3008 cerpen shutter)

Cerita Malam

Oleh Wilda Lestari

Puncak malam telah lewat. Ibu Kota mulai tenang. Tanpa riuh klakson, tanpa deru knalpot. Tidak ada celotehan dan canda orang bergadang dengan gitar. Sesekali, hanya terdengar lalu lalang kendaraan. Sayup-sayup.

Di salah satu sudutnya, suatu tempat di bawah langit, satu sosok berambut kelabu panjang meringkuk di sudut antara dua ruko. Dengkurnya halus. Tangannya yang berbalut baju lusuh melingkar pada satu makhluk berbulu.

Erangan terdengar dari antara sela-sela wajah yang bercambang. Mendadak sosok berambut kelabu bergerak gelisah. Ia terjaga setengah sadar. Diusapnya pundak dengan gusar. Seekor kecoa berkeliaran menggelitiki tubuhnya. Laki-laki tua itu mengumpat.

Kecoa pergi, laki-laki tua itu mencoba tidur lagi. Susah rupanya. Dari atas ruko, sayup-sayup rangkaian lagu Sting terdengar. Tidak jelas sekali, tetapi cukup menampilkan potongan-potongan film masa lalunya.

And though you hold the keys to ruin of everything I see

With every prison blown to dust my enemies walk free

Though all my kingdoms turn to sand and fall into the sea

I’m mad about you, I’m mad about you

Kira-kira 7 tahun lalu, bukan makhluk berbulu cokelat yang ia elus. Punggung halus mulus melengkung di atas kasur empuk yang ia belai. Rambut sutera legam panjang yang mengikal di ujung memperindah punggungnya.

Laki-laki itu ingat kecupan setiap malam saat terjaga untuk si cantik di pelukannya.

Si cantik akan mendesah manja. Tak lama, akan terdengar hembus nafasnya yang teratur, pengganti dengkur. Pagi hari tiba, si cantik tampak semakin memesona ketika membuka mata. Bulu matanya begitu lentik, seperti lambaian bulu sutera ketika ia mengedip.

Si cantik ternyata tidak hanya lelap di pelukannya, suaminya. Si cantik juga menjajal anak lelakinya, anak lelaki tiri perempuan berambut panjang legam itu. Laki-laki tua mengetahuinya terlambat, ketika anak lelakinya berucap padanya tentang sebuah rahasia. Ternyata pengakuan itu adalah perpisahan putra tunggalnya. Didera rasa bersalah, sang anak memutuskan melupakan semua dan bertualang menjelajah benua Amerika, dari Lima hingga Ottawa.

Laki-laki tua lagi-lagi terlambat. Si cantik tidak hanya bersama anak tunggalnya. Si cantik mengungkapkan rencana pernikahannya dengan si pengacara, kuasa hukum pribadi sang laki-laki renta. Bagaimana bisa jika si cantik tidak pernah meninggalkannya? Bagaimana bisa si cantik berpisah dengannya tanpa sepakat cerai?

Si cantik tertawa. Dibentangkannya surat cerai, lengkap dengan semua goresan tanda tangannya. Bagaimana bisa? Si cantik tertawa. Rahasia, katanya. Akan tetapi, laki-laki renta akhirnya mengetahui, pengacara pribadilah di belakang itu semua.

Laki-laki tua didepak dari rumahnya. Menyusul berita yang membuat menganga. Perusahaan yang ia bangun sedari benih hingga raksasa Indonesia seketika dikabarkan bermasalah dengan pajak dan tersangkut kasus pencucian uang. Perusahaan ditutup. Semua aset disita. Kecuali, aset yang diubah dengan atas nama pengacara. Awalnya, lelaki tua tidak percaya. Usahanya berjalan lancar, benar, pajak dibayar tepat waktu, bagaimana bisa terjadi hal itu?

Kini, jalan adalah rumah laki-laki tua. Emperan toko adalah tempat tidurnya. Gelandangan adalah sahabatnya. Para preman adalah bosnya. Laki-laki tua kehilangan segalanya.

