cerpen

First Date

Oleh: Oktavia Marie

Ini malam yang kutunggu. Akhirnya dia datang ke rumah. Malam panjang! Dating bok! Yayaya! Yeyeye! Jadi juga first date sama dia. MVP basket, pernah juara Olimpiade Matematika tingkat nasional. Jago ngelukis. Cowok paling ganteng se-kampus. Robby! Kabarnya tajir pula dia.

Aku menari-nari di antara tumpukan baju. Kejadian kemarin masih terasa sangat segar dalam ingatanku. Siang hari di kantin kampus, sendirian duduk di pojokan. Salsa dan Julia belum datang, katanya menyusul setelah ke toilet. Jadilah aku si penunggu meja kantin.

Sambil memainkan HP, kulihat satu sosok yang mengambil perhatianku. Robby! Sosok tinggi, putih, berbadan tegap itu masuk kantin bersama gengnya sambil tertawa-tawa. OMG, dia melirik ke arahku sambil tersenyum! Buru-buru kurapikan rambut, sambil balas tersenyum. Jantungku berdebar tidak karuan.

Segera kuketikkan message di grupku. Ada Robby di kantin. Dia kasih senyum ke aku!

Samperin, buruan! Salsa membalas. Salsa dan Julia sudah tahu, sejak lama aku naksir Robby.

Mereka berdua sudah punya pacar. Jadi, mereka sangat mendukung kalau aku bisa jadi pacar si Robby ganteng ini.

Duh, aku malu nih! Dia sama teman-temannya. Balasku.

Kuseruput jus alpukat sambil berusaha menenangkan diri… dan tentunya stalking si Robby. Cari media sosialnya. Path, Instagram, Facebook, atau apapun. Mana dia? Ku-scroll HP sambil melihat history dan foto-fotonya. 

Sambil menunduk melihat HP, kurasakan ada langkah kaki yang mendekat ke arahku. Aku menoleh dan terkesiap. Itu Robby! Aku gelagapan. Buru-buru kubalikkan HP. Jangan sampai dia tahu aku stalking dia.

“Hai, Angela!”

“Hai, Robby!”

“Sendirian ya?”

“Ah.. iya. Ehm.. Lagi nunggu teman-teman sih..”

“Kamu,  sabtu malam ada acara?”

“Oh.. ehm.. kosong kok.”

“Jalan yuk!”

Hah? Apa? Robby mengajakku jalan? Nge-date? Serius?

“O.. oke.”

“Boleh minta nomormu?”

Kami pun bertukar nomor telepon. Malam ini, ah bukan, sore ini Robby akan menjemputku jam 6. Tapiiiiii… hampir dua jam aku di depan lemari, mau pilih baju masih tidak ketemu. Akhirnya pilihanku jatuh pada turtleneck tanpa lengan warna polkadot merah dari Miss Selfridge dan rok mini kulit warna hitam keluaran terbaru Mango. High heels dan clutch merah hati dari Charles & Keith.

Jalan sama Robby harus berkelas dong… Sayangnya koleksiku baru mentok di sini. Kira-kira kalau jalan sama Robby, bisakah aku mendapat barang-barang yang branded ori dari Pacific Place atau minimal Plaza Indonesia?

Kububuhkan bedak Etude favoritku sambil tersenyum. Aku memang cantik alami, tak perlu kosmetik tebal, aku sudah keren. Pantaslah kalau Robby jalan sama aku. Kuoleskan lipstik Clinique. Cantik! Aku puas.

Tepat sekali saat itu HP-ku berbunyi. Robby sudah di depan rumah. Aku bersorak.

***

Apa-apaan ini?

Robby tersenyum dari balik helmnya. Iya, helm. Robby naik motor, Vespa, agak butut pula! Ke mana sedan sport yang biasa ia bawa ke kampus?

“Robby, kamu naik Vespa? Mobil yang biasa ke mana?” tanyaku bingung.

“Ooohhhh…. Itu mobilnya Oomku. Selama Oom studi di Inggris, mobilnya bisa kupinjam. Kebetulan Oom juga belum punya keluarga. Jadi, ya mobilnya sekalian dipinjamkan, sekalian aku rawat,” kata Robby. “Yuk, berangkat!”

“Robby, kita naik Uber ya, atau Grab, atau Go Car. Aku punya aplikasinya kok.”

“Kamu malu naik Vespa? Kalau mau naik Uber, Grab, atau Go Car, aku tidak ada budget. Kita naik Vespa saja ya, lebih romantis kok.”

Dengan menahan kesal, aku berusaha sabar. Aku tidak ingin first date ini terganggu gara-gara masalah Vespa. Aku membonceng dengan duduk menyamping. Duh, sangat tidak nyaman! Rasanya tubuh oleng tiap kali Robby berbelok. Belum lagi rok pendekku mudah tersingkap dan berkibar gara-gara kena angin. Pahaku jelas-jelas mudah terekspos. Alhasil, aku memegangi rok dan clutch dengan satu tangan. Satu tangan lagi berpegangan pada pinggang Robby. Cowok ini sendiri malah sibuk berceloteh seolah tanpa rasa bersalah.

“Robby, kita ke Grand Indo yuk!” ajakku.

“Grand Indonesia maksudnya? Wah, aku kurang biasa jalan di mal mahal…”

 Mahal? Batinku, Grand Indonesia bukan mal mahal itu. Biasa saja. Aku agak bingung dengan respon Robby. Bukannya dia tajir? “Biasanya kamu main ke mal mana?”

