1808 cerpen( shutter)

Jangan-jangan

Oleh Wilda Lestari

Dingin…
Kurapatkan jaket, kudekap tas di depan dada. Guyuran hujan sedari sore hingga malam membuat udara bulan Agustus ini kian menusuk tulang. Belum lagi ditambah hembusan angin malam, rasa dingin seolah tak tertahan.

Rumahku sebenarnya tidak jauh dari stasiun kereta. Kira-kira 500 meter saja. Namun, berjalan sendirian malam-malam dari stasiun kereta sampai rumah, tetap tidak menyenangkan. Ingin pesan gojek, ponselku mati kehabisan baterai. Powerbank ketinggalan di kantor, lengkap sudah. Pasrah.

“Errgghhh…. ” aku mengerang kesal. Malas sekali harus melintasi gang dekat rumah ini. Remang-remang, nyaris tidak ada penerangan kecuali lampu redup pucat kekuningan di ujung jalan. Selebihnya, gulita. Aku menghela nafas panjang, lalu melangkah ke dalam gang. Sebenarnya gang di dekat stasiun kereta ini biasanya cukup penerangan sepanjang malam. Entah mengapa malam ini lampu sepanjang gang tak menyala.

Gang selebar satu meter ini benar-benar kurang cahaya, aku harus memicingkan mata agar bisa melihat ke depan. Aku berjalan agak pelan, takut tersandung bebatuan. Hawa dingin masih terasa. Kusilangkan tangan di depan dada. Tiba-tiba terdengar langkah kaki di belakang…

Kutoleh, ada sosok gelap tinggi dengan jaket bertudung.

Jantungku berdebar. Pukul 2 dinihari, siapa yg mau keluar pada jam jam segini? Kecuali… Orang-orang yang bermaksud jahat. Kata almarhum ibu, jam 2 malam sampai jam 4 pagi adalah waktu maling beraksi. Jangan-jangan…..

Kupercepat langkah. Tapi justru, derap langkah orang itu semakin memburu.
Langkahku kupercepat lagi. Dia seolah tidak mau kalah. Suara rendah yang parau terdengar dari belakang ku. Aduh, bagaimana ini? Ujung gang ini masih jauh. Apa yang harus kulakukan?

Aku jalan hampir berlari, gara gara lembur, aku menyesal pulang jam segini. Harusnya tadi kerjaan kubawa pulang biar tidak pulang kemalaman. Langkah orang itu semakin cepat. Suara geraman terdengar dari belakangku. Aku berusaha lari, tapi tiba-tiba tangan sedingin es mencengkeram pundakku dari belakang. Kakiku tiba-tiba kaku..

“Jangan… Jangan… Jangan sakiti saya, ” aku menangis terguguk.
Tiba-tiba, pundakku ditarik keras ke belakang.

Tubuhku gemetar. Aku seakan tidak mampu bergerak. Kakiku seperti disemen, kaku. Sosok berbakat gelap bertudung itu mendekatkan wajahnya padaku. Kurasakan hembusan nafasnya menyapu wajahku. Kupejamkan mata rapat-rapat.

“Kenapa baru pulang jam segini? Kutunggu di depan gang dari jam 8 tadi sampai mau flu, ” orang itu berkata dengan suara parau.

Sosok tinggi itu lalu membuka tudung jaketnya sambil terbatuk-batuk. Itu kakakku. Ketakutanku perlahan mulai sirna. Aku sudah berpikir negatif tadi.

“Kenapa HP mu ditelpon nggak bisa?”
“Baterainya habis, ” jawabku polos.
“Tahu nggak, aku mencemaskanmu, ” kata kakakku.

Aku menatapnya, bengong sejenak. Sulit kupercaya dia begitu perhatian padaku. Biasanya dia cuek. Tapi dia kelihatan serius. Mungkin dia benar-benar khawatir. Setelah kedua orangtua kami meninggal, kakakkulah satu-satunya anggota keluargaku. Menunggu dari jam 8 di tengah hujan tadi? Luar biasa. Sekarang hampir jam setengah tiga dinihari. Aku tersentuh. Kupeluk erat tubuhnya yang menjulang.

“Terima kasih, Kak,” bisikku pelan.

Bintaro, Agustus 2016

foto: shutterstock

noted: Jangan-jangan

Comments

comments