03

Gaya Belajar yang Cocok untuk Generasi Sekarang

Perubahan makin kencang dari waktu ke waktu. Muncul banyak fenomena baru, misalnya jenis pekerjaan yang dulu tak terbayangkan. Mau tak mau generasi sekarang, atau generasi Z, harus siap menghadapinya. Tentu lewat pendidikan dan gaya belajar yang sesuai. Seperti apa?

Generasi sekarang yang lebih tenar dengan sebutan generasi Z atau anak zaman now memang tak bisa tinggal diam. Lembaga McKinsey meramalkan bahwa 2030-an Indonesia akan menduduki posisi ekonomi dunia ke-7. Mereka yang sekarang masih duduk di bangku sekolah yang akan menyambut posisi tersebut.

Jadi bayangkan saja. Jika dari sekarang kita tidak melakukan perubahan lewat pendidikan dan gaya belajar, bagaimana mungkin generasi sekarang bisa siap mengisinya. Apalagi karakter dan sifat yang ditunjukkan generasi Z unik, karena begitu lahir mereka sudah akrab dengan dunia digital. Mereka bahkan disebut-sebut lebih serba-bisa dibanding dengan generasi sebelumnya, yaitu generasi Y. Makin kompleks pula permasalahannya.

Namun tak perlu pesimis. Pendidikan harus tetap menjadi kunci sebagai jembatan pengantar anak-anak meraih masa depan yang lebih gemilang. Gerbang yang membuka akses lebih luas dalam setiap lini kehidupan.

Kritis

Tinggalkan gaya belajar yang mengutamakan hapalan. Sekarang saatnya beralih pada gaya yang membangun nalar dan kritis. Bangunkan rasa ingin tahu agar anak-anak menyelami ilmu lebih dalam. Ajak anak menjelajah dalam berbagai pengamatan, eksperimen, analisis, dan sebagainya.

Aktif

Bukan duduk diam sepanjang hari di bangku sekolah. Namun optimalkan semua indera dan fasilitas yang ada. Gunakan semua sarana sebagai media belajar. Jika dulu hanya laboratorium dan perpustakaan, sekarang jenisnya lebih beragam. Ada media sosial, alam terbuka, film, berbagai klub dan komunitas, magang di kantor tertentu, serta masih banyak lagi.

Kreatif

Gaya belajar yang kreatif akan merangsang anak terbiasa menghasilkan pemecahan masalah yang kreatif pula. Hal ini senada untuk menjawab bentuk perubahan yang kerap tak terduga. Tidak lagi terkejut, bingung, bahkan tak tahu apa-apa dalam merespon tiap perubahan. Namun menjadi pribadi yang siap dengan segala tantangan dan problema. Gaya belajar yang mampu menjawab kebutuhan di masa mendatang.

Komunikatif

Selain aktif, gaya belajar harus pula komunikatif. Langkah ini mesti disetujui oleh orang tua, sekolah, lingkungan, dan terutama anak sendiri. Semua pihak yang merasa punya sumbangsih mesti saling terbuka dan menerima. Tidak ada yang merasa paling benar, tapi mau saling mendengar kritik, saran, dan masukan.

Kolaboratif

Salah besar jika anak terus menerus dihadapkan pada iklim persaingan. Anak juga mesti mengenal kolaborasi dalam metode belajarnya. Mungkin sekarang bersama teman memulai dari proyek tugas sekolah. Di tahun-tahun depan akan muncul ide membangun bisnis bersama. Dengan demikian teman bukanlah kompetitor. Tapi rekan yang perlu digandeng untuk menyambut perubahan bersama-sama.

Keberagaman

Upayakan agar anak bisa belajar dari beragam sumber. Selain membawa aneka pengetahuan yang tentu saja bermanfaat, anak juga mengenal berbagai pribadi dan tradisi. Bekal besar untuk menumbuhkan tolerasi dan saling menghargai kepada yang berbeda. Sehingga anak tetap mengenal adab dan tata nilai pergaulan meski banyak perubahan yang telah terjadi. (LAF)

 

Foto ilustrasi: Istimewa

Follow Instagram @ETALASEBINTARO

Comments

comments