1472996333094

Kamu, Pulang

Oleh Wilda Lestari

Secangkir teh aroma melati menjadi teman paling setia setiap senja. Di luar, rintik hujan merintih. Tetesan airnya menciprat, prat, prat, prat… Kuping gajah dan cocor bebek tetap angkuh, tak mau tersentuh air dari langit. Mereka hanya penyalur, membiarkan rebahan air jatuh di permukaan, lalu menggulirkannya diam-diam hingga pucuk daun.

“Slurrrpp…”

Panas menggigit bibir dan lidah. Namun, aromanya meredam galau yang meracau. Melati, mengingatkanku pertama kali pada hari disebut isteri. Di bawah paes yang kelam, perempuan bersanggul memasang rangkaian melati di sanding telinga, seperti air terjun putih dari belakang kepala hingga dada. Aroma melati menguat saat sedikit menggeliat, terima kasih untuk hiasan bunga besi yang menancap, kepalaku menjadi berat.

Senja ogah memamerkan warna oranyenya, berkat hujan yang datang bersama awan. Tapi, tak apalah. Kubuka pintu depan lapang-lapang. Dia pulang hari ini. Begitu isi SMS-nya. Singkat, padat, tergesa. Kental ciri khasnya.

Tak perlu dijemput, tak perlu disambut, begitu pesannya jauh-jauh hari sebelumnya. Jawab sederhana, ya, cukup membuatmu bahagia. Sweater wol rajut kelabu, syal yang berbunga -juga kelabu-, membungkusku. Berteman secangkir teh melati, menantimu.

Mobil berwarna hitam dengan bagian atas kotak lampu memasuki rumahku. Ah, itu pasti kau. Bergegas, aku ke dalam, ke luar sambil mengembangkan payung. Tapi, kau, dengan ranselmu yang hitam menerabas rintih hujan. Mobil hitam dengan kotak lampu yang kini menyala, memutar arah, meninggalkan halaman.

Kamu meringis, menampilkan senyum paling menawan, senyum seperti saat pertama kau berbaring di atas dadaku. Itu senyum yang membuat hatiku terikat, tertambat. Tangis saat kau pertama di dadaku ingin tertumpah saat ini. Tangis yang kusebut tangis terindah di dunia.

Tetes-tetes hujan seperti permata diterjang kilau lampu di atas rambutmu. Sungguh, kau menawan, kau rupawan. Jatuh cintaku padamu seperti saat pertama aku berjumpa denganmu. Sudah puluhan tahun, dan cintaku tidak berubah.

Sayang, kamu seperti angin. Pertama datang saat senja nyaris ditelan malam, langsung menubrukku dengan pelukan dan kecupan. Lalu, lari ke dalam, ke belakang, melempar semua barang, tanpa cuci kaki tangan, langsung melompat ke atas dipan.

Dalam lelap, kau tenggelam, dilarung mimpi. Saat nasi putih mengepul dan uap panas daging panggang dan sayur bayam menyeruap, kuguncangkan pundakmu. Kau terbangun, menggosok mata.

“Sudah malam, makan ya,” kataku.

“Aku mandi dulu,” jawabmu.

Dalam tempo kilat, kita berdua duduk di meja makan. Kamu makan lahap, tanpa menatap, kecuali ponsel layar sentuh yang menampilkan status dan obrolanmu. Aku bercerita, kamu tergelak tiba-tiba. Tidak ada yang lucu, kataku. Oh, ini status temanku, katamu. Kau dan aku lanjut makan, hingga ujung penghabisan, tiba-tiba kau berkata harus pergi.

“Ada teman yang harus kutemui malam ini,” katamu sambil bersiap.

“Di mana? Siapa? Pulang jam berapa?” tanyaku.

Kerling matamu menyiratkan beribu rahasia.

“Jangan tunggu aku pulang!” pintamu.

Akan kutunggu, Sayang, di depan pintu.

“Pintu, dikunci saja, aku bawa kunci serep,” kau meminta lagi.

Pintu selalu terbuka bagimu.

“Jangan khawatir, aku tidak akan aneh-aneh seperti dulu,” katamu.

Hati ini selalu memikirkanmu, setiap detik, setiap helaan nafas, entah kau ada atau tiada.

Punggungmu menjauh, lenyap ditelan kelam malam. Resah kembali menyesak, menyumpal rongga dada. Helaan nafas jadi penawar. Apa boleh buat, ini terjadi setiap kamu pulang. Sebuah sapaan, senyuman, pelukan, lalu hilang.

Kenangan pertama muncul kembali. Kamu berbaring di dadaku, kenyamanan pertama, saat kau dan aku melekat. Kenangan itu… Albumku bukan album biru. Merah menyala jadi warna kesukaanmu.

