3107

Perempuan Bermata Cahaya

Oleh Wilda Lestari

Gaun birunya menjuntai panjang menyapu tanah. Tiap dia melangkah, gaunnya terseret, bergelombang merekah seperti ombak. Tanah gersang dan tandus yang telah dipijaknya seketika berubah. Tunas-tunas hijau menyembul dari tanah, mengatup, meninggi, bercabang dan beranting. Pada pucuk-pucuknya, menguncup mawar merah yang langsung bermekaran.

Awalnya aku terpukau. Perempuan bergaun biru yang mendekatiku sungguh ayu. Rambutnya panjang kecokelatan. Kulitnya putih mulus. Hidungnya mancung. Merah muda segar warna bibirnya menguatkan pesona. Tapi matanya terpejam. Dia berjalan dengan mata terpejam. Mendekat padaku. Selangkah demi selangkah.

Tiba-tiba matanya terbuka. Sinar terang yang menyorot dari kedua matanya sangat kuat. Mataku silau seketika. Angin keras bertiup dan aku pun jatuh terjungkal.

“Hah… hah… hah….” aku terengah-engah bangun dari tidur. Peluh mengucur sekujur tubuh, seperti habis lari marathon. Pukul 03.00 dinihari dan sejak saat itu, malam-malamku dihantui perempuan bergaun biru.

“Elu stres kali… Mimpi dideketin cewek cantik malah takut!” celetuk Iwan yang langsung disambar tawa segengku. Kurang ajar!

“Huss!!! Kalian kagak tau, perempuan biru itu melambai-lambai, meminta aku datang. Mana gue mau lah! Tiap malem kayak gitu! Gila, setan kali!!” balasku.

“Ya udah, lupain! Mana gelas lu? Yang penting kita happy-happy malam ini,” Sembari tertawa, Bernard menyambar gelas di depanku lalu menuang cairan kecokelatan berbuih ke dalamnya. Kutenggak minuman yang membakar leher itu dengan puas. Semoga perempuan biru itu tak mendatangiku malam ini.

Bukan perempuan bergaun biru, memang. Di tengah hamparan padang yang penuh mawar merah, tiba-tiba muncul seekor ular raksasa. Lehernya berdiri, mulutnya menyeringai, memamerkan taring-taring tajam sebesar gading. Aku berteriak dan lari secepat mungkin. Tapi ular raksasa itu terus mengejarku. Lari!! Lari!! Pekikku. Tanpa sadar, aku tersandung dan jatuh. Ular raksasa itu tampak menyeringai puas. Tubuhnya yang panjang melingkar-lingkar mendekatiku. Duh, habislah riwayatku…

Di luar dugaan, ular raksasa itu tiba-tiba merintih. Leher dan kepalanya yang mendongak setinggi atap rumah justru merendah. Tubuhnya mengecil dan mengecil. Ular yang mengecil itu jatuh terkulai di tanah. Sebuah kaki menginjaknya, kaki yang berselimut gaun biru. Di sana, perempuan bergaun biru itu berdiri. Ia membuka mata dan cahaya terang menyilaukanku.

Seketika aku terbangun dari mimpi. Kuusap keringat dingin di dahi dan melihat berkeliling. Teman-temanku tidur bergelimpangan di kamar Iwan. Puntung-puntung rokok yang bertebaran, kugeser-geser dengan kaki agar wilayah pembaringanku lebih leluasa. Cek HP. Dari Wanda, pacarku.

“Besok jadi ya berangkat jam 4 sore ke Magelang,” kata Wanda di Whatsapp dengan ikon senyum. Aku mengerang. Malas!

Tiba di Magelang dengan mobil pribadi, Wanda terus berceloteh tentang kota kelahirannya dengan semangat. Betapa indah pemandangan Gunung Merapi dari Magelang, cuacanya yang sejuk, jalanan tanpa macet, dan orang-orang yang ramah. Kuiyakan saja, biar Wanda senang.

Kami pergi ke Candi Borobudur yang memang keren, lalu lanjut ke Kopeng untuk melihat Merapi, dan wisata kuliner. Kunjungan diakhiri ke tempat favorit baru agak jauh dari pusat kota. Kabarnya lokasi itu baru ditemukan sekitar tahun 2014. Banyak orang datang berbondong-bondong ke sana karena ada kisah-kisah unik yang diceritakan warga sekitar. Ah, paling cuma buat menarik pengunjung saja, pikirku.

Tiba di sana, tempat unik itu justru sedang sepi. Hanya ada segelintir orang yang lalu lalang. Untuk mencapai lokasi, kami pun menaiki anak-anak tangga dari bebatuan dan melintasi jalan setapak kecil yang kiri kanannya penuh dengan semak belukar. Nyamuk-nyamuk beterbangan dan menggigiti lenganku. Sial!

Perjalanan ini ternyata berujung pada sebuah gua alami yang berlokasi di sebuah kaki tebing yang curam. Sekitaran gua telah disemen ala kadarnya oleh warga setempat. Kursi-kursi ditata rapi untuk pengunjung yang ingin istirahat setelah perjalan panjang naik tangga dan melewati semak belukar. Hembusan angin dataran tinggi mengusir lelah kami.

“Gini doang?” tanyaku pada Wanda.

“Iiihhh, ini bagus kaliiii!!!” protes Wanda sambil mendorong bahuku.

Sementara Wanda merekam video sekeliling lokasi dengan ponselnya, aku justru terpancing rasa penasaran dari gua. Sepertinya ada satu sosok yang mengintip di sana. Dengan santai, aku berjalan mendekat.

Di depan gua, seketika aku tercekat. Kakiku seolah terpaku, seolah ada semen beku yang membuatku berdiri kaku. Susah payah kugerakkan, tetapi tetap tidak bisa. Karena merasa diperhatikan, aku melihat ke depan. Di sana, sosok perempuan bergaun biru berdiri dengan ular terkulai lemas di kaki. Seperti mimpi!

Kedua tangan perempuan itu terbuka. Kutatap dia. Dan…. Jiwaku pun tersandera olehnya.

 

Bintaro, pagi hari

 

Ilustrasi: Istimewa

Comments

comments