21

Cerdas Menyikapi Pertanyaan yang Mengarah pada Privasi

Kapan nikah, kapan punya anak? Menjawab pertanyaan yang mengarah pada privasi seperti itu bukan perkara gampang. Butuh siasat tersendiri menyikapi pertanyaan jenis ini.

Contohnya saja saat berkumpul dengan keluarga besar atau reuni dengan teman. Tiba-tiba saja melayang pertanyaan yang tak diduga sama sekali. Kapan lulus kuliah, kapan bekerja, kapan menikah, kapan punya anak, kapan anaknya nambah, kapan punya mobil, dan kapan-kapan yang lain. Atau dalam bentuk lain, misalnya mengapa dan apa. Sialnya lagi, pertanyaan yang diajukan didengar oleh banyak orang.

Wajar jika Anda bersikap kaget atau bingung. Bahkan terkadang emosi dan amarah ikut tersulut. Tak jarang pula perasaan berubah jadi sedih. Seolah kehidupan pribadi menjadi konsumsi publik. Serasa tak bebas menentukan keputusan yang terbaik untuk diri sendiri.

Tenang dan tetap kuasai diri. Syukuri apa yang kita miliki dan yakini bahwa kehidupan kita menarik sehingga orang lain pun selalu tertarik.

Senyum saja

Cukup jawab dengan senyuman. Langkah ini manjur untuk pertanyaan-pertanyaan yang mendadak dan mengganggu area privasi. Meski tidak menghasilkan jawaban yang jelas pada penanya dan masih menimbulkan tanda tanya, senyum menjadi tanda yang jelas bahwa kita tidak ingin menjawab. Selanjutnya serahkan saja pada pengaju tanya, senyum kita akan ditafsirkan seperti apa. Minimal lewat senyuman, penanya memahami ada hal-hal yang tidak ingin kita bahas secara terbuka.

Jawab sekadarnya

Jawab saja sekadarnya. Sebutan tenarnya, jawab sambil lalu. Gunakan kata-kata, “belum tahu, entah ya, terima kasih ya, doakan saja ya, mungkin tahun depan, dan ungkapan sejenis.” Umumnya setelah mengucapkan, penanya akan menyudahi percakapan dan tidak ingin bertanya lebih jauh.

Tanya balik

Cara lainnya adalah bertanya balik. Yakni ajukan pertanyaan yang sama dengan yang diarahkan pada kita. Bukan bermaksud menyerang, namun menanyakan balik dapat mengatasi kekikukan sendiri sebab tak ada stok jawaban yang dimiliki.

Terangkan bila dirasa perlu

Namun, apabila yang mengajukan pertanyaan adalah orang-orang terdekat yang Anda percaya, ada baiknya terangkan saja. Ceritakan dengan diawali pengantar atau alasan-alasan yang perlu diungkapkan. Bangun narasi mengapa Anda menunda atau belum melakukan sesuatu yang ingin diketahui penanya. Dari cerita Anda, mungkin akan bermunculan jalan keluar atau dukungan. Orang lain pun jadi lebih memahami dan menghargai.

Alihkan pembicaraan

Setelah Anda menjawab secukupnya, segera alihkan pembicaraan. Upaya untuk membentengi diri agar kita tidak terus diserang oleh pertanyaan-pertanyaan yang mengusik privasi. Anda bisa mengubah obrolan ke topik yang lebih umum dan tak membutuhkan keseganan untuk menjawab bagi masing-masing pihak. Sehingga relasi antar-sesama pun tetap terjaga.

Katakan tak suka

Tetapi adakalanya saat serbuan pertanyaan tak berhenti dan terus berulang, tunjukkan kalau Anda tak suka. Dalam bahasa yang santun, katakan bahwa pertanyaan sudah mengganggu dan tak bermanfaat sama sekali. Karena Anda juga berhak untuk mendapat pertanyaan yang lebih sehat, tidak mencampuri urusan pribadi, dan tidak intimidatif. (LAF)

 

Foto ilustrasi: Istimewa

Follow Instagram @ETALASEBINTARO

Comments

comments