Tiap lembarnya ada kau dan aku, lalu ada satu dia. Dia yang telah pergi selalu menyedot tanya darimu. Tanya kubalas tanya. Kau protes tentang dia, aku balas tanya. Kau marah, aku balas tanya. Kau menghindar tentang dia, tentang tanya.

Hanya kau dan aku, Sayang, hanya ada kita, ada cinta.

Ternyata, dalam sunyi, tanya tetaplah tanya. Kau pergi mencari jawab sebuah tanya. Kau jelajahi benua, benua yang pernah diinjak dia. Dia tiada, jawabku selalu, saat kau pulang. Kau tak percaya, kau telusuri dan memilih mencari.

Kita punya cinta, apa kau cemburu? Tanyaku waktu itu.

Tidak, aku mau dia.

Kenapa?

Aku ingin wajah dia terpampang di hadapan kita. Aku ingin dia bersujud, maaf yang kutuntut harus keluar dari mulutnya.

Sudahlah, kita berdua, alangkah indahnya. Buat apa menggali luka?

Aku ingin dia, dia yang membuatku ada.

Sayangku, kemarilah, aku ingin mengecupmu. Biarkan dia tiada. Kau dan aku adalah sempurna.

Kau tepis, kau terluka, kau meraung, kau merana.

Sayangku.. Kau tidak pernah ingat saat pertama aku melihatmu dan kau melihatku. Kita saling jatuh cinta. Kita pernah jadi satu. Kau adalah aku, aku adalah kau. Ingatkah saat kau masih menggemari dadaku? Kau selalu mencari puting susu.

Masa lalu, puluhan tahun lalu, tegasmu.

Lalu, tatapanmu menyudutkanku, seorang renta yang gemetar setiap kaki melangkah. Rambut tipis hitam berseling keperakan yang memudarkan rona pesona. Keriput dan mata kuyu tak lagi memikatmu.

Kuno dan zadul adalah yang melingkupi tubuhku. Ya, aku reyot dimakan usia. Aku tetap cinta, tidakkah kau? Amarah dan kecewa kerap terlontar dari mulutmu, mulut yang pernah tampak sempurna dengan senyuman pengundang cinta.

Aku renta, masihkah kau cinta?

Langkah-langkah plok-plok-plok, jejakan kaki di atas tanah berlumpur menyentakkanku. Terjaga dari lamunan, bergegas kubuka pintu. Pukul 02.00 dini hari. Tubuhmu terhuyung berjalan ke arahku. Jalan yang tidak lurus, bergoyang. Rambut kemerahanmu jatuh ke bawah seperti surai.

Mata merah yang menyorot. Aroma tajam menusuk hidungku. Tawa yang galau. Tubuhmu yang tinggi hampir menenggelamkanku. Sekuat tenaga dengan mata setengah menyala, kuseret dirimu.

Nafas hampir seluruhnya terkikis. Kuraih pegangan pintu, terhuyung tubuhmu, terhempas pelan di atas dipan. Kau mendengus keras, meracau tak jelas. Seluruh sepatumu telah kulepas, silakan jika ingin menggelepar bebas.

Sayangku, betapa sedih aku melihatmu.

Apakah ini hujan? Bukan, hujan sedari sore tidak masuk ke dalam rumah. Hujan tetap menerjang luar. Hujan tidak jatuh dari mata ke pipi. Kuusap wajahku. Kubelai wajahnya, kusingkap rambutnya. Wajah ini tak pernah bosan membuatku jatuh cinta.

Pagi ada di hadapan. Ini waktuku merebahkan diri. Menutup pintu, aku berjalan ke dipan lain di seberang ruang tidurmu. Selimut tipis untuk malam yang dingin. Helaan nafas lagi, pereda nyeri yang sembunyi dalam sunyi.

Pagi akan datang, kututup mataku. Suara derit pintu mengembalikanku dari lelap. Aroma yang tajam, jalan yang terseok-seok, desahan parau, lalu tiba-tiba sesuatu berbaring di balik punggungku. Beratnya badan membuat kasur seolah melengkung.

Tangan yang kuat merengkuhku dari belakang. Nafas khas berdesir di sebelah telingaku. Rambutnya yang kemerahan menyatu dengan rambutku. Kakinya menindih kakiku. Dadanya mendesak punggungku. Selalu begini setiap kali dia pulang. Kelaki-lakian, tetapi manja.

“Ibu, aku sayang Ibu,” desahmu, anak perempuanku.

Bintaro, September 2016

Ilustrasi: YonK

Comments

comments