26

Berapa Uang Jajan Anak yang Ideal?

Menentukan besarnya uang jajan anak bukan hal yang mudah. Kadang terbersit rasa khawatir akan disalahgunakan, namun juga orang tua dihinggapi perasaan bersalah bila anak keluar rumah tanpa membawa uang saku yang memadai. Memberikan bekal uang memang tak bisa sembarangan. Perlu perhitungan yang cermat.

Selain menyesuaikan dengan pemasukan rumah tangga, pertimbangkan kebutuhan anak saat menentukan besar kecilnya uang saku. Seperti kebutuhan makan, transport, membeli camilan, sesekali nongkrong dengan teman sebaya, untuk menabung, dan sebagainya. Tidak berlebihan, tapi juga tidak kurang sama sekali.

Faktanya, berdasarkan penelitian oleh Totally Awesome, selama 2016-2017, 65% anak Indonesia mendapatkan uang saku setiap hari. Digunakan untuk apa uang tersebut? Ternyata 76% nya dihabiskan untuk membeli makan. sedikit sekali yang sengaja disisakan untuk membeli buku atau diamalkan. Padahal dari uang saku pula, anak belajar mengatur perencanaan keuangan dengan sehat.

Sesuai umur

Tentunya semakin besar usia anak, semakin besar pula uang jajan yang harus diterima. Mengingat kebutuhan dan intensitas yang dilakukan di luar rumah juga berbeda. Anak pra-sekolah atau TK, bisa dikatakan tidak membutuhkan uang saku. Jam belajar yang pendek sudah cukup diimbangi dengan bekal makan dan minum dari rumah.

Berbeda dengan anak usia SD kelas akhir dan sekolah menengah, terlebih yang sudah mahasiswa. Jam pelajaran yang lebih panjang dan  tambahan ekstrakurikuler serta les, mau tak mau membuat anak jajan. Jadi, berikan uang saku yang kira-kira cukup untuk membeli makan siang dan transportasi tiap hari.

Kebutuhan dan keinginan

Memberikan uang saku juga tak bisa dilepaskan dari kebutuhan dan keinginan anak. Kebutuhan yang menyangkut kepentingannya selama di luar rumah, seperti biaya makan, uang transport, jajan snack, kongkow dengan teman sebaya, fotokopi, dan sebagainya. Sedang keinginan anak meliputi hasratnya memiliki atau meraih sesuatu. Misalnya dari uang jajan, anak akan berusaha menyisihkan untuk membeli mainan atau buku baru. Perhatikan hal-hal tersebut, agar dari uang saku, anak merasa tertampung aspirasinya.

Frekuensi berkala

Besar kecil nominal uang saku juga tergantung dari frekuensi pemberiannya. Harian, mingguan, atau bulanan. Tak jarang pula orang tua yang memberikan dwimingguan, dengan pengurangan saat weekend dan hari libur nasional. Tentunya jumlah yang diterima anak akan semakin besar saat skala berlaku juga lebih lama.

Bila anak belum mampu mengatur keuangan, sebaiknya Anda memberi uang saku dengan sistem harian. Setelah anak mampu mengatur keuangan, Anda bisa melatihnya dengan memberi uang saku secara mingguan. Perhatikan untuk apa saja uang tersebut digunakan.

Bia Anak dirasa mulai memiliki tanggung jawab soal keuangan, Anda bisa memberikan uang saku setiap dua minggu, atau bahkan bulanan.

Menaikkan angka

Tentu tak selamanya uang saku bertahan di angka yang tetap. Terkadang bisa naik tergantung kebutuhan dan situasi khusus, misalnya. Mungkin anak akan mendapat uang jajan tambahan saat berhasil mengukir prestasi di sekolah atau mau melakukan pekerjaan di rumah yang sudah menjadi kewajibannya. Bukan berniat memanjakan, tetapi untuk meraihnya anak pun harus usaha.

Manfaatnya  

Uang saku memang bekal untuk memenuhi kebutuhan di luar rumah. Namun, tak menutup kemungkinan uang saku bisa menjadi ladang anak untuk belajar mengatur keuangan dan beramal. Orang tua bisa menitipkan pesan-pesan tersebut. Terlebih dari uang saku, anak belajar empati dan berinvestasi. Bukan sebatas konsumen sejati dan tiada produksi sama sekali. (LAF)

 

Foto ilustrasi: Istimewa

Follow Instagram @ETALASEBINTARO

Comments

comments