Dark angels follow me

Over a godless sea

Mountains of endless falling

For all my days remaining

What would be true?

Lagu Sting berganti. Laki-laki renta mendesah. Semua yang ia punya lenyap. Sekarang hanya ada Bronto. Makhluk berbulu cokelat itu menghampirinya ketika ia melintasi suatu permukiman padat beberapa bulan lalu. Laki-laki renta baru saja memanggul karung berisi kardus dan botol kosong ketika didengarnya pekik teriak para bocah bersamaan dengan derap kaki berlari.

“Kejarrrr!!!” terdengar suara seorang bocah dari kejauhan.

“Tuk! Tuk! Tuk.”

Bunyi batu saling bersahutan. Disusul suara kaing melengking. Laki-laki renta menoleh ke belakang. Di antara keremangan senja, ia melihat seekor anjing lari terpincang-pincang, lalu tersungkur oleh hujaman batu.

“HEI!!!” seru laki-laki renta.

Suaranya yang serak-berat sarat berwibawa membahana. Anak-anak serentak terpana. Bergulir batu yang mereka genggam melihat surai perak laki-laki renta. Seorang anak mencoba melemparkan batu pada lelaki tua. Tidak kena. Batu sekepalan tangan orang dewasa itu hanya mengenai kaki telanjang lelaki tua.

“BERHENTI!!!” bentak laki-laki tua sambil mengacungkan tongkat besi penjumput kardus dan sampah.

“Sssttt… orang gila itu, orang gila.”

“Bukan, dia pemulung biasa.”

“Mana ada pemulung seseram itu. Ayo lari! Itu orang gila!’

“Iya. Jangan-jangan di karungnya, ia bawa bangkai. Badannya bau!”

“Lari!”

“Ayo, lari!”

“Lariiiiii!!!!”

Anak-anak itu berlarian meninggalkan laki-laki renta. Anjing pincang itu merapat pada dinding pagar rumah sambil mendengking pelan. Terlihat kesakitan. Laki-laki tua mendekatinya. Anjing itu menggeram, menggonggong, mengernyitkan dahinya. Laki-laki renta menghentikan langkahnya. Ia berjongkok dan berbicara pelan-pelan.

Anjing itu menggeram lalu menjilati kakinya. Kaki depan kanannyalah yang membuat terpincang. Laki-laki tua itu melihat darah segar mengalir di kaki anjing itu. Anjing itu menjilati kakinya kemudian mendengking pelan.

Laki-laki renta mengambil mangkuk plastik bekas dari karungnya. Dituangnya air dari botol air mineral bekas yang ditemukannya ke dalam mangkuk. Diangsurkannya mangkuk itu ke depan si anjing. Anjing kurus berbulu gimbal itu mengendus-endus, melirik si laki-laki renta, kemudian meminum air di dalamnya.

Selesai minum, anjing itu menggeser-geserkan tubuhnya, merapat pada tembok pagar. Anjing itu menggeram ketika laki-laki renta mendekat. Laki-laki tua itu melihat kepala anjing itu berdarah. Ada bercak darah di kepala hingga telinga kirinya. Anjing itu kembali mendengking pelan. Ia menjilati kulit kaki depannya yang terluka. Kemudian matanya meredup.

Laki-laki renta mengangkat anjing itu. Anjing itu meronta sambil menggeram. Tapi, tubuh kurusnya terlalu lemah dan lelah. Akhirnya pasrah. Laki-laki renta itu menggendong anjing itu dengan hati-hati.

Saat pertama kali menggendong anjing dekil itu, laki-laki renta merasa dejavu. Pernah ada cerita menggendong anjing yang sama. Tidak, bukan, hampir sama. Adegan ini sama ketika ia masih menghuni istana bercat biru muda, ia pernah menggendong cocker spaniel cokelat muda.

