14

Haruskah Membeli Oleh-Oleh?

Rasa-rasanya hampir di setiap perjalanan, oleh-oleh tak boleh dilupakan. Entah sekadar benda yang sangat ringan sampai yang berukuran besar. Baik atas inisiatif sendiri atau karena ada permintaan dari orang lain. Namun, sekarang banyak orang yang mempertanyakan penting tidaknya membawa oleh-oleh. Pasalnya, oleh-oleh sering menjadi masalah bagi orang yang bepergian ke luar kota.

Bukan sekadar buah tangan, oleh-oleh sering menjadi simbol kenang-kenangan atas perjalanan yang telah kita lalui. Melalui oleh-oleh pula, ada rasa ingin menyenangkan orang lain. Terutama keluarga dan orang-orang terdekat.

Tetapi dalam sudut pandang yang lain, oleh-oleh bukanlah kewajiban jika ternyata menyusahkan. Apalagi setelah diberikan, oleh-oleh tidak mempunyai nilai manfaat sama sekali. Buang-buang uang saja, begitu istilahnya.

Jadi, penting tidaknya membawakan oleh-oleh merupakan hak mutlak Anda, yang bepergian. Berikut gambaran beberapa kondisi yang bisa dianggap tidak ideal dalam perjalanan sehingga oleh-oleh perlu dikesampingkan.

Perjalanan singkat dan padat

Liburan tak selalu berlangsung dalam waktu yang panjang. Mungkin di sela-sela kesibukan, Anda menyempatkan diri sejenak untuk menikmati lingkungan sekitar. Trip yang singkat dan padat. Nah, waktu yang pendek tersebut rasanya hanya cukup untuk diri sendiri saja. Jadi tak ada waktu khusus untuk mencari oleh-oleh.

Koper penuh

Barang bawaan cukup banyak dan koper sudah penuh. Makin memberatkan jika harus ditambah dengan oleh-oleh. Apalagi jika memaksakan diri harus menyediakan tas tambahan. Atau oleh-oleh Anda berupa makanan yang harus dikemas khusus. Tentu ini lebih merepotkan lagi, terutama bila Anda pergi sendiri sehingga tidak ada orang yang membantu membawa barang. Abaikan saja urusan oleh-oleh, ketimbang Anda harus repot dan kelelahan dengan tentengan.

Tidak ada yang unik

Bisa saja tempat yang Anda kunjungi sangat eksotis, tapi tidak dengan suvenir khasnya. Mayoritas oleh-oleh yang dijajakan tidak berbeda jauh dari tempat-tempat wisata yang lain. Mungkin akan terasa biasa saja untuk orang yang akan kita beri nanti. Jadi rugi, kan, kalau terpaksa membeli?

Dana tipis

Dana terbatas adalah alasan klasik tapi harus diakui benar adanya. Mungkin untuk bisa berlibur saja kita harus menghemat sedemikian rupa. Jika masih ditambah anggaran untuk oleh-oleh tentu makin memberatkan. Bisa-bisa liburan yang harusnya menyenangkan, malah terasa menyiksa karena dihantui keharusan membawa buah tangan.

Nitip saja

Tidak jarang begitu mengetahui kita akan bepergian, ada saja yang mengatakan, “nitip oleh-oleh ya.” Padahal sejatinya, menitip adalah permintaan tolong untuk membelikan sesuatu. Peminta jasa harusnya memberikan uang sebelum jadwal keberangkatan atau segera membayar begitu barang sampai di tangan. Faktanya, banyak yang minta gratisan. Tentu ini merugikan kita yang sudah susah-susah menyediakan oleh-oleh secara khusus. Tak perlu direspon serius pula bila ada yang berkata demikian.

Kelebihan bagasi dan kena tarif bea cukai

Bagasi bisa berlebih hanya karena oleh-oleh. Mau tak mau kita harus mengeluarkan uang tambahan agar semuanya terangkut. Petugas bea dan cukai yang bertugas di bandara juga makin jeli memeriksa bawaan dari luar negeri. Barang yang dinilai mewah dan berjumlah tak wajar utuk konsumsi pribadi akan langsung dikenakan bea masuk dan pajak impor. Tak ringan, kadang nominalnya bisa mencapai belasan juta. Imbasnya, kita sendiri dibuat tekor gara-gara urusan oleh-oleh. (LAF)

 

Foto ilustrasi: Istimewa

Follow Instagram @ETALASEBINTARO

Comments

comments