07

Mengenalkan Makna Duka pada Anak

Tidak mudah memberikan penjelasan tentang duka atau rasa kehilangan pada anak. Mungkin anak telah memahami apa yang disayangi telah pergi. Namun orang tua sering menganggap sepele perasaan duka pada anak, atau malah tergagap menjawab saat pertanyaan melayang. Perlu trik khusus mengenalkan arti hilang, dan berikan sikap yang tepat.

Respon anak bisa berbeda-beda saat harus berhadapan dengan duka. Ada yang memilih diam, ada pula yang bereaksi spontan. Sudah menjadi tugas orang tua merespon dengan sikap yang hangat. Bukan membiarkan atau menganggap angin lalu, beranggapan anak akan lupa dengan sendirinya. Sebab, duka yang tak tuntas bisa jadi meninggalkan trauma yang tak kunjung selesai. Berefek menahun dan tidak menyehatkan perkembangan jiwa dan raganya.

Persiapkan diri dari sekarang bila sewaktu-waktu rasa duka itu datang.

Memahami perasaan

Saat anak mengalami rasa kehilangan, pahami bagaimana reaksi perasaannya. Sebagian besar anak belum dapat menunjukkan ekspresi dengan tepat, layaknya orang dewasa. Terutama anak-anak yang belum lancar berbicara. Sedih mungkin reaksi mayoritas dalam merespon duka. Tapi ada pula sikap anak-anak yang biasa saja alias cuek, dan tak mau tahu, sebagai kamuflase dari kesedihannya tersebut. Pahami perasaan yang sebenarnya melanda, agar orang tua tidak salah langkah.

Menangkap reaksi

Setelah memahami perasaan, lanjutkan dengan menangkap reaksi. Sikap yang cenderung diberikan pada orang-orang sekitarnya. Menangis, marah-marah, teriak, melempar barang, mengomel, memilih menyepi, dan sebagainya. Terima dengan sepenuh hati apapun yang diekspresikan. Hindari ungkapan dengan menyatakan, “tak seharusnya anak merasa sedih atau terpukul.” Tunjukkan bahwa Anda peduli dan siap menjadi orang nomor satu yang kapan saja menampung segala keluh kesahnya.

Penjelasan dengan logika

Pertanyaan sering diajukan karena anak belum mengerti dengan kondisi yang sedang dia hadapi. Mengapa kucingnya tiba-tiba mati? Kenapa ayahnya harus bekerja jauh dari rumah? Dan mengapa-mengapa lainnya. Jawablah menggunakan analogi dan logika sederhana yang bisa ditangkap anak dengan mudah. Tak perlu ditutup-tutupi, mengalihkan perhatian agar anak tidak bertanya lagi, atau menjawab dengan berbohong supaya anak seketika diam.

Namun ingat, orang tua bukanlah supermentor. Orang tua tak perlu memaksakan diri jika memang tak tahu jawabannya. Serahkan pada anak untuk berpikir sendiri atau minta pendapat orang lain untuk menuntaskan rasa ingin tahunya. Misal, guru kelasnya.

Beri waktu

Berikan waktu pada anak untuk beradaptasi atas rasa dukanya. Dalam hitungan jam mungkin anak bisa ceria kembali. Tapi mungkin rasa duka akan membekas selamanya. Tak perlu memburu, tapi tunggu saja sampai anak siap menumpahkan segala uneg-uneg yang dirasakannya.

Hargai pilihan anak

Anak perlu pelampiasan untuk mengusir duka. Hargai pilihan yang diambilnya, meski menurut Anda kurang tepat. Tetap masuk sekolah, mengurung diri di kamar, pergi ke rumah nenek, atau lainnya. Berikan kesempatan seluas-luasnya, selama masih positif, daripada dia berpikir bahwa orang tua tak mengerti sama sekali perasaannya. (LAF)

 

Foto ilustrasi: Istimewa

Follow Instagram @ETALASEBINTARO

Comments

comments