Si Jelita berambut ikal di ujung menyambutnya sukacita. Ia raih cocker spaniel dari tangannya. Betapa cantiknya si Jelita yang larut dalam tawa dan senyum. Ia menari-nari bersama cocker spaniel itu.

“Aku akan merawatnya. Aku cinta anjing ini,” kata si Jelita.

Laki-laki renta tersenyum melihatnya. Anjing cantik untuk perempuan cantik, perpaduan apik. Hampir setiap hari si Jelita bermain-main dengan anjingnya. Bahkan, tidak jarang si lelaki tua terlupakan sementara demi anjingnya. Suatu ketika, lelaki tua harus pergi ke luar kota selama beberapa lama.

Ketika ia kembali, ia mendapati anjing cocker spaniel itu merana. Satu sofa terbuka, menampakkan busa. Tidak ada salak dan tawa seperti biasa. Lelaki tua memanggil cocker spaniel. Satu kali, dua kali, tiga kali. Akhirnya muncul dia. Cocker spaniel mendekat, mengendus, tanpa semangat. Ada bekas luka melintang di punggungnya, tanpa tertutup bulu. Lelaki tua bertanya pada si Jelita.

“Anjing itu nakal. Kencing di mana-mana. Anjing nakal itu juga merusak sofa. Jadi, aku menghukumnya. Kupukul dia. Jatah makannya separuh saja,” kata si Jelita, enteng.

Lelaki tua terenyak. Ia memandang anjing cantik yang meringkuk di sudut ruangan. Matanya sendu. Laki-laki tua itu akhirnya merawat si cocker spaniel. Namun, usaha yang dibangunnya membuat laki-laki itu harus sering pergi ke luar kota. Sayangnya, kepergiannya kali ini lebih lama. Ia was-was meninggalkan cocker spaniel dengan si Jelita. Lalu diingatnya, sejumlah pembantu yang setia. Lelaki tua pun pergi bekerja dengan meninggalkan segudang pesan.

Ketika ia kembali, tidak ada suara gonggongan riang menyambut. Tidak ada kibasan ekor penuh semangat. Tidak ada lonjakan bertumpu pada dua kaki berbulu. Anjing itu sudah tidak ada, kata si Jelita. Anjing itu sakit saat kautinggal pergi. Tidak lama, anjing itu mati.

Laki-laki tua tidak percaya. Namun, semua pembantunya tidak berani berkata. Laki-laki berambut kelabu itu hanya menarik satu makna, si cocker spaniel tiada. Duka menyelinap di hati laki-laki tua. Tak ingin lagi ia memandang si Jelita yang baru dua tahun dinikahinya.

On and one the rain will fall

Like tears from the stars, like tears from a star

On and on the rain will say

How fragile we are, how fragile we are

Bibir laki-laki tua bergerak, mendengung, mengikuti irama lagu Sting. How fragile, betapa rapuh, betapa rapuhnya ia pada cinta dan tipu daya. Betapa rapuhnya ia pada duka. Masa-masa itu memang berlalu. Sudah lama, tapi serasa baru kemarin lusa. Semua masih segar dalam ingatannya.

Lelaki tua mendekap Bronto, anjing kampung tak sempurna yang ditolongnya. Ujung kaki depan kanan anjing itu agak menekuk ke dalam saat berdiri dan berjalan. Kuping kirinya terlihat lebih kecil dan kuyu bekas robekan. Mereka berbaring beralas kardus. Sesekali laki-laki tua menepuk tangan dan kakinya. Vampir-vampir mini bernama nyamuk itu seolah tidak mudah menyerah menyerap darahnya.

Dengan Bronto, laki-laki tua merasa lebih bermakna. Bronto anjing yang bahagia dan paling setia. Ekornya tidak tebal, tidak panjang, tetapi selalu berkibas girang ketika menemukan makanan segar di tengah tumpukan sampah. Sepotong roti yang dibuang atau bungkusan nasi yang habis setengah menjadi menu sehari-hari laki-laki tua. Tak lupa separuh untuk Bronto. Minum, ia ambil dari keran masjid, atau sampah botol air mineral yang masih berair.

