07

Kreatif Mengajarkan Toleransi pada Anak di Festival Literasi

Perpustakaan Nasional bulan ini kebanjiran berbagai acara. Apalagi jika bukan untuk menyemarakkan Hari Pendidikan Nasional yang jatuh pada bulan Mei. Salah satunya talkshow parenting “Cara Kreatif Mengajarkan Tolerasi pada Anak” Minggu (6/5).

Acara yang bertema Speak Up! Festival Literasi Dua Bahasa ini, sarat dengan pegiat yang aktif menyuarakan toleransi. Menumbuhkan semangat menghargai perbedaan. Tidak terlepas dari kemajemukan yang begitu kaya dan harus terus dijaga sebagai aset berharga. Bukan menjadi pemicu konflik horisontal seperti yang terjadi dalam beberapa tahun belakangan ini.

Acara talkshow.

Acara ini dimoderatori oleh Ayu Kartika Dewi, sosok pendiri Sabang Merauke. Yakni gerakan pertukaran siswa seantero negeri ini untuk tinggal dan belajar bersama tentang agama dan budaya yang berbeda. Pertanyaan pun banyak diajukan oleh para penonton.

Penting mengajarkan toleransi pada anak

Bangsa ini sudah berisi perbedaan sejak dulu. Namun nyatanya sudah 70 tahun merdeka bangsa ini juga berisi aneka prasangka terhadap satu sama lainnya. Anak-anak adalah agen-agen terbaik yang bertugas untuk merawat perbedaan dengan kedamaian. Bila tidak diajarkan dari kecil, bagaimana toleransi bisa berjalan?

Seperti yang disuarakan oleh Agus Rachmanto, dari penerbit buku Toleransi untuk Anak. “Keluarga adalah fondasi utama untuk anak mengenal perbedaan dan sikap toleransi,” ungkapnya. Keluarga dapat memainkan perannya tersendiri, contohnya dengan menyelipkan nilai-nilai penghormatan pada yang beda melalui dongeng dan buku cerita.

Collin dan Agus.

Pembicara yang lain, Ai Nurhidayat pun mengamini. “Jika toleransi ditinggalkan, maka siap-siap saja masa depan akan hilang,” jelasnya. Tak perlu menunggu hingga dewasa, tetapi sejak balita anak mesti mengenal toleransi.

Harus diajarkan dan dirasakan

Di sisi lain, toleransi akan kurang diresapi saat hanya dikenalkan lewat teori. Toleransi harus dirasakan sendiri oleh anak-anak. Pengalaman menarik pun dikisahkan oleh Collin Pinnarwan, pembicara lainnya. Siswa SMP kelas IX yang merupakan salah satu pertukaran siswa beda budaya ke luar negeri atau CISV. Sedang orangtuanya pernah menjadi host yang menampung peserta Sabang Merauke.

Bagi dia, belajar dengan siswa negara lain lebih mudah. Tetapi tidak saat orang tuanya menerima Iman dari Halmahera Selatan yang berbeda agama tinggal di rumahnya selama tiga minggu. Agama, bahasa, dan kebiasaan membuatnya sulit untuk mau saling mengenali.

Namun lambat laun semuanya berjalan dengan baik-baik saja. Tidak ada rasa benci dan mencurigai. Bahkan yang ada adalah saling menyayangi dan menghargai. Merasakan langsung bahwa sesungguhnya beriteraksi dengan identitas yang berbeda bukan masalah sama sekali.

Cara-cara kreatif

Ai Hidayat menempuh jalur yang cukup ekstrem untuk menumbuhkan semangat bertoleransi. Di kabupaten Pangandaran, dia mendirikan kelas multikultural di SMK Bakti Karya. Peserta didiknya datang dari berbagai daerah. Selama tiga tahun mereka harus membiasakan diri hidup bersama dengan segala perbedaan yang ada.

Murid SMK Karya Bakti.

Lain lagi dengan yang dijalankan oleh Mukhlisin, kepala sekolah Guru Kebhinekaan. Sudah lebih dari 13 ribu orang guru ia bimbing. Harapannya, guru kemudian mampu meneruskan nilai-nilai toleransi pada anak-anak didiknya. (LAF)

 

Foto-foto: Etalase Bintaro/Lies Afroniyati

Follow Instagram @ETALASEBINTARO

Comments

comments