babyborn

Cinta Pertama

Oleh WILDA LESTARI

“Siapa cinta pertamamu?”

Wajah berbentuk hati dengan hidung mungil itu menatapku dengan penasaran. Angin sore memainkan rambutnya. Di tepi dahi, anak-anak rambutnya yang halus berjatuhan. Dengan cepat, ia merapikan rambut dengan jari-jarinya yang langsing. Cantik sekali. Seperti cinta pertamaku.

Haruskah aku memberi tahu cinta pertamaku padanya?

Lama tak menjawab, wajah manis itu merengut. Aku hanya tersenyum.

21 tahun yang lalu…

Ini pertama kalinya aku jatuh cinta. Pada pandangan pertama.

Cantik? Tidak. Justru dia tampak kuyu. Lesu. Tapi tatapan matanya langsung menjerat hatiku. Ada sesuatu yang memberitahu, aku, miliknya. Dia, milikku.

Wajah yang kuyu itu mempunyai senyum melengkung seperti bulan sabit. Seperti bulan sabit juga, senyum itu menerbitkan pendar sinar yang lembut. Hatiku tenang ketika akhirnya kami bertemu. Senyumannya membuatku yakin, aku berada di tangan orang yang tepat.

Helai-helai rambut yang ikal panjang berjatuhan. Beberapa mengenai pipiku ketika wajahnya mendekat pada wajahku. Helaian rambutnya seperti sutra, lembut menyapu. Tatapannya membuatku nyaman. Ada pancaran rasa yang mengalir darinya, mengatakan semua akan baik-baik saja. Ada dunia yang aman dalam pelukannya.

Kuperhatikan, matanya bersinar saat menatapku, tapi mengapa ada air menggenang di sana? Ternyata, itu air mata bahagia. Bahagia perempuan ini terbagi ketika kulitnya bersentuhan dengan kulitku.

Sekali lagi kami saling berhadapan. Sinar fajar dari belakang punggungnya mengubah wajah perempuan ini serupa malaikat.

Wajah inilah yang membuatku jatuh cinta. Jatuh cinta pertama kali. Pertama kali saat aku membuka mata. Pada hari kelahiranku, pada suatu pagi. Wajah yang kupanggil… Ibu.*

Bintaro, masa kecilku

Ilustrasi: Etalase Bintaro/YonK

Comments

comments