ilustrasi1202

Ketika Orang Terkasih Terkena Demensia

Untuk mendampingi keluarga yang terkena demensia, Anda perlu persiapan tertentu. Karena demensia bisa menyebabkan orang mengalami perubahan perilaku.

Demensia bukanlah penyakit. Lebih tepatnya, demensia adalah gejala akibat penyakit tertentu yang membuat sebagian sel-sel otak tidak berfungsi dengan optimal. Beberapa penyakit yang bisa memicu demensia antara lain alzheimer dan tumor otak. Namun, demensia juga bisa muncul akibat gangguan kelenjar tiroid, hipoglikemia, dan sejumlah penyebab lainnya.

Gejala ini bisa menyebabkan gangguan mental, masalah ingatan, dan perilaku yang berubah. Umumnya, ciri-ciri demensia antara lain kehilangan ingatan atau mudah lupa, mudah mengalami kebingungan, dan sulit berkomunikasi atau memilih kata-kata untuk diucapkan. Karena mudah lupa dan sering merasa bingung, orang yang mengalami demensia juga cenderung mengalami perubahan perilaku dan emosi yang labil.

Kenali sejak dini

Banyak orang menganggap, demensia hanya dialami oleh orang-orang yang telah lanjut usia.  Kenyataannya, demensia bisa dialami oleh orang yang lebih muda. Demensia adalah gejala yang biasanya membuat seseorang berpikir dan bertingkah laku seperti anak kecil. Seseorang yang mengalami demensia juga kerap lupa hal-hal yang dikerjakan, lupa nama, hingga lupa alamat hingga mudah tersesat. Lalu, bagaimana bila salah satu anggota keluarga mengalami demensia?

Tanda-tanda demensia perlu dikenali sedari awal. Begitu salah seorang anggota keluarga mengalami demensia, sebaiknya jangan meninggalkannya sendirian. Apalagi jika tengah beraktivitas di luar rumah.

Perubahan emosi orang yang mengalami demensia sangat cepat. Seseorang yang mengalami demensia bisa mudah tertawa dan menangis dalam sekejap. Selain itu, ia mudah kebingungan dan bisa mudah marah akibat kebingungan. Untuk menghadapi anggota keluarga yang mengalami demensia, kita perlu lebih bersabar.

Lebih perhatian

Informasi dari Caregiver.org menyebutkan, seseorang perlu menyiapkan diri agar selalu dalam kondisi positif. Berkata-katalah dengan penuh perhatian dan kasih sayang. Anda perlu menunjukkan rasa kasih sayang yang tulus pada anggota keluarga yang mengalami demensi karena mereka bisa mengalami kondisi mental yang jatuh dan tidak bisa memahami hal yang terjadi pada diri mereka sendiri.

Orang yang mengalami demensia bisa berperilaku tidak peduli pada hal di sekelilingnya. Untuk berkomunikasi efektif dengan mereka, cobalah mengurangi hal-hal yang mengalihkan fokus. Misalnya, suara radio, tayangan televisi, ponsel, atau keramaian di luar rumah. Ajaklah anggota keluarga yang mengalami demensia untuk duduk bersama dan berbicara dengan baik-baik.  Pastikan bahwa mereka mendengar dan berfokus pada hal-hal yang Anda katakan.

Jika berkomunikasi dengan anggota keluarga yang mengalami demensia, gunakanlah kata-kata sederhana yang mudah dipahami. Jika memberikan instruksi, berikan instruksi yang tidak terlalu sulit.  Ungkapkan dalam bahasa yang mudah dicerna.

Orang yang mengalami demensia biasanya cenderung mudah lupa. Jika mereka melupakan hal-hal yang telah Anda katakan, cobalah mengingatkan mereka dan mengatakannya sekali lagi dengan sabar.

Bagaimana jika anggota keluarga dengan demensia yang bertanya? Berikanlah jawaban yang singkat dan luas. Orang yang mengalami demensia mungkin akan kesulitan dalam mengatakan sesuatu dan sering tersendat-sendat saat berbicara. Untuk menghadapi hal ini, Anda perlu lebih sabar dan penuh perhatian. Dengarkanlah mereka dengan penuh perhatian.  Bantulah mereka menemukan dan mengungkapkan kata-kata yang sulit terpikirkan atau terucapkan.

Menangani dan membimbing anggota keluarga dengan demensia memang tidak mudah. Agar tidak menjadi beban pikiran, cobalah menyelipkan humor dalam berbagai kesempatan. Dengan begitu, beban pun akan terasa lebih enteng. [KUL]

 

Ilustrasi: Etalase Bintaro/YonK

Follow Instagram @ETALASEBINTARO

Comments

comments