09

Menghadapi Bos yang Suka Pilih Kasih

Bukan hal yang menyenangkan saat mempunyai atasan yang suka pilih kasih. Saat kita dalam posisi bukan anak emas, bukan saja hasil jerih payah kita tak berarti, diapresiasi pun tidak sama sekali. Tapi jangan keburu menyerah. Atasan tetap patut mendapat sikap yang layak dari Anda.

Pilih kasih memang menguntungkan bagi yang mendapatkan perhatian. Tapi amat merugikan bagi yang tersisihkan. Kadang menimbulkan iri, memicu konflik di antara pribadi, hingga membuat kacau urusan kerja. Kerap pula membuat Anda mengundurkan diri bila sudah tak tahan menghadapinya.

Pilih kasih bisa dirasakan dalam berbagai rasa dan tindakan. Entah atasan menunjukkannya atas alasan gender, prestasi, ke sanak kerabat sendiri, atau lainnya. Jika yang satu kerap disanjung, yang lain tidak pernah sama sekali. Jika yang satunya sering mendapat keringanan dan hari libur, yang lain sulit sekali mendapat restu permohonan. Atau yang satu mudah naik jenjang, yang satu amat sulit meniti karier.

Mungkin mustahil mengubah kebiasaan atasan yang sudah teramat mengakar. Namun, karena Anda dan atasan tetap berhubungan selama bekerja, masih banyak cara menghadapinya.

Tetap netral

Wajar bila kita emosi. Baik pada atasan maupun pada rekan yang diidolakan. Namun, sudahi emosi negatif dari sekarang demi kesehatan jiwa Anda sendiri. Pada atasan, terima saja perlakuan yang ditunjukkan sehari-hari. Karena pada dasarnya kita akan kehabisan energi bila terus menerus marah tiada henti.

Lalu pada rekan sendiri, tetap hormati. Hindari membentuk kubu atau geng sebagai bentuk perlawanan. Tetap jalin hubungan yang baik, semata-mata agar suasana kerja tetap aman terkendali.

Fokus pada tujuan

Ingat tujuan Anda bekerja dan menghabiskan banyak waktu di kantor. Mungkin ini akan membantu Anda mengalihkan pikiran dari pemandangan sehari-hari melihat atasan yang suka pilih kasih. Fokus pada tujuan yang ingin Anda raih dan target-target yang harus Anda penuhi.

Tetap menjadi diri sendiri

Be yourself. Meski Anda berharap mendapat pujian yang sama dari atasan, tetaplah menjadi diri sendiri. Berupayalah dengan cara-cara sendiri tanpa harus mengubah jati diri atau sifat-sifat utama kita.

Optimalkan prestasi

Untuk mengimbangi perhatian dari atasan, terus optimalkan prestasi. Bila selama ini Anda lebih banyak diam selama meeting, ambil inisiatif sebelum diminta. Buat aneka agenda yang bisa dikerjakan, berbagai opsi yang bisa diambil, hingga variasi solusi yang mungkin untuk dilakukan. Siapa tahu langkah ini dapat merebut hati dan perhatian sang atasan.

Bertanya mengapa

Tak ada salahnya Anda bertanya mengapa. Anda bisa memulainya dengan obrolan ringan, menggunakan kata-kata kiasan, atau langsung to the point bila memungkinkan. Namun jangan menaruh harapan yang terlalu tinggi. Sebabnya, atasan belum tentu mau mengemukakan alasan yang sebenarnya.

Gandeng mediator

Bila memang sudah dalam amat mengganggu, gandeng saja mediator untuk memfasilitasi Anda dan atasan. Tujuannya bukan untuk mencari-cari kesalahan. Tetapi semata-mata demi menemukan solusi yang terbaik. Jalan keluar yang berkeadilan bagi semua pihak yang terlibat dalam pekerjaan. (LAF)

 

Foto ilustrasi: Istimewa

Follow Instagram @ETALASEBINTARO

Comments

comments