“Kuningan…..”

“Kuningan City, maksudmu?”

“Bukan… ITC Kuningan. Cari-cari HP second, buat ganti Nokia-ku. Udah sering mati ni HP.”

 Hah? Aku mengelus dada. Robby benar tajirkah?

“Kalau begitu, kita makan saja ya. Di Kitchenette ya…” pintaku.

“Apa? Di mana?”

“Kitchenette!” Aku hampir berteriak untuk mengalahkan suara angin.

“Ooo… apa itu ya? Aku ajak ke tempat makan enak. Kamu ikut aja. Enak kok!”

“Oke.”

Pikiranku rusuh. Robby tidak tahu Kitchenette? Masa sih? Perasaanku menjadi tidak enak. Benarlah. Kami melintasi Jalan Wachid Hasyim, menuju area Jalan Sabang. Vespa Robby menepi di pinggir jalan. Parkir di pinggir jalan. Pinggir jalan, bukan mal atau depan restoran. Setelah parkir, Robby menggandeng tanganku menuju satu warung kaki lima. Oh noooo!!!

“Kamu doyan nasi goreng kan?” tanyanya.

“Doyan sih….”

“Kalau begitu, kita makan nasi goreng kambing,” katanya mantap.

Nasi goreng kambing??!! Bukannya aku tidak doyan, tapi daging kambing kan bisa buat napas bau! Kok selera Robby macam ini sih? Dia sadar apa tidak kalau ini first date? Gila!

Parahnya lagi, Robby memilih tempat duduk lesehan. Alasannya, kursi penuh dan banyak sampah piring kotor di meja belum diangkat. Padahal, kalau dicari, pasti bisa diusahakan kursi. Tapi kulihat Robby terlihat menikmati suasana ini.

Duduk lesehan dengan rok mini memang tidak menyenangkan. Aku berusaha menarik-narik ujung rok agar tetap terlihat sopan. Tikarnya kasar. Ough! Bau apa ini? Air comberan!! Lokasi warung kaki lima ini dekat dengan got. Semua orang pastilah tahu, got dan selokan di Jakarta tidak ada yang bersih, semua bau tak sedap!

Meskipun nasi goreng kambing sudah siap di hadapan, selera makanku hilang. Aroma nasi goreng kambing ini sungguh menggoda. Sayangnya, aroma lezat nasi goreng kambing ini harus berperang dengan bau comberan di hidungku. Dengan terpaksa, aku makan sedikit-sedikit.

“Katanya doyan, kok cuma makan sedikit?” tanya Robby.

“Tadi sebelum berangkat, aku sudah makan duluan.” Yak, benar. Aku bohong. Aku cuma tidak bisa makan di tempat ini. Kotor, bau, dan sama sekali tidak berkelas! Belum lagi suasananya gerah. Tisu dalam tasku habis untuk mengelap keringat.

“Habis ini mau ke mana? Nonton yuk!” ajakku.

“Hayuk. Ada film bagus di Kineforum, dekat Taman Ismail Marzuki.”

“Jangan di situ deh… Kita nonton di Djakarta Theatre ya,” aku mencoba menawar. Kudengar tiket bioskop di Djakarta Theatre tidak semahal di Grand Indonesia.

“Mahal! Di Kineforum, kita bisa nonton gratis.”

“Mmm… Sepertinya aku pulang saja ya.”

“Loh, kenapa?” Robby bertanya bingung.

“Badanku tidak enak. Habis makan nasi goreng kambing, perutku jadi mual…”

“Oke. Kita pulang saja. Aku antar sampai rumah.”

“Jangan, Robby. Tidak usah. Aku bisa pulang sendiri. Pesan Uber atau Grab Car saja. Kalau naik motor, bisa-bisa aku tambah masuk angin…”

“Yakin tidak mau diantar?”

Aku menggeleng. “Di mobil, aku bisa istirahat. Naik sepeda motor kan susah tidurnya..”

Robby mengalah. Kami pun berpisah di belakang Sarinah.

Dalam perjalanan, aku mencibir. Robby… Mobil, punya oom-nya. HP masih Nokia, mau cari ganti yang second pula. Padahal, iPhone udah keluar seri 7. Makan, kaki lima. Dia pura-pura atau… Lalu aku teringat ketika dia enggan membayari ongkos pulangku. Bayar nasi goreng kambing pun masih kurang lima ribu perak. Belum lagi sisa nasi gorengku minta dibungkus, sayang kalau dibuang, katanya, bisa dimakan untuk nanti. Seketika aku merasa jijik.

***

“Sudah pulang, Bos? Cepat amat pacarannya!” seru laki-laki berseragam serba hitam ketika melihat Robby memasuki area teras setelah melintasi gerbang dan lorong taman sejauh sekitar 1 kilometer.

“Ah, payah, Pak Sunarko, yang ini sama saja.”

“Makanya, Bos. Kalau pacaran, pakai Alphard yang putih, biar kelihatan keren. Tambah ganteng! Jangan pakai Vespa saya.”

“Ogah! Dikira mau nikah nanti. Papi sudah balik dari New York?”*

Bintaro, musim penghujan di bulan September

Ilustrasi: Etalase Bintaro/YonK

Comments

comments