cerpen

Bersama Bulan

Oleh Wilda Lestari

Bundaran bulan menggantung di awan kelam. Pendar cahayanya mematikan kedip bintang. Tidak seperti hari-hari kemarin, malam ini tanpa hujan. Baguslah! Aku bisa lebih bebas jalan-jalan.

Kuhitung detik demi detik, menunggu jarum panjang menunjuk rongga antara angka 1 dan 2. Tek… tek… tek… detak jarum panjang seolah bergema di kepalaku. Mata kupejamkan. Tarik nafas dan hembuskan. Sesaat, kurasakan diriku mengambang.

Udara sejuk malam menerpa wajah. Aku membuka mata dan melihat bentangan permukiman berlampu di bawah sana. Indah sekali saat malam. Di atas sini, aku selalu merasa lepas dan bebas. Aku bisa pergi ke mana pun aku mau. Seperti sekarang.

Ke mana ya? Satria. Ya. Ke rumah mantanku. Terserah mau dianggap stalking atau tidak. Atau kepo. Aku cuma ingin tahu, sedang apa ya dia sekarang?

Agak susah menemukan rumah Satria di tengah kegelapan. Semua atap rumah tampak sama. Tapi, aku harus fokus. Aku lalui ruas jalan yang kuhapali. Ke kiri, ke kanan. Ada patung dengan air mancur, lurus terus. Belok kiri sekali lagi. Rumah ketiga dari kanan.

Dari sela-sela tirai yang tersingkap kulihat Satria tengah duduk. Mungkinkah dia belajar. Aku mendekat. Ternyata Satria asyik bermain video game. Bukannya besok pagi ada ujian? Aku geleng-geleng kepala. Putus dengannya 3 bulan lalu tidak membuatku menyesal.

Ke mana lagi ya? O, iya. Rumah Tante Gita dekat dari sini. Kudengar Oom Reno sudah berangkat tugas dinas ke Perancis. Kira-kira Tante Gita lagi apa ya? Mungkin aku bisa menengoknya sebentar.

Rumah Tante Gita dilihat dari sudut manapun selalu unik. Dari atas, rumah Tante Gita berbentuk seperti bintang segi enam yang berada di tengah taman yang cukup luas. Hampir setiap sisi ruangannya adalah dinding kaca. Ketika siang aku mengunjunginya, rumah Tante Gita tampak terang benderang. Ketika malam dan lampu-lampu dinyalakan, rumahnya tampak bersinar-sinar. Seperti sekarang.

Aku mengitari beberapa sisi rumah. Kamar Tante Gita berada di salah satu sudut bintang di bagian samping. Terdengar suara-suara TV dari sana. Aku makin mendekat. Sosok Tante Gita tampak sedang menonton TV.

Lalu muncul satu sosok lagi. Siapa itu? Kudekatkan diriku pada dinding kaca. Satu sosok pria merangkul Tante Gita sambil tersenyum mesra. Entah apa yang diucapkan laki-laki itu, tapi Tante Gita tertawa-tawa sambil memukul-mukulkan kepalan tangannya ke laki-laki itu.

Laki-laki itu bukan Oom Reno.

Oom Reno berkulit gelap dan berbadan gempal. Laki-laki ini jauh lebih kurus dan berkulit terang.

Apa yang dia lakukan di rumah Tante Gita jam 12-an malam?

Aku tersentak ketika melihat tangan laki-laki itu menarik tangan Tante Gita. Wajah laki-laki itu mendekat ke wajah Tante Gita. Tante Gita tampak tidak berusaha melawan. Selanjutnya, aku membuang muka dan memilih pergi.

Shock, masih tidak percaya dengan kejadian tadi.

Tante Gita yang ramah dan murah senyum…

Oom Reno yang pendiam tetapi sangat baik…

Kenapa bisa begini?

Sinar purnama yang lembut menenangkanku perlahan. Kubiarkan diriku melayang dibawa hembusan angin. Untung saja angin ini membawaku ke arah dekat rumah.

Tiba-tiba kudengar suara jeritan dari bawah.

Di salah satu gang, di tengah perkampungan, suara jeritan itu tertahan. Kudekati satu rumah yang berlokasi di area dengan gang-gang sempit. Jeritan suara perempuan itu cukup keras, tetapi tidak ada orang lain yang terbangun.

Kucoba mencari celah di antara papan-papan seng yang menyelimuti rumahnya. Ada satu jendela kotak kecil yang terbuka, berlapis kaca buram. Dari situ, kulihat satu perempuan terduduk dan menangis di satu sudut ruangan.

Sesosok laki-laki tinggi besar mendekatinya. Wajahnya tidak tampak karena dia membelakangiku. Tangannya yang bertato menarik tangan si perempuan hingga perempuan itu tersentak. Laki-laki itu menunjuk-nunjuk satu arah. Si perempuan menggeleng-geleng dengan keras sambil terus menangis.

Tiba-tiba laki-laki itu mendorong si perempuan hingga perempuan berambut kusut itu jatuh terduduk ke arah yang tadi ditunjuk. Aku memekik perlahan. Laki-laki itu sejenak terdiam sambil melihat kiri-kanan.

Lalu ia mendekati si perempuan. Ia mengangkat kakinya yang terbungkus celana biru yang warnanya memudar. Oh, tidak. Ia akan menginjak si perempuan.

“Jangan!” teriakku.

Kupikir tidak ada yang bisa mendengar suaraku. Tapi laki-laki itu menurunkan kakinya dan tiba-tiba membalikkan badannya. Ia menatap lurus ke jendela, ke arahku. Ia berjalan mendekat. Aku terpaku. Bisakah dia melihatku?

Pandangannya tidak kunjung lepas. Jaraknya kian dekat dengan jendela. Ia menatap lurus ke arahku. Menembus tubuhku. Langkah kakinya bertambah lagi. Saatnya aku harus pergi.

“Lariiii!!!” pekikku dalam hati.

Aku melesat bersama angin. Seharusnya tidak ada yang bisa melihatku saat ini. Tetapi mengapa laki-laki berbadan besar itu sepertit tahu keberadaanku? Aku menoleh ke bawah. Laki-laki itu telah membuka jendelanya. Kepalanya melongok ke atas. Ke arah aku pergi. Sinar bulan menerangi sosok laki-laki itu. Sinar bulan pastilah juga menerangi tubuhku. Aku harus pergi. Bergegas kembali ke rumah.

Tidak berapa lama, rumahku terlihat. Satu jendelanya terbuka. Jendela kamarku. Kubiarkan diriku yang transparan melayang ke dalamnya. Di sana, di atas tempat tidur, kulihat tubuhku berbaring nyaman. Diriku yang transparan masuk ke dalam tubuhku.

Aku pun tersentak dan terbangun. Pada malam bulan purnama ini, jantungku berdebar sangat keras.

Bintaro, lepas tengah malam

Ilustrasi: Etalase Bintaro/YonK

Comments

comments