0109

Mitos Seputar Daging Sapi dan Kambing yang Tak Perlu Dipercaya

Daging baik sapi, terlebih kambing, sering disorot negatif karena dianggap sebagai sumber penyakit, seperti hipertensi atau kegemukan. Agar Anda tak terlalu takut dengan daging, sapi maupun kambing, kenali mana yang hanya mitos, mana yang memang fakta. Dengan begitu, Anda bisa menikmati sajian daging saat Idul Adha dengan lebih tenang.

Mitos: Daging sapi yang berwarna merah terang berarti kurang matang.

Fakta: Warna daging sapi bisa dibuat berbeda, sesuai pesanan pasar. Menurut Martono Cayoko, pebisnis pakan ternak, warna daging sapi tergantung pada nutrisi atau pakan yang diberikan kepada sapi. Daging sapi bisa dibuat merah terang, merah biasa, atau pink. Jadi warna daging yang merah terang tidak selalu berarti belum matang.

Mitos: Daging sapi impor selalu lebih enak.

Fakta: Terkadang daging sapi yang disebut impor, adalah daging dari sapi jenis Eropa atau Australia, yang dibudidayakan di Indonesia. Artinya, sapi tersebut dikawinkan dengan sapi lokal, lalu dipelihara dan diberi makan dengan nutrisi yang baik, sehingga menghasilkan daging yang berkualitas bagus. “Yang memengaruhi enak tidaknya daging sapi adalah cara memproses dan memasak daging,” ujar Agus Haryo S, Presiden Direktur PT Legiri Makmur Sentosa.

Mitos: Daging yang dimasak setengah matang (medium rare) masih bisa mengandung bakteri.

Fakta: Bakteri pada daging sapi berada pada permukaannya. Umumnya bakteri ini akan mati melalui proses pemasakan atau pengolahan. Meskipun daging hanya dimasak setengah matang, bakteri tetap mati. Bakteri tidak bisa berkembang di dalam daging sapi, karena dalam daging sapi tidak terdapat oksigen.

Mitos: Mengonsumsi daging kambing, terutama bagian torpedo, bisa meningkatkan gairah seksual pria.

Fakta: Gairah seksual pria berhubungan dengan hormon testosteron. Hormon tersebut kemungkinan berhubungan dengan protein tinggi. Semua daging, termasuk daging kambing, mengandung protein yang cukup tinggi. Sehingga gairah seksual akan meningkat.

Mitos: Daging kambing mengandung kolesterol tinggi sehingga membuat hipertensi.

Fakta: Kolesterol daging kambing lebih rendah dibanding ayam! Kolesterol daging kambing 57 mg  per 100 gram. Bandingkan dengan ayam yang mengandung kolesterol 83 mg dan sapi 89 mg per 100 gram. Mitos tersebut berhembus karena daging kambing kerap diolah dengan cara digoreng, digulai, atau dibakar dengan bahan-bahan berlemak tinggi, misalnya mentega atau margarin, dan minyak sawit. Bahan-bahan tersebut diserap cukup banyak oleh daging. Ingin makan sate kambing yang sehat? Bikin saja sate tegal, daging ditaburi garam, lalu dibakar. Asal pemilihan dagingnya benar, sate tetap terasa enak.

Mitos: Sate kambing kerap berbau prengus.

Fakta: Agar tidak bau, untuk membuat sate, gunakan daging kambing bagian punggung atau paha belakang atas. Kedua bagian tersebut jarang digunakan bergerak sehingga tidak bau. Disamping itu, daging pada bagian tersebut lebih empuk, meskipun tidak berlemak. [YBI]

 

Foto ilustrasi: Istimewa

Follow Instagram @ETALASEBINTARO

Comments

comments