27

Mengajarkan Santun dan Respek pada Guru

Tak perlu menunggu hingga dewasa. Nilai-nilai sopan dan santun pada guru harus diajarkan sejak anak memulai dunia sekolahnya. Membangun interaksi yang hangat dan sehat tanpa melupakan adab.

Sudah banyak terdengar kabar hubungan yang renggang antara murid dan guru. Penyebab yang dianggap sebagai mayoritas adalah tiadanya rasa hormat. Lunturnya sikap peduli, percaya, dan segan pada jasa guru. Aksi kurang terpuji seolah mudah terjadi. Tak patut dan layak dilayangkan pada mereka yang sudah berjasa mengedukasi.

Agar kasus yang sama tidak menimpa anak, orang tua harus mengenalkan sopan dan santun pada gurunya. Karena guru adalah wakil orang tua di sekolah. Mengasuh, menjaga, dan terkadang harus memberi lebih pada anak didiknya. Mengorbankan waktu dan tenaga yang tak ternilai harganya demi tumbuh kembang anak kita.

Saat anak tidak menunjukkan respon positif, tentu segalanya akan terasa sia-sia. Jenjang pendidikan yang sudah diupayakan sempurna berbanding terbalik dengan tindak tanduk yang ditunjukkannya. Terutama untuk para guru yang ditemui sehari-hari.

Salam kenal dan menanyakan kabar

Tak kenal maka tak sayang. Saat anak malu berkenalan diri, orang tua dapat memulai. Memberikan panutan yang terlihat dengan menjabatkan tangan sambil menyebutkan nama. Obrolan yang penuh keakraban dan penggunaan bahasa yang sopan. Guru ibarat orang tua kedua yang mau tak mau akan berinteraksi seperti keluarga.

Setelah anak mau menerima dan mengenali, ajak anak untuk lebih menghangatkan diri. Memulai interaksi dengan menanyakan kabar para gurunya. Sebagai ajang komunikasi yang erat dan memanusiakan satu sama lain. Ikut bersuka cita saat guru dalam kondisi gembira, dan ikut berempati saat guru dirundung duka. Melatih jiwa sosial dan pengertian sejak dini.

Empat kata ajaib

Biasakan anak menggunakan empat kata ajaib saat berkontak dengan guru-gurunya. Sederhana tetapi membawa efek yang luar biasa. Yaitu kata tolong, maaf, permisi, dan terima kasih. Empat kata yang menjadi panduan dalam setiap langkah dan aktivitas. Tidak menganggap guru sebatas objek penolongnya di sekolah, namun memosisikan guru sebagai subjek utama.

Kelak saat anak sudah terbiasa menggunakannya, Anda akan melihat relasi yang lebih matang. Tidak terbatas ada dua individu yang berhubungan karena transfer ilmu semata. Namun mirip rekan kerja yang saling profesional dengan mengaplikasikan nilai-nilai luhur di dalamnya.

Saat ada perbedaan pandangan dengan ajaran di rumah

Tak menutup kemungkinan suatu saat anak akan bertemu kondisi yang membingungkan dan penuh tanya. Seperti perbedaan ajaran atau pengetahuan yang berlaku di rumah atau sekolah. Orang tua harus hadir sebagai pihak yang netral, bukan menyalahkan guru. Apalagi ditambah memberi label yang buruk, yang bisa jadi preseden buruk bagi anak dalam memandang gurunya sendiri.

Ambil jalan tengah dengan memberikan penjelasan. Tak apa anak menganut ajaran dari orang tua saat berada di rumah. Namun anak juga harus tetap menghormati apa yang telah diterangkan para gurunya. Sebab masing-masing tentu punya kelebihan sekaligus kekurangan. (LAF)

 

Foto ilustrasi: Istimewa

Follow Instagram @ETALASEBINTARO

Comments

comments