21

Untungnya Menerima Kekalahan

Tidak setiap anak bisa menerima kekalahan. Butuh perjuangan besar untuk sekadar mengakui, apalagi menerima apa adanya. Sudah menjadi tugas orang tua mendekatkan kekalahan pada anak, bukan malah menjauhkannya. Bukan menghindari, namun siap menghadapi. Tentunya dengan langkah-langkah yang tepat.

Kalah bukan berarti salah. Kalah dapat menjadi kesempatan belajar bagi anak-anak sebagai bekal menuju kemenangan. Mendekatkan anak mau menerima kegagalan tak lain juga mengajarkan nilai-nilai kehidupan yang seutuhnya. Bahwa tidak mungkin hidup akan selamanya mulus, tanpa rintangan sama sekali.

Biarpun menyakitkan dan meninggalkan sesak di dada, namun merupakan proses yang berharga. Anak akan belajar menyeimbangkan perasaan dan jiwanya dari kekalahan yang diterima. Lebih dari itu, anak lewat kekalahan anak bisa belajar mandiri menghadapi segala problem saat nanti tak lagi bersama orang tua.

Dimulai dari permainan sederhana

Sebagai orang yang mengawal, perkenalkan rasa kalah lewat permainan sederhana di rumah. Boleh antar orang tua dan anak, atau antar anak dengan saudaranya. Bisa saja di kesempatan pertama dan selanjutnya anak akan menjadi pihak kalah. Besarkan hatinya, namun jangan mau mengalah. Bantu dia dengan memberikan strategi dan kiat-kiat supaya bisa menang. Sehingga tahap demi tahap anak terus mengurangi bobot kekalahannya. Berubah manis menuju kemenangan.

Singkirkan perasaan tidak siap kalah

Anak tidak menerima kekalahan mungkin karena orang tua juga tidak menunjukkan sikap yang sama. Maka, mau tak mau, orang tua sendiri harus tetap tenang dan bijaksana menerima kekalahan. Perilaku orang tua jelas menjadi contoh paling nyata dan paling dekat bagi anak.

Selain itu, pelajari penyebab anak tidak siap dengan kekalahan. Seperti malu mengakui, tidak percaya diri, takut ditertawakan oleh teman-teman, tekanan sosial, respon negatif dari keluarga, umpatan dari lingkungan sekitar, dan lain-lain. Satu atau lebih faktor yang membuat anak jadi tak menerima, bantu anak membasminya.

Kalah adalah hal biasa

Kalah selalu meninggalkan rasa pahit. Kenangan buruk yang sepertinya tak perlu diingat. Walau demikian, tekankan bahwa kalah adalah proses alami yang mesti dirasa. Biasa terjadi dalam kompetisi atau tiap langkah dalam hidup ini. Tak perlu berkecil hati dan ogah menantang diri sendiri. Kalah itu sudah biasa, menang adalah bonus bagi yang mau berusaha.

Cari penyebabnya

Daripada terus menerus menggerutu atau murung diri, ajak anak berefleksi. Kumpulkan berbagai asumsi yang melatarbelakangi kegagalan. Barangkali anak kurang berusaha sekuat tenaga, kurang berlatih, tidak menguasai materi, atau lainnya. Dari refleksi, pelan-pelan anak belajar menerima dan selanjutnya meningkatkan kemampuan dirinya.

Jujur dan sportif

Menerima kekalahan dengan mengakui kehebatan lawan ialah tindakan yang bijaksana. Sejak awal anak tak perlu ragu bersalaman dan memberikan selamat. Turut menghargai semua jerih payah orang lain atas segala proses yang dilaluinya. Berikan dukungan pada anak yang juga telah jujur dan sportif kepada pesaingnya. Mungkin si kalah kerap kurang dipuji, namun juga tetap pantas diapresiasi. (LAF)

 

Foto ilustrasi: Istimewa

Follow Instagram @ETALASEBINTARO

Comments

comments