08-ok

Berkenalan dengan Museum Baru di Rangkasbitung

Kini Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, mempunyai tempat wisata baru, Museum Multatuli. Baru diresmikan 11 Februari lalu dan terbuka untuk umum. Sesuai namanya, museum ini untuk mengenang jasa tokoh Belanda bernama Douwes Dekker yang dahulu tinggal di daerah tersebut.

Pria yang lahir di Amsterdam, 2 Maret 1820 ini, memang tak bisa dilepaskan dari Kabupaten Lebak. Ia sempat menjadi asisten wedana dan menyaksikan langsung praktik-praktik pemerasan pada rakyat jelata.  Baik oleh pemerintah kolonial maupun bupati lokal sendiri.

Pengalaman pahit tersebut menggugah hatinya dan ia tuangkan dalam tulisan-tulisannya. Inilah yang kemudian menjadi alasan terbitnya sebuah novel di tahun 1860. Ia menggunakan nama samaran, Multatuli. Tak pernah ia sangka, novelnya dengan judul Max Havelaar akan menjadi sejarah. Dari yang awalnya berisi keinginan adanya sistem kolonialisme yang lebih baik, berubah jadi insipirasi bagi banyak pergerakan.

Buku dan novel Douwes Dekker yang terkenal.

Novel tersebut memunculkan kesadaran bahwa telah terjadi penindasan besar-besaran. Dan sejak itulah, berbagai gerakan perlawanan dan pemberontakan dimulai. Dari sebuah novel, berkembang jadi tuntutan keadilan untuk menghapus kolonialisme dari tanah air ini.

Bak bola salju yang terus menggelinding dan membesar tanpa kendali. Novel bersejarah lahir dari sebuah kabupaten, Lebak, dari tokoh Belanda yang peduli pada nasib bangsa ini.

Transportasi

Jika Anda ingin ikut menikmati jalan ceritanya, datang saja ke museum tersebut. Museum ini sangat mudah ditemukan, karena berlokasi tepat di depan alun-alun Rangkasbitung, ibukota Kabupaten Lebak.

Lorong memasuki museum.

Bagi Anda, warga Bintaro, Anda bisa menggunakan moda transportasi kereta api atau commuter line, dari stasiun yang terdekat dengan tempat tinggal Anda.

Bila Anda berangkat dari stasiun Jurangmangu, Anda akan disuguhi panorama pedesaan sampai stasiun terakhir di Rangkasbitung selama 1,5 jam. Selanjutnya Anda bisa melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki, naik angkot, atau becak. Jarak antara museum dengan stasiun tak terlalu jauh, kira-kira 1,5 kilometer.

Bangunan yang unik

Museum ini memiliki tiga bangunan utama, yaitu pendopo, museum, dan perpustakaan Saidjah Adinda. Saat sampai di gerbang depan, Anda akan disuguhi tiga patung besar. Patung Multatuli yang berukuran sangat besar sedang membaca buku, dan dua lainnya yang diambil dari tokoh novel, yaitu Saidjah dan Adinda. Hasil pahatan pematung Dolorosa Sinaga.

Tiga patung besar, Multatuli (sedang membaca), Saidjah, Adinda.

Bangunan utama museum itu sendiri, merupakan bekas kantor wedana yang kini telah jadi cagar budaya. Sebagai ganti rumah Multatuli yang telah dibongkar dan tak memungkinkan untuk dipugar kembali. Sedang perpustakaan Saidjah masih tertutup dan belum bisa diakses.

Isi museum

Harus diakui museum ini masih minim dengan artefak atau peninggalan pribadi Multatuli. Hanya terdapat satu buah tegel bekas rumahnya yang bisa diselamatkan. Itupun hasil sumbangan dari komunitas pencinta Indonesia di Belanda. Tetapi Anda bisa melihat hasil karya pertamanya yang dicetak dalam bahasa Prancis.

Belajar sejarah perjuangan rakyat Banten.

Ada pula gambar tokoh kemerdekaan lainnya, sedikit koleksi dari zaman dulu, dan kronologi perjuangan menuju kemerdekaan.

Aktivitas

Pendopo museum yang adem.

Tak hanya tentang Multatuli, pengunjung diajak mengenang sejarah yang telah tertoreh di Indonesia, Banten, dan khususnya Kabupaten Lebak. Kembali mengingat dinamika yang masih tersimpan rapat dari sebuah kabupaten kecil. Museum yang sengaja mengecam penindasan sekaligus merawat ingatan akan kebebasan. Tanpa perlu ada batasan ras dan penuh kemanusiaan. (LAF)

 

Foto-foto: Etalase Bintaro/Lies Afroniyati

Follow Instagram @ETALASEBINTARO

Comments

comments