah nasi. Dengan tiga kali masak dalam sehari, menu-menu di Kekini diusahakan tetap segar dan hangat.

Bagi Anda yang tidak terbiasa, cita rasa masakan di Kekini sedikit berbeda. Indra menuturkan, setiap masakan di Kekini diolah tanpa menggunakan bahan penguat rasa atau tanpa MSG. Rasa yang dihasilkan pun berasal dari olahan bumbu dan rempah. Meskipun demikian, kelezatannya tetap kuat terasa. Menu-menu di Kekini pun ramah di kantong.

Jika diperhatikan lagi, tidak ada peralatan dapur di Kekini. Proses pemasakan bahan makanan dijalankan di tempat lain agar uap masakan tidak menempel pada tubuh dan pakaian serta menghindari tamu merasa gerah.

“Di sini memang tidak ada kompor, uap-uap masakan tidak ada. Menu-menu dimasak di tempat lain. Setelah matang ditutup dengan plastik wrap dan langsung dibawa ke Kekini dan disajikan. Jadi, tidak banyak ganti wadah dan lebih higienis,” jelas Indra.

Area Kekini terdiri dari tiga lantai. Lantai pertama adalah lokasi utama untuk warung. Lantai kedua adalah kafe, lengkap dengan panggung musik akustik. Sementara itu, lantai ketiga difungsikan sebagai galeri seni. Jadi, selain bersantap, Anda pun bisa bersantai usai bekerja atau menghabiskan akhir pekan di Kekini, baik di kafe lantai dua, ataupun galeri seni di lantai tiga.

“Saya pilih nama Kekini. Orang bilang kekinian itu modern. Saya membuat Kekini, sesuatu yang lucu, mudah menyebutnya, makanya saya pakai itu. Jika dilukiskan dalam tiga kata, Kekini itu warung-murah-sehat,” pungkas Indra. [KUL]

Foto-foto: Etalase Bintaro/Nikikula

Comments

comments