Kalau beruntung, ia mendapat makan dari para penderma. Apalagi pada bulan puasa, setiap sore laki-laki tua serasa berpesta. Bulan puasa berakhir, pestanya tidak lagi hadir. Laki-laki tua kembali seperti biasa. Memungut dan mendapatkan makanan dari mana saja.

Lelaki tua pemulung yang cermat. Ia menjual sampah di bank sampah demi mendapat beberapa lembar rupiah. Rupiah demi rupiah ia kumpulkan, jadi tambahan untuk beli makan, jadi tambahan untuk beli pakaian di penjual loakan. Sayang, acapkali ia harus berbagi penghasilan untuk para preman.

Tidak, laki-laki tua tidak ingin mengemis dan mengamen. Walau wajah telah bercambang, rambut memanjang, perut buncit menjadi cekung, dan pundak tegak melengkung, tetap saja tidak ada alasan ia tidak dikenal.

Ia takut menadahkan tangan. Ia takut memandang orang. Ia takut percik kehidupan lama kembali datang. Ia hanya mau kenyataan: gelandangan tanpa singgahan. Karenanya, setiap malam ia berganti lokasi penginapan dengan langit telanjang. Tetap saja, Ibu Kota tidak berbintang. Para bintang takluk pada sinar lampu pada tiap bangunan yang menjulang.

Semasa kaya raya, laki-laki tua itu merasa memiliki Ibu Kota. Semua yang gemerlap di dalamnya bisa menempel pada dirinya. Mau apa? Wanita paling jelita, dia pernah punya. Mobil paling mahal di dunia, pernah ia jadi pengendaranya. Rumah yang menyaingi istana menjadi tempat tinggalnya. Semua makanan terlezat di dunia pernah mampir di lidahnya. Kurang apa?

Ternyata ia salah sangka. Bukan semasa kaya ia memiliki Ibu Kota, justru saat papa. Ia bisa ke mana saja yang ia suka. Setiap sudut Ibu Kota, ia jelajah. Ia tidak perlu berpikir cara mengamankan harta, karena memang tidak ada. Ia merdeka bertemu siapa saja.

Akan tetapi, Ibu Kota tetaplah Ibu Kota. Ia terasing meskipun menghabiskan seumur hidupnya di sana. Bagi lelaki tua, Ibu Kota tak ubahnya dengan New York. Berkali-kali ia menginjakkan kaki di Kota Big Apple itu demi kepentingan bisnis. Tidak jarang pula ia mengitari isinya, Times Square hingga Central Park. Perasaannya tetap sama. Asing.

If “manners maketh man” as someone said

Then he’s hero of the day

It takes a man to suffer ignorance and smile

Be yourself no matter what they say

            I’m an alien, I’m a legal alien

            I’m an Englishman in New York

            I’m an alien, I’m a legal alien

            I’m an Englishman in New York

Laki-laki tua menyadari, malam akan beralih ke pagi. Masjid di gang seberang jalan mulai berkumandang. Namun, justru sekarang kantuk datang. Ia kembali tergolek di sudut antara dua ruko bersama Bronto.

Matanya baru meregang ketika terang matahari menyilaukan. Punggungnya serasa ditendang. Ia berbalik. Mendelik. Pemilik toko memegang sapu, meneriakkan pengusiran. Bronto menggonggong garang. Laki-laki tua menyuruh anjingnya diam. Ia berdiri, mengibaskan baju dan celana, lalu melenggang pergi. Ini bukan pertama kali. Bronto melenggang dengan ekor bergoyang di sampingnya.

Ia bersenandung. Perutnya berkeriuk. Saatnya mengorek sampah, mencari “sarapan pagi”.

Bintaro, Agustus 2016

Ilustrasi: Shutterstock

Comments

comments