dream-1

Rantai Mimpi

Oleh Wilda Lestari

Tepat jam 12 malam. Seperti biasa, ia telah duduk di samping tempat tidurku. Laki-laki bermata biru. Rambutnya berkilau seperti emas. Dia selalu menyambutku dengan rekahan senyum.

“Kamu siap?” tanyanya.

Aku mengangguk. Dia menarik tanganku. Kami berdua pun melayang menembus dinding dan atap. Lalu terbang melintasi malam.

“Sekarang kita mau ke mana?”

“Coba tebak!”

Ia memamerkan senyum yang membuat jantungku seakan berhenti berdetak. Laki-laki bermata biru itu selalu mengajakku ke tempat-tempat yang tidak terduga. Misalnya saja, ia pernah menarikku ke dasar samudera. Anehnya, di dalam samudera, tak kutemukan batu koral dan ikan warna-warni seperti yang ada di foto-foto wisata. Laki-laki bermata biru itu justru menunjukkan ikan-ikan aneh yang berpendar dalam gulita. Namun, setiap kali ia membawaku, selalu saja ada yang terjadi.

Pagi harinya, aku dipanggil atasanku di kantor. Kemarahannya meletup-letup. Ia menuduhku telah memalsukan laporan keuangan gara-gara ada selisih biaya dalam hitungan. Selisih itu muncul setiap bulan. Aku berusaha membela diri. Kesalahan tidak mungkin terjadi karena aku telah memeriksanya dengan teliti. Kucoba membandingkan laporan yang diterima atasanku, laporan yang kususun, dan bukti-bukti transaksi. Ternyata ada komponen biaya yang luput dari atasanku. Catatan kecil yang kuselipkan karena komponen biaya tersebut ternyata tidak dibaca atasanku. Setelah kutunjukkan bukti, atasanku menyadari kesalahannya dan meminta maaf.

Pada suatu malam, laki-laki bermata biru itu mengajakku ke tengah padang gurun. Apa yang ia tunjukkan di sana? Hamparan pasir krem kekuningan tiada batas dengan langit biru yang menjadi pembatas horison. Kami berdua berdiri di sana sangat lama.

Setelah mengalami pertemuan itu, aku mengalami krisis keuangan pribadi yang sangat parah. Ibuku masuk rumah sakit untuk operasi. Rahimnya harus diangkat karena tumor dan kista yang terlanjur parah. Bersamaan dengan itu, adik-adikku membutuhkan biaya untuk membayar SPP sekolah dan kuliah. Terpaksa aku berutang pada sepupu sambil bekerja paruh waktu untuk mengumpulkan biaya. Perlu beberapa tahun sampai aku bisa melunasi semua utang.

Oleh karena itu, aku sedikit takut setiap kali ia mengajakku pergi. Namun, aku juga merindukan laki-laki bermata biru itu apabila dia tidak datang. Semula, kusangka laki-laki itu adalah seorang malaikat, tetapi ia tidak pernah menyebutkan namanya atau jati dirinya.

“Ini di mana?” tanyaku ketika kami mendarat.

Hanya ada kegelapan di sini. Ada hawa dingin teramat sangat di sini. Namun, bersama laki-laki bermata biru itu, hawa dingin seolah menyingkir. Genggaman tangannya menghangatkanku. Kurasakan kehangatan yang melingkupi sekujur tubuh.

“Ini Bromo. Kita akan melihat matahari terbit,” katanya.

Dalam kegelapan malam, kami berdua berdiri berdampingan dalam kelam malam tanpa suara. Suasananya memang sangat gelap. Bahkan, aku tidak bisa melihat sekelilingku. Namun, aku percaya ketika laki-laki bermata biru itu mengatakan ini adalah Bromo, pastilah ini Bromo.

Detik-detik menyaksikan matahari jingga yang menyembul di ufuk timur dengan malu-malu adalah momen yang mendebarkan. Pertama, kami hanya melihat warna oranye samar-samar menghapus langit yang hitam menjadi kelabu. Lalu muncul berkas-berkas warna ungu violet.

Lama-lama, warna jingga makin berkuasa, ungu violet melebar, dan kelamnya hitam semakin mundur seolah mengalah. Bulatan matahari pun menunjukkan diri, perlahan tetapi pasti. Dengan lanskap Gunung Bromo yang terjal dan berlapis awan putih seperti kapas, pemandangan ini sungguh indah.

Laki-laki bermata biru merapatkan diri dan memelukku. Ada kedamaian yang menyerbu dari hati hingga seluruh tubuhku. Badanku menggigil.

Tiba-tiba ia mengecup lembut dahiku.

“Selamat tinggal….” bisiknya.

“Hah? Apa maksudmu? Kau akan pergi?”

Kata-kataku seolah menembus udara. Dalam sekejap, ia lenyap. Meninggalkan bekas berupa ratusan bintang kecil-kecil yang melayang.

Seketika itu juga, tubuhku tersedot oleh kekuatan dahsyat. Seperti ada medan magnet yang menarik tubuhku yang terasa seperti batang besi. Kaku.

Begitu sadar, aku telah bangun dari tempat tidurku. Kusadari itu hanyalah mimpi. Seperti malam-malam lainnya. Mimpi. Sayang, dia pergi. Air mataku mengalir. Perpisahan apapun, meskipun dalam mimpi, ternyata terasa menyakitkan.

Hari-hari kulewati di kantor tanpa antusias. Suatu hari, serombongan orang datang dan saling bersalaman. Ada karyawan baru, terdengar bisik-bisik di kiri-kananku. Seperti biasa, karyawan baru akan diajak berkeliling untuk berkenalan dengan karyawan lama.

Tidak ada karyawan asing. Semua orang Indonesia. Rambut hitam, mata hitam. Aku sedikit kecewa. Kurindukan si laki-laki bermata biru seperti dalam mimpi.

Barisan karyawan baru itu bergerak ke arahku. Kusalami mereka satu per satu sambil saling menyebutkan nama. Namun, ada satu orang yang lama tidak melepas jabatan tanganku.

“Hallo, Lucia.”

Ia menyapaku dengan nama sebelum aku sempat menyebutkan namaku sendiri. Aku menatapnya dan aku yakin belum pernah bertemu dia sebelumnya.

“Bagaimana kau tahu namaku? Aku belum memperkenalkan diriku,” tanyaku.

Dia tersenyum. Ringan. “Aku mengenalmu, sebelum kita bertemu.”

Mata kami menyatu. Dalam mata laki-laki itu, kutemukan sebuah galaksi dan bintang berwarna biru. Warna biru yang sama seperti mata laki-laki yang menyapa dalam setiap mimpiku.*

Bintaro, selamat datang Oktober

Ilustrasi: Etalase Bintaro/YonK

Comments

comments