cerpen10102016

Hilang

Oleh Oktavia Marie

“Hah… Hah… Haaah.”

Nafasku hampir putus. Padahal baru tiga kali kukitari taman ini…. Atau malah lebih? Aku tak ingat. Hanya rasanya baru sebentar saja aku lari pagi, energiku terkuras habis-habisan.

Di bangku taman, aku duduk. Semilir angin sedikit membuat terhibur. Tumben, taman ini tidak begitu ramai. Tidak ada riuh anak-anak berlarian atau perempuan-perempuan bergosip di sudut taman. Sapaan ramah yang biasa kuterima, sekarang tidak ada.

Lebih baik aku pulang. Aku melangkah ke arah pintu keluar. Ada toilet, mampir dulu. Kubasuh wajahku dengan air dingin. Segar seketika menerpa. Rambutku yang keperakan ini kuelus agar rapi. Keluar dari toilet, tiba-tiba aku tidak tahu lagi di mana jalan keluar dari taman ini. Bagaimana ya? Coba kukitari tempat ini, pasti ada jalan keluar.

Nah, benar. Ada jalan bersemen yang menuju keluar. Kususuri jalan itu, ternyata ujungnya menghadapkanku pada persimpangan. Ada jalan ke kiri dan ke kanan, selain jalan utama yang cukup ramai di depanku.

Jalan mana yang harus kulewati? Ke kiri atau ke kanan,  sama-sama ke arah kompleks perumahan.

“Pak, mau tanya jalan,” sapaku pada penjual buah dengan gerobak dorong.

“Mau ke mana, Pak?” laki-laki itu melongok dari balik topi krem lebar.

“Ke…  ke…  arrggghh, rumah saya!”

“Rumah Bapak di mana, kompleks apa?”

“Rumah saya di…. Itu… itu… apa namanya?”

“Di mana, Pak?”

“Rumah saya pokoknya bertingkat, dekat perempatan dalam komplek”

“Iya, Pak. Tapi alamatnya mana?” pedagang buah itu tampak tak sabar.

Keringat dingin mengalir di tubuhku. Kepalaku pusing.

“Saya mau pulang…”

Aku memilih berlalu dengan gontai. Ke mana? Entah, yang penting jalan. Nanti juga ketemu. Seperti menemukan jalan keluar dari taman. Kupilih jalan ke kanan, karena arah kanan biasanya baik. Sesederhana itu.

Ternyata arah ke kanan lebih rumit. Rumah-rumah mirip. Berlantai dua, carport dengan mobil di depannya, dan rimbunnya sesemakan yang menyembul di atas tembok pagar. Jalanku berputar-putar. Lutut lama-lama mulai nyeri. Terik matahari juga seolah tambah menyengat.

Di salah satu ujung jalan, kulihat ada pintu pagar terbuka. Dari dalamnya ada laki-laki bertubuh kurus keluar sambil memegang selang. Aku mendekat, mungkin dia tahu rumahku.

Sebelum kutanya, laki-laki berkulit gelap itu menyapaku lebih dulu.

“Pak,” katanya sambil tersenyum dan seolah memamerkan deretan gigi-gigi yang putih. “Tumben pulang jogging-nya siang.”

Pulang jogging? Pulang? Berarti ini rumahku.

Dengan percaya diri, kumasuki pintu rumah berpagar hijau muda itu.Laki-laki berkulit hitam itu tidak komentar apa-apa. Berarti benar, ini rumahku.

Terang cahaya matahari, yang disambut redupnya ruangan rumah, membuat pandanganku berkunang-kunang.

Aku berjalan meraba raba, mencari sofa ruang tamu. Kuhempaskan tubuh ke bantalan empuk itu. Kunang-kunang di kepalaku masih bertahan. Rasa pusing dan nyeri menyerang kepalaku. Terdengar langkah kaki dari belakang.

“Makanya, kalau pulang jangan siang-siang,” terlontar suara perempuan sambil memberiku segelas air putih.

Aku tidak menjawab.

“Lama sekali jogging-mu, dari mana sih?”

“Tadinya mau pulang pagi, tapi aku tidak ingat rumah ini di mana,” jawabku.

“Lupa lagi??!!!” tanyanya sambil berkacak pinggang.

Aku mengangguk lemah.

“Tapi kamu ingat kan siapa aku?” tanyanya lagi.

Aku mengerutkan kening. Perempuan itu menatapku kesal. Wajahnya yang manis terasa akrab. Suaranya terdengar tak asing. Siapa ya? Ini kealpaanku yang kesekian kali dalam bulan ini.*

Bintaro, 10.10.2016

Ilustrasi: Etalase Bintaro/YonK

Comments

comments