22

Keterlibatan Orang Tua di Sekolah

Dalam pembicaraan terkait pendidikan anak, keterlibatan orang tua sering terlupakan. Sejatinya, sekolah dan orang tua mempunyai peran yang sama penting dalam mengawal edukasi. Keterlibatan orang tua harus maksimal, layaknya guru yang mengajar langsung di ruang kelas.

Masih banyak yang salah kaprah bahwa pendidikan adalah mutlak urusan sekolah. Menyerahkan semuanya pada tenaga pendidik dan tanggung jawab kepala sekolah. Pengalaman yang turun temurun, dari tahun ke tahun, yang terus berulang dan tidak banyak menunjukkan perubahan pada dunia pendidikan kita.

Padahal bila digali lagi, manfaatnya banyak sekali. Tujuan utamanya adalah pemberdayaan orang tua bagi komunitas sekolah. Tidak menutup kemungkinan kerja sama lebih optimal saat kehadiran orang tua lebih terasa nyata. Masing-masing pihak merasa tersadar dan aktif demi perkembangan anak sendiri yang lebih baik. Karena itu, sekolah sejak awal harus membuat visi yang mencantumkan keterlibatan orang tua.

Bentuknya beragam

Bila mengikuti kalender akademik, ada tiga keterlibatan. Pertama, orang tua sebagai pendukung kegiatan. Hadir saat hari perkenalan sekolah atau event tertentu, seperti pentas seni dan pengambilan raport.

Kedua, sebagai sumber belajar. Dalam beberapa kali kesempatan, orang tua dapat menceritakan pengalaman, pekerjaan, pengajar ekstrakurikuler, dan membantu penyelesaian proyek kesenian di akhir pekan. Terakhir, sebagai pelajar. Orang tua aktif mengikuti seminar parenting, workshop yang diadakan sekolah, relawan dengan orang tua lainnya untuk kegiatan tertentu, dan masih banyak lagi.

Selain itu, sangat penting menginisiasi bentuk keterlibatan yang idenya datang dari anak maupun orang tua. Bukan mengandalkan sekolah sebagai satu-satunya sumber. Di samping orang tua merasa sukarela, bahkan senang tanpa beban dan paksaan sama sekali.

Berkualitas dan berkelanjutan

Ya, keterlibatan orang tua mesti berkualitas dan berkelanjutan. Mampu menjawab kebutuhan orang tua mengapa harus berkecimpung aktif, dan manfaat apa yang bisa dirasakan untuk dirinya sendiri serta untuk tumbuh kembang anak.

Keterlibatan tidak berhenti di satu titik. Namun, jalurnya terus berkembang dan meresap dalam setiap penyelenggaraan agenda. Saling berdiskusi menemukan titik temu yang menjadi jembatan masalah antara sekolah dan orang tua. Sembari terus berevaluasi dan mengkoreksi diri, agar hubungan yang sudah terjalin terus meninggalkan faedah bagi keduanya. Maupun sebagai perintis yang menciptakan jejak budaya untuk tahun-tahun ajaran berikutnya.

Unsur keluarga lain

Keluarga besar, seperti kakek dan nenek, dan pengasuh juga berpengaruh sangat siginifikan dalam pendidikan anak. Tidak terbatas pada orang tua semata. Unsur yang harus diperhitungkan matang-matang oleh sekolah. Lewat berbagai kegiatan langsung atau tidak langsung, sekolah dapat menyelipkan pesan guna menyamakan visi dan misi. Seperti pola asuh yang bisa diterapkan di rumah.

Komunikasi yang profesional dan bermakna

Komunikasi wajib mengandung keterbukaan dan kejujuran. Membahas mendalam keadaan siswa, sekolah, dan masalah yang sedang dihadapi orang tua terkait anaknya. Orang tua perlu berprasangka baik pada sistem sekolah dan menghindari konflik kepentingan. Hasilnya hubungan lebih hangat, erat, dan bermakna. Menyetujui peran aktif yang membawa sejuta manfaat. (LAF)

 

Foto ilustrasi: Istimewa

Follow Instagram @ETALASEBINTARO

Comments

comments