04

Pendidikan Karakter Versus Calistung

Dunia pendidikan terus dikoreksi. Tren pengenalan calistung (baca, tulis, hitung) dianggap telah menggeser kepentingan pendidikan karakter. Anak seharusnya lebih dulu menerima pendidikan berbasis karakter, ketimbang pendidikan yang mengejar prestasi akademik semata.

Bukan tanpa sebab. Penekanan kembali pada pendidikan karakter dilatarbelakangi oleh banyak alasan. Para pakar menilai kadar materi pendidikan di sekolah hampir tak terasa. Membuat anak tak memiliki karakter dan moral yang kuat. Apalagi mengaplikasikan karakter yang diharapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Saat pendidikan karakter jauh dari anak, bukan anak saja yang merugi, walau tanpa disadari. Namun masa depan masyarakat dan bangsa akan terancam. Minim jiwa yang kokoh untuk meneruskan keluhuran dan tatanan sosial. Kelestarian lingkungan terancam karena tidak lagi dipedulikan fungsinya. Serta bayangan hidup aman sentosa akan punah, akibat munculnya pergolakan dan perpecahan yang berawal dari dalam pribadi.

Mengajarkan calistung tetap penting. Namun masih lebih penting mengenalkan pendidikan karakter di usia dini. Menanamkannya di rumah, diperkuat di sekolah, dan menumbuhkannya di lingkungan sosial.

Menangkal dekadensi moral

Pendidikan karakter yang kuat sejak masih anak-anak akan menjadi penangkap dekadensi moral. Tameng ampuh mencegah pergaulan yang tak sehat saat mereka menuju masa remaja. Misalnya narkoba, tawuran, dan sebagainya.

Menemukan bakat dan potensi

Bakat dan potensi yang dimiliki anak mudah dikenali. Kemudahan yang diperoleh sebagai imbas pendidikan yang melakukan pendekatan pada kebutuhan pribadi. Anak pun makin cepat terfasilitasi mengembangkan bakatnya. Minatnya cepat tersalurkan pada jalur yang lebih sesuai.

Memanusiakan peserta didik

Berbekal pendidikan karakter, dunia sekolah lebih manusiawi. Tidak menomorsatukan peringkat di tiap tingkat, namun menjunjung tinggi karakter yang beradab. Lebih mengutamakan predikat pribadi yang luhur dan berbudi. Dunia pendidikan tidak lagi membebani pesertanya dengan setumpuk materi, hafalan, dan aneka tugas saja. Tetapi menjelma menjadi dunia yang mampu menyediakan ruang-ruang bersosialisasi bagi subjek pelakunya.

Melestarikan nilai

Tanpa pendidikan karakter, nilai-nilai sosial tidak akan lestari. Menjadi jembatan penghubung untuk meneruskan ajaran-ajaran yang telah berlaku dalam relasi masyarakat dan kebudayaan. Mengabaikan semua nilai atau norma, hanya akan mendatangkan kerugian. Sikap semacam ketidakjujuran, kejahatan, dan pelanggaran norma sosial akan tumbuh subur dan dianggap wajar. Jadi pendidikan karakter menjadi benteng agar sikap warga masyarakat selalu berada dalam batas yang aman.

Modal sosial

Memperoleh pendidikan sosial akan sangat menguntungkan anak di masa depan. Modal besar hidup bersosial dan bermasyarakat. Memahami bagaimana memperlakukan orang lain di mana ia tinggal sesuai dengan norma-norma yang berlaku. Maupun di tempat anak berkarya nantinya.

Berkarakter kuat

Anak yang telah menerima pendidikan karakter sejak dini telah terasah pribadinya. Tumbuh sebagai pribadi yang mandiri, tangguh, dan mampu menghadapi berbagai tantangan. Tidak mudah mengeluh, menyerah, dan selalu berharap uluran tangan orang lain. Tanpa meniadakan tardisi dan aturan-aturan yang telah mengakar kuat. Saat anak harus hidup sendiri dan berpisah dengan orang tua, tentunya karakternya akan mudah diterima di mana saja. (LAF) 

 

Foto ilustrasi: Istimewa

Follow Instagram @ETALASEBINTARO

Comments

comments