2808-parenting (shutter)

Ajak Si Kecil Kelola Emosinya

Keinginan tidak diturut, anak langsung menangis, bergulung-gulung di lantai, dan menjerit-jerit. Jika menghadapi situasi semacam ini, apa yang Anda lakukan sebagai orangtua? Mungkin karena tidak tahan mendengar tangisan anak, keinginan anak segera dituruti. Ketika anak minta mainan, segera dituruti. Tahu apa akibat dari selalu menuruti keinginan anak?

Anak menjadi manja dan merasa dapat mengendalikan orangtuanya. Bisa jadi Anda lalu berpikir, nanti kalau sudah dewasa, anak pasti mengerti, tidak manja, dan jadi lebih mandiri. Padahal, belum tentu. Sifat anak bisa melekat hingga dewasa. Untuk itulah pentingnya mengajarkan anak untuk mengenali emosi dan membentuk karakternya.

Ragam emosi

Sebenarnya emosi anak tidak jauh berbeda dengan emosi orang dewasa. Namun, emosi anak bisa mengarah pada tingkat yang ekstrem karena mereka merasa lebih bebas dalam meluapkan emosinya. Anak yang mudah menangis karena keinginannya tidak dipenuhi, menjerit-jerit, dan berguling-guling di lantai adalah emosi temper tantrum. Emosi ini umum terluapkan oleh sejumlah anak.

Jika anak suka memukul, menggigit, atau melukai secara fisik adalah contoh sifat anak yang agresif. Ketika menyakiti orang lain secara fisik, anak biasanya mendapatkan rasa kepuasan karena emosinya telah terlampiaskan. Ini bisa terjadi karena anak mempunyai perasaan tertekan dalam dirinya. Didikan orangtua yang terlalu keras juga bisa membuat anak melampiaskan kekesalan dengan melukai orang lain secara fisik.

Sifat ekstrem anak yang lain adalah takut dan pemalu. Misalnya, takut bertemu dengan orang baru dan tidak mau ditinggal sendiri. Bisa jadi ini disebabkan karena anak kurang bersosialisasi dengan orang baru atau sikap orangtua yang terlalu keras. Emosi ini juga sebaiknya dikelola agar saat tumbuh dewasa, anak menjadi sosok yang lebih percaya diri.

Membimbing anak

Pertanyaan selanjutnya, bagaimana cara menangani emosi anak yang negatif? Meskipun Anda sebagai orangtua merasa terpancing emosi, usahakan tetap tenang. Hindari berkata-kata kasar pada anak. Sebaliknya, katakan dengan tegas pada anak jika anak berbuat salah. Berikan pemahaman pada anak jika mereka melakukan perbuatan yang tidak menyenangkan pada orang lain. Bila anak masih dalam kondisi emosi negatif seperti berteriak-teriak atau memukul, diamkan sejenak hingga anak merasa lelah dan mulai tenang.

Cobalah memahami emosi anak dan mengenalkan anak pada emosinya. Misalnya, anak pertama marah dan berteriak-teriak ketika adiknya merebut mainan favoritnya. Dekati anak perlahan dan bantu anak menamai emosinya. Jelaskan padanya bahwa emosi sedih dan marah itu wajar, tetapi tekankan pada anak untuk tidak memukul adiknya atau merebut kembali mainan dari adiknya.

Jika anak melakukan temper tantrum, tunggulah agar anak menjadi lebih tenang. Pada saat itu, katakan pada anak untuk belajar bersabar dalam mendapatkan hal-hal yang diinginkan. Jika anak tetap merengek, tetaplah pada pendirian Anda. Sikap ini mungkin terlihat keras, tetapi mengajarkan pada anak tentang pengendalian diri.

Bila anak merasa malas dan mudah menyerah ketika mengerjakan hal-hal sepele, sebaiknya berikan motivasi pada anak. Tunjukkan perhatian dan contoh ketika mengerjakan tugas tertentu ketika anak mengalami kesulitan. Misalnya ketika merapikan mainannya.

Untuk mengajarkan anak tentang tanggung jawab, sebaiknya jangan memberi contoh dengan menyalahkan anak orang lain ketika anak berbuat kesalahan. Ajarkan agar anak menanggung kesalahannya sendiri dan memperbaikinya. Sebagai contoh, ketika anak tetap bandel berlari-lari di jalan yang berbatu meskipun sudah diingatkan dan terjatuh kemudian menangis. Sebaiknya jangan buru-buru mengangkat anak. Biarkan anak belajar berdiri dari kejatuhannya sendiri. Meskipun anak menangis, sebaiknya jangan terlalu terburu-buru ditenangkan. Tunggulah tangis anak sampai agak reda, kemudian beritahukan padanya untuk mentaati perintah orangtua dan bertanggung jawab jika tetap membandel.

Ajaklah anak bergaul dengan lebih banyak orang, baik dengan teman sebaya maupun orang yang lebih dewasa. Biarkanlah anak bergaul dengan bebas, tetapi tetap awasi lingkungan pergaulan anak. [KUL]

foto: shutterstock

noted: Ajak Si Kecil Kelola Emosinya

Comments

comments